Opini

Pengkhianatan Seorang Tumenggung

Pengkhianatan Seorang Tumenggung

Gufron Azis Fuadi

Oleh Gufron Azis Fuadi (Dewan Penasihat DPW PKS Lampung)

Saat VOC di bawah pimpinan Jan Pieterszoon Coen berhasil menaklukkan Jayakarta pada tahun 1619 dan menjadikannya Batavia dianggap sebagai ancaman besar terhadap martabat Jawa dan kekuasaan Kesultanan Mataram.

Terlebih melalui Batavia, VOC memaksakan monopoli perdagangan di wilayah nusantara serta sering menghalangi kapal-kapal dagang Mataram yang ingin berlayar ke Malaka.

Sultan Agung yang berambisi ingin menyatukan Pulau Jawa di bawah kekuasaan Mataram tentu tidak menerima kekuatan asing yang mendirikan pangkalan militer serta pusat kekuasaan di tanah Jawa.

Kemarahan Sultan Agung memuncak ketika VOC menyerang dan merusak kantor dagang Mataram di Jepara pada akhir tahun 1619.

Sejak itu gesekan antara Mataram dan VOC kerap terjadi. Sehingga akhirnya dilancarkanlah
serangan pertama Mataram ke Batavia dibawah pimpinan Tumenggung Baurekso pada akhir 1628, namun gagal karena kalah persenjataan, jarak tempuh yang terlalu jauh, serta wabah penyakit.

Serangan kedua (1629) dipersiapkan lebih matang dengan membangun lumbung-lumbung beras di Tegal, Cirebon, Kerawang dan Bekasi.

Namun, rencana ini kembali gagal setelah VOC mengetahui lokasi lumbung pangan tersebut dan membakarnya, sehingga pasukan Mataram kelaparan, kelelahan, dan terserang malaria.

Pertanyaannya, mengapa lumbung logistik perang bisa dengan mudah diketahui dan dihancurkan musuh?

Tentu karena ada sosok ring satu istana yang berkhianat. Dia, sosok pengkhianat itu adalah Tumenggung Endranata alias Ngabehi Mertajaya (nama aslinya).

Seorang pejabat tinggi di istana Mataram. Putra dari Tumenggung Wiraguna (abdi dalem senior kepercayaan Sultan Agung).

Sebagaimana ayahnya, dia juga menjadi orang kepercayaan Sultan Agung saat menaklukan Demak dan wilayah sekitarnya.

Tumenggung istana atau tumenggung lebet adalah jabatan tinggi setara dengan Menteri Kabinet, Kepala Staf Kepresidenan, Pangab atau Kapolri di masa sekarang.

Ini berbeda dengan tumenggung jaba (luar istana) yang biasanya dipakai untuk jabatan selevel bupati di bawah Adipati (gubernur atau Raja Muda). Minus Adipati Dolken.

Menurut penuturan sejarah, alasan utama Tumenggung Endranata berkhianat adalah demi keuntungan materi (uang) serta adanya ambisi dan intrik politik di dalam lingkaran dalam istana Mataram.

Hal ini sesuai dengan teori pengkhianatan dan penyadapan. Bahwa seseorang melakukan pengkhianatan dan atau penyadapan karena beberapa hal: money, ideologi, politik dan Blackmail atau pemerasan.

Bentuk pengkhianatan yang dilakukan oleh Tumenggung Endranata ini adalah menjual dengan membocorkan rencana dan strategi perang.

Ia membocorkan rencana militer Mataram yang akan menyerang Batavia serta lokasi lumbung-lumbung padi rahasia (logistik pasukan) milik Mataram kepada pihak VOC/Belanda.

Akibatnya, lumbung logistik tersebut dibakar Belanda dan ribuan prajurit Mataram gugur karena kelaparan. Serangan pun mengalami kegagalan.

Sebagian prajurit membuka perkampungan di Marunda, Kerawang dan Bekasi. Sebagian lainnya bergerak ke Selatan dan mendirikan pusat pertahanan di suatu kawasan yang sekarang dikenal sebagai Matraman Jakarta. Dari kata Mataraman.

Selain itu, ia juga memberikan informasi palsu dan mengadu domba. Satu diantaranya, ia menghasut Sultan Agung dengan menyebar kabar bohong bahwa Adipati Pragola II (penguasa Pati yang juga masih memiliki hubungan saudara) akan memberontak, sehingga memicu perang saudara.

Ketika akhirnya pengkhianatannya terbongkar maka Sultan Agung menjatuhkan hukuman mati yang sangat keras, di mana tubuhnya dimutilasi menjadi tiga bagian
1). Kepala ditaruh/dipancangkan di wilayah Jayakarta.
2). Kaki dibuang ke laut.
3). Badan/bagian tubuhnya dikuburkan di salah satu anak tangga menuju Kompleks Makam Pajimatan Imogiri.

Makamnya yang berada di anak tangga tersebut sengaja diletakkan agar terus-menerus terinjak oleh para peziarah yang naik ke makam raja-raja Mataram sebagai simbol penghinaan abadi bagi seorang pengkhianat.

Begitulah nasib pengkhianat dulu! Wallahu a’lam bi shawab. []

Bagikan :

Tinggalkan Komentar Anda