Opini

Bangga Dengan Dosa dan Kemarau Panjang

Bangga Dengan Dosa dan Kemarau Panjang

Gufron Azis Fuadi

Oleh Gufron Azis Fuadi, Dewan Penasihat DPW PKS Lampung

Beberapa waktu yang lalu ada yang tanya, mengapa dimusim kemarau panjang ini kok tidak banyak terdengar dilakukan shalat istisqa’?

Ya, karena shalat istisqa’ tidak sesederhana dengan mengumpulkan orang orang kesebuah lapangan kemudian melaksanakan shalat berjamaah, khutbah dan doa.

Sebab keberhasilan shalat istisqa’ sangat terkait dengan kesadaran dan pengakuan dosa yang sudah dilakukan dan kesungguhan dalam bertaubat memohon ampunan. Ini karena kemarau panjang bukan hanya karena dampak dari El Nino tapi juga pengrusakan ekosistem alam oleh tangan tangan manusia dan dosa dosa yang dilakukan. Bahkan dosa yang dibanggakan, seperti kata Ebiet g Ade dalam “Berita Kepada Kawan”:

“…Barangkali di sana ada jawabnya

Mengapa di tanahku terjadi bencana?

Mungkin Tuhan mulai bosan

Melihat tingkah kita

Yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa

Atau alam mulai enggan

Bersahabat dengan kita

Coba kita bertanya pada

Rumput yang bergoyang…”

Rasulullah SAW bersabda:

“…Dan tidaklah suatu kaum enggan mengeluarkan zakat harta mereka, melainkan Allah akan menahan tetesan hujan dari langit. Dan kalau bukan karena hewan-hewan ternak (yang bakal mati kelaparan/kehausan), niscaya mereka tidak akan pernah diberi hujan.”

(HR. Ibnu Majah, Hakim, dan Thabrani).

Diantara pelajaran penting dari hadits diatas adalah bahwa ketika manusia banyak berbuat dosa dan lalai dari syariat, manusia sebenarnya tidak berhak atas rahmat hujan. Namun, Allah tetap menurunkan hujan semata-mata karena belas kasihan-Nya kepada binatang-binatang yang tidak berdosa.

Dosa adalah dosa. Dan bangga dengan dosa yang diperbuatnya adalah dosa lain lagi. Sekecilnya bangga dengan dosanya adalah menceritakan perbuatan dosanya kepada orang lain.

Rasulullah Saw menegaskan bahwa setiap umatnya akan diampuni dosanya, kecuali orang-orang yang secara terang-terangan (mujahirin) membuka aibnya sendiri setelah Allah menutupi dosa tersebut di malam hari (HR. Bukhari & Muslim).

Berbicara tentang shalat istisqa’, saya teringat dengan perjalanan haji tahun 2006/07, haji terpanjang karena wukuf di Arafah tahun 2006 dan thawaf ifadhahnya tahun berikutnya. Saat ziarah ke Madinah bulan Januari masih musim dingin dan sering saya dan istri manfaatkan untuk berjalan kaki diwaktu Dhuha untuk melihat lihat kuburan Baqi’, pasar, bekas stasiun kereta api Istambul – Madinah dan lain lain. Pernah berhenti cukup lama di masjid Ghamamah. Sebuah masjid kecil yang sudah tidak dipakai dan dipenuhi oleh burung dara, karena jaraknya hanya sekitar 300 m dari masjid Nabawi.

Masjid ini dibangun oleh Umar bin Abdul Aziz sewaktu menjadi gubernur Madinah, untuk menjadi monumen penanda tempat pertama kali Rasulullah Saw dan para sahabat melaksanakan shalat istisqa’.

Kata Ghamamah dalam bahasa Arab berarti awan. Nama ini berasal dari peristiwa ketika Rasulullah Saw melaksanakan salat Istisqa’ (salat meminta hujan) di tempat ini saat Madinah dilanda kekeringan dan panas terik. Tiba-tiba muncul gumpalan awan mendung yang menaungi Rasulullah Saw dan para sahabat hingga turunlah hujan yang membawa rahmat.

Mungkin kita berpikir ya wajar saja bila pada shalat istisqa’ tersebut langsung turun hujan, karena kan ada Nabi Muhammad Saw yang doanya sangat mustajab. Dugaan itu tidak salah, tetapi yang lebih tepat adalah karena pata jamaah yang ikut shalat juga bersungguh sungguh dalam taubatnya. Karena bisa jadi meskipun ada Nabi yang mustajab doanya tetapi bila dalam jamaah shalat istisqa’ tersebut ada pendosa yang tidak merasa perlu beristighfar ayau mohon ampun atas dosanya, Allah juga akan menahan turunnya hujan. Peristiwa ini pernah dialami oleh Nabi Musa, sebagaimana diceritakan dalam kitab kitab klasik seperti Ihya ‘Ulumiddin oleh Imam Al-Ghazali dan tafsir-tafsir klasik seperti Tafsir Al-Qurthubi). Cerita ini menggambarkan bagaimana dosa satu orang bisa menghalangi berkah untuk seluruh kaum, namun taubat yang tulus dari satu orang tersebut justru langsung membuka pintu rahmat Allah.

Berikut adalah inti cerita dari kisah yang menyentuh hati tersebut:

  1. Kemarau Panjang Menimpa Bani Israil

Pada masa Nabi Musa AS, kaum Bani Israil dilanda musim kemarau dan kekeringan yang sangat hebat dalam waktu yang lama. Hewan-hewan ternak mulai mati kelaparan, ladang gersang, dan persediaan air habis. Melihat kondisi tersebut, puluhan ribu kaum Bani Israil mendatangi Nabi Musa AS (yang bergelar Kalimullah—orang yang bisa berbicara langsung dengan Allah). Mereka meminta beliau memimpin shalat Istisqa (shalat memohon hujan).

  1. Shalat Istisqa yang Tidak Dikabulkan

Nabi Musa AS bersama sekitar 70.000 umatnya (bayangkan 70.000 orang) pergi ke tanah lapang untuk berdoa dan bermunajat dengan khusyuk. Nabi Musa memohon kepada Allah seraya menyebutkan kondisi bayi yang kehausan, orang tua yang lemah, serta hewan-hewan yang kelaparan.

Namun, alih-alih mendung datang, langit justru menjadi semakin terik, awan sirna, dan cuaca semakin panas menyengat.

  1. Teguran Allah tentang Adanya Pendosa

Nabi Musa AS yang keheranan kemudian bertanya langsung kepada Allah: “Ya Rabb, Engkau selalu mengabulkan doaku. Mengapa hari ini hujan tidak kunjung turun?”

Allah Swt kemudian memberikan wahyu kepada Nabi Musa:

“Wahai Musa, hujan tidak akan turun karena di antara 70.000 orang yang berkumpul bersamamu saat ini, ada satu orang pria yang terus-menerus bermaksiat terang-terangan kepada-Ku selama 40 tahun tanpa pernah sekalipun beristighfar. Karena keburukan dosanyalah, Aku menahan hujan dari langit untuk kalian semua.”

Allah memerintahkan Nabi Musa untuk menyeru agar orang tersebut keluar dan meninggalkan kumpulan jemaah, sebab hujan baru akan turun jika pria itu pergi.

  1. Seruan Nabi Musa dan Dilema Sang Pendosa

Nabi Musa AS kemudian berdiri di depan umatnya dan berseru dengan lantang: “Wahai hamba yang bermaksiat kepada Allah selama 40 tahun! Keluarlah dari tengah-tengah kami! Karena dosamulah hujan ditahan, dan karena kamulah hari ini kami kekeringan!”

Mendengar seruan tersebut, pria pendosa yang berada di dalam kerumunan langsung gemetar ketakutan. Ia melihat ke kiri dan ke kanan, namun tidak ada satu pun orang yang bergerak maju. Ia sadar sepenuhnya bahwa orang yang dimaksud oleh Nabi Musa adalah dirinya sendiri.

Saat itu, sang pendosa dihadapkan pada pilihan yang sangat berat:

Jika ia maju dan keluar dari kerumunan, aibnya akan terbongkar di hadapan 70.000 orang dan ia akan dipermalukan seumur hidup.

Tetapi jika ia tetap bertahan di tempat, seluruh kaumnya (termasuk anak-anak dan hewan) akan mati kekeringan karena dirinya.

  1. Taubat Rahasia di Balik Baju

Dalam keadaan terjepit dan penuh penyesalan, pria tersebut menarik kepalanya ke dalam jubahnya agar tidak ada orang yang melihat wajahnya yang menangis. Ia menunduk dan berdoa dalam hati dengan ketulusan yang luar biasa:

“Ya Allah, aku telah bermaksiat kepada-Mu selama 40 tahun dan Engkau selalu menutupi aibku. Hari ini aku datang kepada-Mu dengan ketaatan, maka ampunilah aku. Ya Allah, jangan permalukan aku di hadapan kaumku hari ini…”

  1. Hujan Turun Deras Secara Tiba-Tiba

Belum sempat air matanya kering dan belum sempat ia melangkah keluar dari kerumunan, tiba-tiba awan hitam bergumpal di langit, petir menggelegar, dan hujan turun dengan sangat derasnya membasahi bumi.

Nabi Musa AS terkejut dan kembali bertanya kepada Allah: “Ya Allah, Engkau menurunkan hujan kepada kami, padahal tidak ada satu pun orang yang keluar dari kerumunan ini untuk mengaku?”

Allah SWT berfirman:

“Wahai Musa, Aku menurunkan hujan kepada kalian justru karena orang yang sama yang membuat-Ku menahan hujan tadi. Dia kini telah bertaubat dan Aku telah menerima taubatnya.”

Mendengar hal itu, Nabi Musa penasaran dan berkata: “Ya Allah, tunjukkanlah kepadaku siapa orang itu, agar aku bisa ikut gembira dan menyapanya.”

Allah SWT menjawab dengan kalimat yang sangat indah:

“Wahai Musa, ketika dia bermaksiat kepada-Ku selama 40 tahun, Aku selalu menyembunyikan aibnya dan tidak mempermalukannya. Apakah sekarang, setelah dia bertaubat dan kembali menaati-Ku, Aku akan membuka aibnya sendiri?”

Diantara asmaul husna adalah As Sattar. Yaitu Allah memiliki sifat As-Sattar (Maha Menutupi aib) dan menyukai hamba-hamba-Nya yang menutupi kesalahan saudaranya.

Rasulullah Saw menegaskan bahwa setiap umatnya akan diampuni dosanya, kecuali orang-orang yang secara terang-terangan (mujahirin) membuka aibnya sendiri setelah Allah menutupi dosa tersebut di malam hari (HR. Bukhari & Muslim).

Hujan adalah makhluk Allah. Dia lah yang mengaturnya.

“Maka ingatlah ketika Allah berfirman:

“(Dialah) yang menjadikan bagimu bumi (sebagai) hamparan dan langit sebagai atap, dan Dialah yang menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan (hujan) itu buah-buahan sebagai rezeki untuk kamu. Oleh karena itu, janganlah kamu mengadakan tandingan-tandingan bagi Allah (jangan syirik), padahal kamu mengetahui.” (QS Al-Baqarah: 22)

Wallahu a’lam bi shawab. []

Bagikan :

Tinggalkan Komentar Anda