Opini

Memaknai Sumpah Pemuda melalui Pendidikan dan Transformasi Digital

Memaknai Sumpah Pemuda melalui Pendidikan dan Transformasi Digital

Bayu Saputra

Oleh Bayu Saputra, Dosen FKIP Unila

Setiap 28 Oktober, kita mengenang Sumpah Pemuda sebagai tonggak penting perjalanan bangsa Indonesia. Pada 1928, para pemuda dari berbagai latar belakang menyatukan tekad untuk membangun Indonesia sebagai satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa.

Kini, hampir satu abad kemudian, semangat persatuan itu perlu terus diterjemahkan dalam bentuk pengabdian yang sesuai dengan tantangan zaman. Tema Hari Sumpah Pemuda ke-98 tahun 2026 yaitu “Patriotik, Gigih, Berempati: Pemuda untuk Indonesia”.

Tema ini mengingatkan kita bahwa cinta tanah air tidak cukup diwujudkan melalui simbol dan seremoni. Patriotisme harus hadir dalam tindakan, kegigihan harus terlihat dalam proses berkarya, dan empati harus diwujudkan melalui kepedulian yang menghasilkan manfaat bagi sesama.

Sebagai pendidik, saya memaknai semangat tersebut melalui ruang kelas, ruang penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Saya percaya, kontribusi untuk bangsa tidak selalu harus dimulai dari panggung besar.

Namun melalui ruang kuliah, sekolah, komunitas guru, hingga ruang-ruang organisasi bersama mahasiswa dan masyarakat.

Pendidikan sebagai jalan pengabdian. Bagi saya, menjadi pendidik bukan sekadar menjalankan tugas mengajar dan menyelesaikan kewajiban akademik.

Ada tanggung jawab yang lebih luas, yakni memastikan bahwa ilmu pengetahuan yang dimiliki dapat memberikan manfaat bagi kehidupan masyarakat.

Salah satu ruang pengabdian itu adalah mendampingi kepala sekolah dan guru dalam memahami transformasi pendidikan. Dalam berbagai pelatihan, saya berupaya mengajak para pendidik untuk tidak hanya mengenal teknologi, tetapi juga membangun budaya inovasi, memperkuat kolaborasi, dan meningkatkan mutu sekolah secara bersama-sama.

Transformasi sekolah tidak cukup ditandai dengan banyaknya perangkat digital yang digunakan. Perubahan yang lebih mendasar terjadi ketika kepala sekolah dan guru berani mengevaluasi praktik pembelajaran, terbuka terhadap gagasan baru, serta menjadikan kebutuhan peserta didik sebagai dasar pengambilan keputusan.

Kolaborasi menjadi bagian penting dalam membangun perubahan, sekolah tidak dapat bekerja sendiri dalam menghadapi perubahan zaman. Perguruan tinggi perlu hadir sebagai mitra yang membantu mengembangkan kapasitas pendidik, mempertemukan pengetahuan dengan persoalan nyata, dan mendorong lahirnya inovasi yang sesuai dengan kebutuhan sekolah.

Bagi saya, keberhasilan pelatihan bukan semata-mata ketika kegiatan selesai dilaksanakan. Keberhasilan yang sesungguhnya adalah ketika pengetahuan yang diperoleh diterapkan, praktik pendidikan menjadi lebih baik, dan peserta didik mendapatkan manfaatnya.

Melawan hoaks, memperkuat ketahanan masyarakat. Tantangan pendidikan saat ini tidak dapat dilepaskan dari perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Teknologi membuka peluang besar untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, tetapi juga menghadirkan persoalan serius ketika digunakan untuk menghasilkan atau menyebarkan informasi palsu. Pengalaman tersebut mendorong saya bersama tim dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung untuk memperluas pengabdian melalui penguatan literasi digital masyarakat.

Pada 1 Agustus 2026, kami berkolaborasi dengan Persatuan Guru Republik Inddonesia (PGRI) dan Masyarakat Antifitnah Indonesia (Mafindo) Wilayah Lampung menyelenggarakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat di UPTD SDN Mandalasari, Kecamatan Mataram Baru, Kabupaten Lampung Timur.

Kegiatan ini mengangkat tema “Optimalisasi Penggunaan Artificial Intelligence (AI) dalam Meningkatkan Kewaspadaan dan Ketahanan Masyarakat terhadap Penyebaran Disinformasi”.

Kegiatan yang melibatkan para kepala sekolah dan guru dari berbagai jenjang pendidikan tersebut berangkat dari persoalan yang semakin dekat dengan kehidupan masyarakat: informasi palsu yang semakin meyakinkan karena dapat memanfaatkan teknologi AI.

Dalam situasi seperti ini, kemampuan menggunakan teknologi saja tidak cukup. Masyarakat juga perlu memiliki kemampuan memeriksa sumber informasi, mengenali kemungkinan manipulasi gambar atau suara, dan memastikan kebenaran suatu kabar sebelum menyebarkannya.

Bagi saya, pengabdian tersebut bukan hanya tentang mengenalkan teknologi kepada guru. Lebih jauh, kegiatan ini merupakan upaya memperkuat ketahanan informasi melalui pendidikan. Guru memiliki posisi strategis karena pengetahuan yang diperoleh dapat diteruskan kepada peserta didik, keluarga, dan lingkungan masyarakat.

AI harus ditempatkan sebagai alat bantu, bukan sebagai pengganti nalar kritis. Informasi yang dihasilkan atau ditemukan melalui teknologi tetap perlu diverifikasi. Dengan demikian, kemajuan teknologi dapat berjalan seiring dengan tanggung jawab, etika, dan kepedulian sosial.

Saya melihat kegiatan semacam ini sebagai salah satu bentuk patriotisme masa kini. Menjaga bangsa tidak hanya berarti mempertahankan wilayah, tetapi juga membangun masyarakat yang cerdas, tidak mudah terprovokasi, dan mampu menjaga kualitas ruang informasi bersama.

Membina mahasiswa, menumbuhkan generasi yang berdaya. Ruang pengabdian lainnya hadir melalui pembinaan mahasiswa.

Saya meyakini bahwa mahasiswa bukan hanya individu yang sedang menempuh pendidikan tinggi, melainkan generasi yang perlu dipersiapkan agar mampu mengambil peran dalam kehidupan masyarakat. Dalam proses pembinaan, saya terus mendorong mahasiswa untuk berani mencoba, mengikuti kompetisi, mengembangkan gagasan, dan memperluas pengalaman.

Sebagian mahasiswa yang saya dampingi telah meraih prestasi dalam kompetisi tingkat nasional maupun ajang internasional, sementara sebagian lainnya masih menjalani proses pembinaan untuk mencapai capaian terbaiknya.

Bidang yang mereka tekuni pun beragam, mulai dari inovasi dan action research, kegiatan keagamaan, hingga pertukaran mahasiswa internasional. Keragaman tersebut menunjukkan bahwa ruang tumbuh mahasiswa tidak hanya berada di dalam kelas.

Mereka perlu memperoleh kesempatan untuk mengembangkan kemampuan, memperluas wawasan, dan belajar bekerja sama dengan orang-orang yang memiliki pengalaman berbeda.

Namun, saya memandang prestasi bukan semata-mata tentang kemenangan atau penghargaan. Prestasi juga merupakan proses pembentukan karakter.

Mahasiswa belajar mengelola waktu, menghadapi kegagalan, menerima masukan, membangun kepercayaan diri, dan bertanggung jawab terhadap pilihan yang diambil.

Karena itu, tugas pembina bukan sekadar mengarahkan mahasiswa agar memperoleh gelar juara. Tugas yang tidak kalah penting adalah menjaga semangat mereka, membantu mengenali potensi, dan memastikan bahwa pengalaman yang diperoleh dapat menjadi bekal untuk kehidupan setelah lulus.

Perhatian terhadap kelulusan tepat waktu juga merupakan bagian dari tanggung jawab tersebut. Mahasiswa perlu didampingi agar mampu menyelesaikan studi dengan baik sehingga dapat segera mengembangkan kompetensi dan berkontribusi melalui profesi masing-masing.

Dalam kegiatan pengabdian yang melibatkan mahasiswa, saya juga berupaya menumbuhkan pemahaman bahwa ilmu pengetahuan seharusnya tidak berhenti untuk kepentingan diri sendiri. Mahasiswa perlu belajar melihat persoalan di sekitarnya, memahami kebutuhan masyarakat, dan menggunakan kemampuan yang dimiliki untuk menghasilkan manfaat.

Bagi saya, inilah salah satu makna penting mempersiapkan generasi muda: bukan hanya membuat mereka unggul secara akademik, tetapi juga menumbuhkan kesadaran untuk berkontribusi bagi sesama.

Dari pembinaan menuju gerakan kolaborasi. Pengalaman mendampingi guru, kepala sekolah, dan mahasiswa mengajarkan bahwa perubahan tidak dapat dibangun melalui kerja individual semata.

Dibutuhkan ekosistem yang mendukung, ruang kolaborasi yang terbuka, dan keberanian untuk mencoba pendekatan baru. Karena itu, pengabdian perlu dikembangkan secara berkelanjutan.

Pada 2027, salah satu arah yang ingin saya dorong bersama mahasiswa adalah memperluas keterlibatan mereka dalam program-program kompetitif yang menghubungkan gagasan, inovasi, dan kebutuhan masyarakat. Program Kreativitas Mahasiswa (PKM), Lomba Inovasi Digital Mahasiswa (LIDM), serta Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW) dapat menjadi ruang untuk mengembangkan potensi tersebut.

Melalui PKM, mahasiswa dapat belajar merumuskan gagasan dan menghasilkan karya yang relevan. Melalui LIDM, mereka dapat mengembangkan inovasi digital. Sementara melalui P2MW, mahasiswa berkesempatan membangun kemampuan kewirausahaan dan menguji gagasan usaha yang berpotensi memberikan nilai tambah.

Program-program tersebut tentu membutuhkan persiapan, pendampingan, kerja sama tim, serta komitmen mahasiswa.

Karena itu, langkah ke depan bukan hanya mendorong mereka untuk mengikuti kompetisi, melainkan membangun budaya akademik yang mendorong keberanian berinovasi, kemampuan berkolaborasi, dan orientasi pada penyelesaian masalah.

Saya ingin agar mahasiswa memandang kompetisi bukan sekadar perlombaan untuk mendapatkan penghargaan, tetapi juga kesempatan belajar menghasilkan sesuatu yang berguna. Gagasan yang baik perlu diuji, dikembangkan, dan diarahkan agar memiliki manfaat yang lebih luas.

Dengan pendekatan tersebut, kampus dapat menjadi tempat tumbuhnya generasi muda yang tidak hanya siap menghadapi persaingan, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap persoalan bangsa.

Patriotik, gigih, dan berempati dalam tindakan. Pada akhirnya, tema Hari Sumpah Pemuda tahun ini mengajak kita menghubungkan nilai kebangsaan dengan tindakan sehari-hari.

Patriotik berarti menjadikan profesi dan kemampuan sebagai jalan untuk berkontribusi bagi Indonesia. Gigih berarti tetap berusaha memperbaiki keadaan meskipun perubahan membutuhkan waktu.

Berempati berarti memastikan bahwa kemajuan yang dibangun tidak meninggalkan mereka yang membutuhkan dukungan.

Sebagai dosen, saya menyadari bahwa dampak pengabdian tidak selalu terlihat seketika. Sebuah pelatihan mungkin baru memberikan hasil ketika guru menerapkan pengetahuan di sekolahnya.

Pembinaan mahasiswa mungkin baru menunjukkan dampak beberapa tahun kemudian ketika mereka menjadi pendidik, peneliti, wirausahawan, atau profesional yang memberikan manfaat bagi masyarakat.

Kesadaran itu membuat saya memandang pengabdian sebagai perjalanan panjang, bukan sekadar rangkaian kegiatan yang selesai setelah laporan disusun.

Ada tanggung jawab untuk terus belajar, memperbaiki pendekatan, dan memastikan bahwa pengetahuan yang dimiliki semakin dekat dengan kebutuhan masyarakat.

Saya juga meyakini bahwa ukuran keberhasilan seorang akademisi tidak hanya terletak pada gelar, jabatan, atau publikasi ilmiah. Keberhasilan itu juga tercermin dari guru yang semakin berdaya, sekolah yang semakin terbuka terhadap inovasi, mahasiswa yang berani mengembangkan potensi, dan masyarakat yang semakin kritis dalam menghadapi informasi. Hari Sumpah Pemuda ke-98 menjadi pengingat bahwa membangun Indonesia merupakan pekerjaan bersama.

Setiap profesi memiliki ruang pengabdian, dan setiap kontribusi yang dilakukan dengan kesungguhan dapat menjadi bagian dari perubahan yang lebih besar.

Saya ingin terus mengambil bagian dalam perjalanan tersebut melalui pendidikan, inovasi, pembinaan generasi muda, dan pengabdian kepada masyarakat.

Tidak harus selalu melalui langkah besar, tetapi melalui kerja yang konsisten, kolaboratif, dan berorientasi pada manfaat.

Sebab, semangat Sumpah Pemuda tidak cukup diwariskan sebagai ingatan sejarah. Semangat itu harus hidup dalam cara kita bekerja, mendidik, berkarya, dan memperlakukan sesama.

Dari ruang kuliah, untuk masyarakat. Dari inovasi, untuk keberdayaan. Dari pengabdian, untuk Indonesia.

Selamat Hari Sumpah Pemuda ke-98. Mari menjadi pribadi yang patriotik dalam tujuan, gigih dalam perjuangan, dan berempati dalam pengabdian, demi masa depan masyarakat, nusa, dan bangsa. []

Bagikan :

Tinggalkan Komentar Anda