Edwin Hanibal. | Dokumentasi

MEDIO 2008. Sejak jam sembilan pagi lebih sedikit saya sudah di Sekretariat Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bandar Lampung di Jalan Dokter Harun II, Kotabaru, Tanjungkarang Timur. Saya memang terbiasa datang sekitaran jam segitu. Posisi saya kala itu di AJI sebagai sekretaris.
Saya mendampingi ketua Juwendra Asdiansyah yang juga mentor jurnalistik saya. Kami berdua terpilih pada konferensi AJI Kota Bandar Lampung untuk periode 2007 sampai dengan 2010.
Tak lama kemudian, sebuah mobil berhenti di depan sekretariat itu. Seorang laki-laki turun dari mobil. Ia mengendarai sendiri kendaraan beroda empat itu. Laki-laki itu Edwin Hanibal, ketua KPU Lampung.
“Assalamualaikum.'”
“Waalaikumussalam.” jawab saya.
Saya sekadar tahu dengan beliau lantaran tidak ada interaksi khusus dengannya. Ia pun hakulyakin tak mengenal saya.
“Ini ada undangan buat AJI. Hadir ya,” kata Edwin Hanibal.
“Nganter sendiri, Bang. Enggak minta staf aja,” kata saya.
“Enggak apa-apa. Sekalian lewat juga.”
Ia kemudian pamit.
Saya meletakkan surat itu di meja. Kalau Bang Juwe, sapaan akrab Juwendra Ardiansyah, sudah datang, akan saya berikan.
Saya salut juga dengan beliau. Untuk urusan mengantar surat saja ia kerjakan sendiri meski saya yakin banyak staf di KPU yang bisa dimintai tolong. Tapi ya itu tadi jawabannya: sekalian lewat.
Saya memang tahu Bang Edwin berkarib dengan beberapa senior saya di AJI. Misalnya dengan Mas Oyos Saroso HN yang mantan ketua. Termasuk juga dengan beberapa senior saya lainnya, seperti Mas Budisantoso Budiman, wartawan Antara, dan Bang Firman Seponada yang juga eks anggota KPU Lampung.
Jauh sebelum itu saya juga pernah berinteraksi dengan Bang Edwin sekitar tahun 2002 kala saya masih bekerja sebagai editor buku di Komite Anti-Korupsi (Koak).
Bang Edwin yang waktu itu memimpin LBH Bandar Lampung memang berkarib dengan jejaring gerakan masyarakat sipil di Lampung.
Suatu waktu beberapa aktivis prodemokrasi, dosen, dan politikus di Lampung mendapat undangan lokakarya antikorupsi di Jakarta. Belasan orang berangkat.
Ada Dedy Mawardi, SN Laila, Idhan Januwardana, Aryanto, Ahmad Yulden Erwin, Marselina, Armen Yasir, Wahyu Saongko, Agus Sahlan Mahbub, Efan Tolani, dan Abdul Hakim. Saya nyempil di antara rombongan. Paling junior dan enggak punya pengalaman apa-apa. Di antara kami ada pula Edwin Hanibal.
Sebelum berangkat kami kumpul dulu di Rumah Makan Begadang II. Makan siang kemudian dilanjutkan ngobrol dan bicara soal aspirasi Lampung pada lokakarya nasional antikorupsi di Jakarta yang diadakan Kemitraan.
Habis makan saya dengar apa saja yang mereka obrolkan. Berat sangat. Tapi saya paksakan juga menyimak dan mencatat di notes. Kemampuan saya kala itu hanya 1: saya bisa menulis opini. Siapa tahu rangkuman dari gagasan mereka bisa saya bikin dalam tulisan.
Edwin Hanibal turut memberikan beberapa masukan apa saja yang hendak disampaikan di forum nasional itu. Yang lain juga menanggapi. Kesan saya kepada semua yang hadir siang itu sangat baik. Wabilkhusus kepada Bang Edwin Hanibal.
Saat tadi malam mendengar kabar beliau meninggal, saya mendoakan beliau khusnul khatimah. Dan segala amal salehnya diterima Allah swt. Alllahummagh firlahu warhamhu waafihi wa’fuanhu. [Adian Saputra]
