Bandar Lampung

Mayoritas Penghuninya Pasien Kanker, Ini Syarat dan Cara Menginap Gratis di Rumah Singgah Pasien Bandar Lampung

Mayoritas Penghuninya Pasien Kanker, Ini Syarat dan Cara Menginap Gratis di Rumah Singgah Pasien Bandar Lampung

Mirham Yulianto. | Najwa

Wartalampung.id, Bandar Lampung – Rumah singgah pasien milik Yayasan Baitulmal (YBM) Perusahaan Listrik Negara (PLN) di Kelurahan Surabaya, Bandar Lampung, memberikan tempat tinggal, makan, dan antar-jemput gratis bagi pasien dari luar daerah.

Pasien yang berobat di rumah sakit rujukan wajib memenuhi syarat dan melalui seleksi di masjid rumah sakit tersebut.

Rumah Singgah Pasien (RSP) merupakan inisiatif YBM PLN yang selama ini dikelola Lembaga Amil Zakat Nasional (Laznas) Inisiatif Zakat Indonesia (IZI) Lampung.

Sejak 2018, layanan ini dibuka bagi masyarakat Provinsi Lampung. Pasien tidak dipungut biaya, termasuk untuk layanan kebersihan dan konsumsi.

Pengurus rumah singgah, Mirham Yulianto, mengatakan penerima harus muslim dan termasuk delapan golongan penerima zakat (asnaf), salah satunya fakir dan miskin.

Syaratnya meliputi KTP, kartu keluarga, dan BPJS Kesehatan kelas 3 atau Kartu Indonesia Sehat (KIS).

“Kalau sudah dapat KIS, pemerintah sudah menyaring yang membutuhkan,” kata Mirham saat ditemui di lokasi, Selasa (6/10/2026).

Pemilik KIS tidak perlu melampirkan surat keterangan tidak mampu.

“Kalau sudah kelas 3, otomatis kami terima,” ujarnya.

Seleksi diawali pendaftaran di masjid Rumah Sakit Umum Abdul Moeloek. Pasien diwawancarai dan mengisi formulir kelayakan dari rumah sakit.

Pengurus masjid menentukan kelayakan, lalu menghubungi pengurus rumah singgah untuk menjemput pasien. Pasien dengan penyakit tidak menular dapat diterima.

Rumah singgah dibutuhkan karena pasien kanker harus menjalani pengobatan, termasuk penyinaran, hampir setiap hari selama sekitar sebulan. Jarak dari daerah sangat jauh.

Kalianda sekitar dua jam, Way Kanan lima sampai enam jam, dan Pesisir Barat enam sampai tujuh jam.

Antrean rumah sakit juga panjang. Penyinaran dibagi tiga sesi, yaitu pagi, siang, dan sore.

“Satu sesi pasien sinar saja bisa 40,” kata Mirham.

Pasien yang mendaftar sekarang bisa dipanggil sekitar tiga bulan kemudian.

Jenis kanker terbanyak berbeda menurut jenis kelamin.

“Kalau perempuan kanker serviks, kalau laki-laki nasofaring,” ujarnya.

Rumah singgah menargetkan sekitar 1.000 pasien per tahun atau sekitar 115 pasien per bulan.

“Kami mengejar seribu pasien dalam satu tahun,” kata dia.

Tahun lalu target sekitar 900-an terlampaui hingga lebih dari 1.000 pasien.

Jumlah turun menjadi 30 sampai 40 pasien per bulan saat Ramadan.

“Kalau bulan puasa, rumah sakit pun sepi,” ujarnya.

Pasien non-muslim tetap dibantu atas dasar kemanusiaan, tetapi hanya sementara, sekitar tiga hari.

“Kami hanya membantu sementara,” kata Mirham.

Pengurus juga mengadakan pengajian sepekan sekali dan mewajibkan penghuni perempuan berkerudung. [Najwa Kamila Faradisa]

Bagikan :

Tinggalkan Komentar Anda