Lisnur berbaring di tempat tidur RSP YBM PLN IZI Lampung. | Putu
Wartalampung.id, Bandar Lampung – Perjuangan melawan penyakit kanker serviks membutuhkan daya tahan fisik dan mental yang tidak sedikit, baik bagi pasien maupun pendampingnya.
Hal inilah yang sedang dijalani oleh Lisnur (57), seorang pasien asal Pesisir Barat yang kini tengah berikhtiar memulihkan kondisinya di Bandar Lampung dengan didampingi oleh sang anak.
Gejala awal yang dialami Lisnur bermula pada awal tahun 2025 lalu. Saat itu, ia mengalami pendarahan terus-menerus layaknya menstruasi yang tidak kunjung berhenti.
Karena sempat belum ada keluhan rasa sakit yang berat, penanganan medis baru dilakukan sekitar pertengahan tahun usai muncul dampak ke organ ginjal.
Proses pengobatan panjang pun dimulai. Untuk tindakan radiasi atau terapi sinar, Lisnur dirujuk ke RSUD Abdul Moeloek, sebelum akhirnya melanjutkan perawatan dan evaluasi di RS Urip Sumoharjo.
Saat ini, Lisnur harus berjuang menghadapi efek samping pascaradiasi yang memengaruhi kondisi fisik dan sarafnya.
“Sekarang sedang penanganan untuk efek pascaradiasi. Ibu jadi susah jalan, pikun, dan sering ngompol. Kemarin baru selesai MRI, minggu depan rencananya mau USG abdomen untuk evaluasi kanker serviksnya, serta rujukan ke dokter tulang dan saraf untuk fisioterapi,” ujar anak Lisnur yang setia mendampinginya selama pengobatan.
Karena kondisi Lisnur yang sudah pikun dan mengalami keterbatasan fisik berat, seluruh aktivitas harian seperti mandi, shalat, hingga berdiri dari posisi duduk harus dibantu penuh oleh sang anak.
Guna menunjang keberlangsungan pengobatan yang memakan waktu lama, Lisnur dan anaknya menempati Rumah Singgah Pasien (RSP) YBM PLN-IZI Lampung secara bolak-balik sejak tahun lalu.
Informasi mengenai rumah singgah ini mereka dapatkan melalui pencarian mandiri, rekomendasi RSUD Abdul Moeloek, serta informasi dari sesama pasien.
Selama berada di rumah singgah, sang anak mengaku sangat terbantuan dengan fasilitas yang disediakan bagi para pasien luar daerah.
“Alhamdulillah, fasilitas di sini dibilang sangat memadai. Sangat membantu kami yang harus bolak-balik berobat jauh dari Pesisir Barat,” tuturnya.
Meski perjalanan medis yang dihadapi masih panjang dan membutuhkan kesabaran ekstra, keluarga terus menaruh harapan besar bagi kesembuhan Lisnur.
“Harapannya semoga Ibu bisa kembali normal dan sehat. Utama yang diharapkan sekarang sakit di badannya bisa hilang dan bisa beraktivitas kembali,” pungkas sang anak. [Putu Suati Kartika Dewi]

Tinggalkan Komentar Anda