Ade Sandra Dewi
Oleh Ade Sandra Dewi, Kandidat Doktor di Program Doktor Ilmu Ekonomi Ekonomi (PDIE) Universitas Lampung;Dosen Prodi Akuntansi FEB Universitas Sang Bumi Ruwa Jurai
Minuman bobba dan milk tea (thai tea) dan es teh manis serta donat adalah contoh minuman dan kudapan manis kegemaran anak-anak sampai orang dewasa di Indonesia saat ini. Tren dan gaya hidup menjadikan rasa manis tersebut menjadi favorit masyarakat Indonesia.
Tidak ada yang salah dengan rasa manis, namun ketika manis menjadi kebiasaan yang tak terukur, rasa manis tersebut diam-diam menyiapkan masalah kesehatan bagi anak-anak kita di masa depan. Kebiasaan anak-anak dibentuk di rumah dan untuk mengubahnya harus dari rumah masing-masing.
Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang menjangkau 70 juta warga sepanjang 2025 memberi kita cermin yang jujur. Hasilnya menunjukkan 1 dari 5 remaja peserta memiliki tekanan darah di atas normal, dan 1 dari 3 peserta dewasa mengalami obesitas sentral. Temuan ini adalah hadiah berharga yaitu kita kini tahu mulai dari mana harus mulai berbenah.
Sinyal serupa datang dari dunia anak. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mencatat prevalensi diabetes pada anak meningkat sekitar 70 kali lipat, dari 0,028 per 100.000 anak pada 2010 menjadi 2 per 100.000 pada 2023. Pola makan dan kurangnya aktivitas fisik disebut sebagai salah satu pemicu yang patut diwaspadai.
Padahal batasnya sederhana. Kementerian Kesehatan menganjurkan konsumsi gula tidak lebih dari 50 gram, atau sekitar 4 sendok makan, per orang per hari. Satu kemasan minuman manis berukuran 250 ml rata-rata sudah mengandung sekitar 22,8 gram gula, hampir separuh jatah harian kita.
Selera manis bukan bawaan lahir yang tak bisa diubah. Ia terbentuk dari kebiasaan seperti seberapa sering anak disuguhi minuman manis, apa yang tersedia di kulkas, dan apa yang dibeli orang tua saat berbelanja. Anak belajar terutama dengan meniru, bukan dari nasihat.
Oleh karena itu keluarga adalah ruang paling strategis untuk memulai perubahan. Aturan dan program pemerintah memberi arah, tetapi keputusan sehari-hari tetap terjadi di dapur dan meja makan. Satu gelas teh yang dikurangi gulanya setiap hari, bila dilakukan jutaan keluarga, akan menjadi gerakan kesehatan yang nyata.
Pemerintah juga sudah menyiapkan alat bantunya dimana sejak April 2026, Kemenkes meluncurkan label Nutri-Level berupa huruf A sampai D dengan kode warna pada minuman siap saji. BPOM menyusul dengan Peraturan BPOM Nomor 10 Tahun 2026 yang mewajibkan label serupa pada minuman kemasan, dengan masa transisi hingga 2028. Label ini akan bermanfaat penuh bila keluarga terbiasa membacanya.
4 Langkah Gerakan Kurangi Manis
Gerakan ini tidak menuntut perubahan drastis namun berupa langkah kecil yang dilakukan bersama-sama yaitu :
- Keluarga melek label gizi. Biasakan membaca label sebelum membeli, dan ajak anak ikut mencari huruf Nutri-Level di kemasan. Jadikan permainan di supermarket, mulai dari siapa yang menemukan minuman berlabel A atau B paling banyak. Posyandu, PKK, dan majelis taklim dapat menjadi tempat belajar membaca label bersama.
- Kantin sekolah sehat. Sekolah dapat bekerja sama dengan pengelola kantin untuk menyediakan air minum gratis yang mudah dijangkau, buah potong, dan jajanan rendah gula. Guru dan komite sekolah bisa memberi contoh dengan membawa botol air minum sendiri.
- Gerakan “Air Putih Dulu”. Tanamkan kebiasaan sederhana seperti setiap kali haus, minum air putih lebih dulu. Minuman manis tetap boleh, tetapi sebagai pilihan sesekali, bukan teman setiap makan. Orang tua dapat memulainya dengan menyajikan teh tawar atau air putih di meja makan.
- UMKM minuman menyediakan pilihan “kurang manis atau less sugar”. Pedagang es teh, kopi kekinian, dan jus dapat menawarkan tingkat kemanisan, misalnya normal, setengah manis, dan tanpa gula. Langkah ini tidak mengurangi pembeli namun justru menjadi nilai tambah bagi konsumen yang mulai peduli kesehatan. Asosiasi UMKM dan dinas terkait dapat memberi penghargaan bagi gerai yang ikut serta.
Manis secukupnya, sayang sepenuhnya
Dengan mengurangi gula bukan berarti mengurangi kasih saying ,namun merupakan cara terbaik dalam menyayangi anak adalah memastikan mereka tumbuh sehat dan terhindar dari penyakit yang kini datang di usia semakin muda.
Perubahan besar sering bermula dari hal kecil, seperti satu sendok gula yang tidak jadi dituang, satu botol air putih di tas sekolah, satu pertanyaan sederhana kepada penjual, “Bisa kurang manis atau less sugar ?”
Bila dimulai dari rumah, dirawat di sekolah, dan didukung pelaku usaha, langkah kecil ini akan menjadi kebiasaan satu generasi.
Generasi yang kelak memimpin Indonesia Emas 2045 sedang duduk di meja makan kita hari ini dan kewajiban kita mengisi gelas mereka dengan air putih yang segar dan menyehatkan. []
Sumber data:
- Temuan CKG 2025 (remaja tekanan darah tinggi, obesitas sentral dewasa): DDTCNews
- Diabetes anak naik 70 kali lipat (IDAI): Jawa Pos; Kebijakan Kesehatan Indonesia (Kompas)
- Batas gula 50 gram (4 sendok makan) per hari, Permenkes 30/2013: Kompas TV; Investortrust
- Minuman kemasan rata-rata 22,8 gram gula per 250 ml (ayosehat Kemenkes): Jawa Pos
- Label Nutri-Level, KMK HK.01.07/MENKES/301/2026: Bisnis; detikHealth
- Peraturan BPOM 10/2026 dan transisi hingga Juni 2028: Veritask; UKM Indonesia

Tinggalkan Komentar Anda