Bandar Lampung

Tim Pengabdian Unila Dampingi Guru SD di Metro Merancang Lesson Design Berbasis Deep Learning

Tim Pengabdian Unila Dampingi Guru SD di Metro Merancang Lesson Design Berbasis Deep Learning

Pengabdian Unila

Wartalampung.id, Metro – Peningkatan kualitas pendidikan tidak hanya bergantung pada ketersediaan sarana dan prasarana, tetapi juga pada kemampuan guru dalam merancang pengalaman belajar yang mampu melibatkan peserta didik secara aktif, bermakna, dan sesuai dengan kebutuhan mereka.

Di tengah perubahan paradigma pembelajaran, guru dituntut untuk tidak sekadar menyampaikan materi, tetapi mampu merancang proses belajar yang mendorong peserta didik memahami konsep secara mendalam, menghubungkan pembelajaran dengan kehidupan nyata, serta merefleksikan pengalaman belajarnya.

Kebutuhan tersebut menjadi perhatian dalam kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat Unggulan BLU Batch 2 Universitas Lampung melalui program “Pendampingan Guru SD di Kota Metro dalam Merancang Lesson Design Berbasis Deep Learning untuk Mendukung Pemerataan Pendidikan Berkualitas (SDGs 4)”.

Kegiatan ini dilaksanakan di SDN 5 Metro Selatan dan SDN 6 Metro Selatan, dengan tujuan memperkuat kemampuan guru dalam merancang lesson design yang berorientasi pada pembelajaran mendalam (deep learning).

Tim pengabdian dipimpin oleh Frida Destini, bersama anggota Ulfa Nurfitria Ardilla, Ulwan Syafrudin, Oktari Pradina Anggi, dan Hariyanto.

Ketua tim pengabdian, Frida Destini, menjelaskan bahwa pembelajaran mendalam bukan sekadar penggunaan metode atau teknologi tertentu, tetapi berkaitan dengan bagaimana guru merancang pengalaman belajar yang membuat peserta didik benar-benar memahami apa yang dipelajari.

“Pembelajaran mendalam mengajak kita melihat proses belajar secara lebih utuh. Anak tidak hanya dituntut mengetahui suatu materi, tetapi juga memahami maknanya, menghubungkannya dengan kehidupan, dan mampu merefleksikan apa yang sudah dipelajari,” jelas Frida Destini.

Menurutnya, peran guru dalam konteks tersebut sangat penting karena kualitas pembelajaran sangat dipengaruhi oleh bagaimana proses pembelajaran dirancang sejak awal.

Karena itu, pendampingan tidak hanya berfokus pada pemberian materi mengenai konsep deep learning, tetapi juga diarahkan pada proses perancangan lesson design yang dapat diterapkan secara nyata di kelas.

Dalam kegiatan tersebut, guru diajak untuk melihat kembali proses pembelajaran yang selama ini dilakukan, kemudian mengembangkan rancangan pembelajaran yang lebih berorientasi pada pengalaman peserta didik.

Salah satu perhatian utama dalam lesson design berbasis deep learning adalah bagaimana menghadirkan pembelajaran yang mindful, meaningful, dan joyful.
Pembelajaran mindful mendorong peserta didik untuk hadir secara sadar dalam proses belajar.

Pembelajaran meaningful membantu peserta didik menghubungkan materi dengan pengalaman dan kehidupan nyata. Sementara pembelajaran joyfulmenciptakan suasana belajar yang menyenangkan sehingga peserta didik dapat terlibat secara aktif tanpa kehilangan tujuan pembelajaran.

Dalam kesempatan tersebut, kepala sekolah menyampaikan apresiasi terhadap kegiatan pendampingan yang diberikan kepada para guru. Menurutnya, pendampingan semacam ini memberikan kesempatan kepada guru untuk memahami dan mempraktikkan secara langsung bagaimana merancang pembelajaran yang lebih sesuai dengan kebutuhan peserta didik.

“Kami sangat menyambut baik kegiatan pendampingan ini. Guru mendapatkan wawasan baru mengenai bagaimana merancang pembelajaran yang tidak hanya mengejar penyampaian materi, tetapi juga membuat anak lebih aktif, memahami apa yang dipelajari, dan merasa senang selama proses pembelajaran,” ungkap kepala sekolah.

Ia menambahkan bahwa penerapan pembelajaran mendalam menjadi hal yang penting karena guru perlu terus menyesuaikan strategi pembelajaran dengan perkembangan dan karakteristik peserta didik.

“Harapan kami, hasil pendampingan ini dapat diterapkan secara berkelanjutan dalam pembelajaran di sekolah. Guru tidak hanya mendapatkan teori, tetapi juga memiliki rancangan yang dapat langsung dikembangkan dan digunakan sesuai kondisi kelas masing-masing,” lanjutnya.

Dalam proses pendampingan, guru diberikan ruang untuk berdiskusi, mengidentifikasi kebutuhan peserta didik, menentukan tujuan pembelajaran, serta merancang aktivitas yang dapat mendorong keterlibatan dan pemahaman yang lebih mendalam.

Pendampingan juga menekankan pentingnya konteks lokal dan kondisi nyata kelas. Sebuah rancangan pembelajaran tidak harus sama antara satu sekolah dengan sekolah lainnya karena setiap sekolah memiliki karakteristik peserta didik, lingkungan, sumber daya, dan kebutuhan yang berbeda.

Dengan demikian, lesson design diposisikan sebagai rancangan yang fleksibel dan dapat dikembangkan sesuai dengan konteks masing-masing sekolah.
Ulwan Syafrudin turut memberikan penguatan bahwa transformasi pembelajaran perlu dimulai dari kebutuhan nyata guru dan peserta didik.

Menurutnya, guru perlu mendapatkan ruang untuk bereksperimen dan merefleksikan pembelajaran yang telah dilakukan. Melalui proses tersebut, guru dapat mengetahui bagian mana yang sudah efektif dan bagian mana yang masih perlu dikembangkan.

Sementara itu, Oktari Pradina Anggi, menekankan bahwa pembelajaran mendalam juga berkaitan dengan kemampuan guru dalam menciptakan interaksi belajar yang mendorong peserta didik untuk bertanya, berpikir, berdiskusi, mencoba, dan melakukan refleksi.

Pendekatan tersebut diharapkan dapat mengurangi pembelajaran yang hanya berorientasi pada penyelesaian materi dan mendorong terjadinya proses belajar yang lebih berpusat pada peserta didik.

Kegiatan pendampingan di SDN 5 Metro Selatan dan SDN 6 Metro Selatan juga menjadi bagian dari upaya memperkuat pemerataan kualitas pendidikan. Sekolah di daerah memiliki potensi yang sama untuk mengembangkan pembelajaran berkualitas apabila guru mendapatkan dukungan, pendampingan, dan kesempatan untuk terus meningkatkan kompetensinya.

Hal tersebut sejalan dengan Sustainable Development Goal 4 (SDGs 4) yang menekankan pentingnya pendidikan yang inklusif, berkualitas, dan memberikan kesempatan belajar yang setara bagi semua.

Melalui program ini, guru diharapkan tidak hanya memperoleh pengetahuan baru mengenai deep learning, tetapi juga memiliki produk nyata berupa rancangan lesson design yang dapat dikembangkan dan diterapkan dalam pembelajaran.

Tim pengabdian juga berharap proses pendampingan dapat menjadi awal dari budaya refleksi dan pengembangan profesional guru secara berkelanjutan. Guru tidak berhenti pada satu rancangan pembelajaran, tetapi terus melakukan perbaikan berdasarkan pengalaman dan respons peserta didik di kelas.

Pada akhirnya, pendidikan berkualitas tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak materi yang dapat disampaikan guru, tetapi juga oleh seberapa dalam peserta didik mengalami dan memahami proses belajarnya.

Melalui pendampingan lesson design berbasis deep learning, Universitas Lampung berupaya mendukung guru SD di Kota Metro untuk menghadirkan pembelajaran yang lebih mindful, meaningful, dan joyful—pembelajaran yang membuat peserta didik tidak hanya belajar untuk mengetahui, tetapi juga belajar untuk memahami, mengalami, dan memaknai.

Kegiatan ini diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata bagi penguatan kapasitas guru sekaligus mendukung terwujudnya pendidikan dasar yang semakin berkualitas, merata, dan relevan dengan kebutuhan peserta didik di masa kini. []

Bagikan :

Tinggalkan Komentar Anda