Pengabdian Unila
Wartalampung.id, Gedong Tataan — Pendidikan karakter menjadi salah satu fondasi penting dalam membentuk peserta didik yang tidak hanya memiliki kemampuan akademik, tetapi juga memiliki kebiasaan positif, tanggung jawab, kepedulian, dan kemampuan berinteraksi secara baik dengan lingkungan sekitarnya.
Di tengah perubahan karakteristik peserta didik dan perkembangan teknologi pembelajaran, guru dituntut untuk menghadirkan pendidikan karakter dengan pendekatan yang lebih menarik, kontekstual, dan dekat dengan kehidupan anak.
Media pembelajaran interaktif menjadi salah satu alternatif yang dapat digunakan untuk membantu guru mengintegrasikan nilai-nilai karakter ke dalam proses pembelajaran.
Hal tersebut menjadi fokus kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat Unggulan yang dilaksanakan oleh tim dari Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Lampung di SD Negeri 22 Gedong Tataan.
Kegiatan bertajuk “Pelatihan Penggunaan Media Pembelajaran Interaktif Berbasis 7KAIH bagi Guru untuk Pendidikan Karakter di Sekolah Dasar” tersebut dipimpin oleh Roy Kembar Habibi, bersama anggota tim Novia Fitri Istiawati, Deviyanti Pangestu, Siti Nuraini, Maya Adina Pratama, dan Yoga Fernando Rizqi.
Kegiatan ini dirancang untuk memberikan penguatan kepada guru dalam memanfaatkan media pembelajaran interaktif sebagai sarana untuk menanamkan dan membiasakan nilai-nilai karakter melalui proses pembelajaran di sekolah dasar.
Konsep 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (7 KAIH) menjadi salah satu landasan yang diperkenalkan dalam kegiatan tersebut. Tujuh kebiasaan positif tersebut diarahkan untuk mendukung pembentukan karakter anak melalui pembiasaan yang dilakukan secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari.
Ketua tim pengabdian, Roy Kembar Habibi, menjelaskan bahwa pendidikan karakter akan lebih mudah diterima peserta didik apabila nilai-nilai yang disampaikan tidak hanya berupa teori, tetapi dihadirkan melalui pengalaman belajar yang menarik dan dekat dengan kehidupan mereka.
“Pendidikan karakter tidak cukup hanya disampaikan melalui nasihat. Anak perlu melihat, mengalami, dan membiasakan nilai-nilai positif tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu, media pembelajaran interaktif dapat menjadi salah satu sarana untuk membuat pendidikan karakter lebih konkret dan menarik bagi peserta didik,” jelas Roy Kembar Habibi.
Menurutnya, guru memiliki posisi strategis dalam membangun kebiasaan positif peserta didik. Melalui pembelajaran yang dirancang secara kreatif, nilai-nilai karakter dapat diintegrasikan ke dalam berbagai mata pelajaran dan aktivitas pembelajaran tanpa harus selalu disampaikan sebagai materi yang berdiri sendiri.
Pelatihan ini memberikan kesempatan kepada guru untuk mengenal berbagai bentuk media pembelajaran interaktif yang dapat digunakan dalam pendidikan karakter.
Guru didorong untuk tidak hanya menjadi pengguna media, tetapi juga mampu memilih dan mengembangkan media yang sesuai dengan karakteristik peserta didik sekolah dasar.
Dalam kegiatan tersebut, guru juga diarahkan untuk menghubungkan penggunaan media pembelajaran dengan penerapan 7 KAIH dalam kehidupan peserta didik. Dengan demikian, pembelajaran diharapkan tidak berhenti pada pemahaman konsep, tetapi dapat mendorong terbentuknya kebiasaan positif.
Deviyanti Pangestu sebagai salah satu anggota tim, menekankan bahwa media interaktif dapat memberikan pengalaman belajar yang lebih aktif kepada peserta didik.
“Media pembelajaran interaktif memberikan ruang kepada anak untuk terlibat secara langsung dalam proses belajar. Ketika nilai karakter dikemas melalui aktivitas yang menarik, anak tidak hanya mendengar penjelasan guru, tetapi juga dapat belajar melalui pengalaman dan praktik,” ujarnya.
Sementara itu, Novia Fitri Istiawati, memberikan penguatan mengenai pentingnya mengintegrasikan pendidikan karakter dengan konteks kehidupan peserta didik. Menurutnya, pembentukan karakter akan lebih efektif apabila nilai yang diajarkan memiliki keterkaitan dengan lingkungan sosial dan keseharian anak.
Pendekatan tersebut membuat guru memiliki ruang untuk mengembangkan berbagai aktivitas pembelajaran yang mengajak peserta didik memahami makna kebiasaan positif secara nyata. Guru dapat mengaitkan materi pembelajaran dengan kebiasaan disiplin, tanggung jawab, kepedulian, kemandirian, interaksi sosial, serta nilai-nilai positif lainnya.
Pelatihan juga menjadi ruang bagi para guru untuk berdiskusi dan bertukar pengalaman mengenai tantangan pendidikan karakter di sekolah dasar. Setiap guru memiliki pengalaman dan karakteristik kelas yang berbeda sehingga strategi yang digunakan dalam membangun kebiasaan positif juga perlu disesuaikan dengan kondisi peserta didik.
Tim pengabdian menekankan bahwa keberhasilan pendidikan karakter tidak dapat dicapai melalui kegiatan yang bersifat sesaat. Diperlukan pembiasaan yang dilakukan secara konsisten serta dukungan dari seluruh warga sekolah dan keluarga.
Karena itu, penggunaan media pembelajaran interaktif berbasis 7 KAIH diharapkan dapat menjadi salah satu strategi yang mendukung guru dalam menciptakan pembelajaran yang menyenangkan sekaligus bermuatan karakter.
Kegiatan di SD Negeri 22 Gedong Tataan ini juga menjadi bentuk kontribusi perguruan tinggi dalam mendukung peningkatan kompetensi guru sekolah dasar. Melalui kegiatan pelatihan dan pendampingan, guru memperoleh kesempatan untuk memperluas wawasan mengenai inovasi pembelajaran sekaligus mengeksplorasi strategi yang dapat diterapkan di kelas.
Pada akhirnya, pendidikan karakter bukan sekadar tentang mengajarkan anak untuk mengetahui mana yang baik dan mana yang tidak baik. Pendidikan karakter merupakan proses membangun kebiasaan agar nilai-nilai positif tersebut tumbuh menjadi bagian dari perilaku anak.
Melalui pemanfaatan media pembelajaran interaktif berbasis 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, guru diharapkan semakin mampu menghadirkan pembelajaran yang menarik sekaligus membantu peserta didik membangun kebiasaan positif sejak dini.
Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat Unggulan Universitas Lampung di SD Negeri 22 Gedong Tataan tersebut diharapkan menjadi langkah nyata dalam memperkuat peran sekolah dasar sebagai ruang tumbuh bagi generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki karakter, kebiasaan positif, dan kesiapan menghadapi tantangan masa depan. []

Tinggalkan Komentar Anda