Puspa Arisanti. | Dokumentasi Pribadi

Wartalampung.id, Bandar Lampung – Namanya Puspa Arisanti. Ia lahir di Tanjungkarang, 6 Agustus 1977. Anak Mudjio dan Rumiati ini berprofesi sebagai bidan
Puspa menghabiskan masa kecil sampai dengan SMP di Bandar Lampung. ia mulai memasuki Sekolah Perawat Kesehatan (SPK) tahun 1993 dan lulus tahun 1996. Kemudian ia mengikuti Sekolah Program Pendidikan Bidan A pada SPK Depkes Tanjungkarang dan lulus tahun 1997.
Awal bekerja sebagai bidan desa PTT di daerah terpencil, Desa Wiralaga, Kecamatan Mesuji, Kabupaten Tulangbawang, dari 1997-2003.
Pada 2003 sampai akhir 2004, ia bertugas di Desa Kedatuan, Kecamatan Bekri, Lampung Tengah, Tahun 2005 sampai dengan sekarang ia bekerja sebagai bidan PNS di Puskesmas Rajabasa Indah, Bandar Lampung.
Ada kejadian traumatis yang ia alami tahun 2003. Puspa pernah jatuh dari motor ojek ketika akan berangkat pelatihan imunisasi. Ia mengalami trauma kepala ringan dengan 25 jahitan di kepala.
Tahun 2007 ia pernah menolong persalinan dengan kondisi bayi asfiksia berat. Syukurnya, bayi selamat.
Puspa juga punya beragam cerita selama masa pandemi covid-19 ini. Ia ketat menerapkan protokol kesehatan dengan memakai APD sesuai standar dan bekerja tambahan sebagai pemantau pasien yang terkonfirmasi covid-19 di wilayah kerjanya. Ia juga membantu pelaksanaan vaksinasi covid-19.
Awal bekerja sebagai bidan desa di daerah terpencil, banyak kendala yang ia ditemui. Terutama kondisi alam dan transportasi yang sangat susah. Kondisi tanah tanah gambut yang berlumpur ketika musim hujan tidak bisa dilalui kendaraan.
Di sana juga tidak ada sumber listrik PLN. Sumber air hanya mengandalkan air hujan. Perekonomian masyarakat yang masih rendah karena warganya merupakan transmigran yang baru di relokasi dari kampungnya sehingga belum memiliki penghasilan memadai dari lahan garapan.
Puspa pernah menangis kala berdinas di Mesuji. Ketika ia merujuk pasien yang akan melahirkan bayi kembar di kehamilan yang pertama, pasien dibawa dengan tandu naik getek lanjut dibawa dengan pikap up melalui jalan berlumpur dan berlubang.
Saat itu kesadaran pasien menurun. Sampai di tempat rujukan, langsung dilakukan tindakan. Tetapi, bayi tidak tertolong. Itu merupakan pengalaman pertama kali Puspa menolong persalinan yang bertujung kematian.
Namun, ia bersukacita kala sukses menolong persalinan dengan selamat walau dengan segala keterbatasan. [Kamila Rahma Dyanti, Siswi Kelas X SMA Islam Terpadu Daarul Ilmi]
