Opini

Pascaoperasi Katarak bagi Lansia, Kembali Mandiri Aktivitas Sehari-hari

Pascaoperasi Katarak bagi Lansia, Kembali Mandiri Aktivitas Sehari-hari

Ratna Anggraini

Ratna Anggraini KW, Mahasiswa Magister Keperawatan Universitas Muhammadiyah Pringsewu

Operasi katarak merupakan salah satu tindakan medis yang bertujuan memperbaiki penglihatan. Namun, bagi pasien lanjut usia, keberhasilan operasi tidak seharusnya hanya dinilai dari hasil pemeriksaan mata, tetapi juga dari kemampuan pasien kembali menjalani aktivitas sehari-hari secara aman dan mandiri.

Katarak merupakan kondisi ketika lensa mata menjadi keruh sehingga penglihatan terganggu. Kondisi ini dapat memengaruhi berbagai kegiatan sederhana, seperti membaca, mengenali wajah, berjalan, mengenakan pakaian, hingga melakukan aktivitas di rumah. Gangguan penglihatan juga dapat mengurangi rasa percaya diri dan meningkatkan ketergantungan lansia kepada orang lain.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), pelayanan operasi katarak yang berkualitas perlu memperhatikan keseluruhan proses perawatan, mulai dari sebelum operasi, selama tindakan, hingga setelah operasi. Hal ini menunjukkan bahwa pemulihan pasien perlu menjadi bagian penting dari pelayanan kesehatan.

Pascaoperasi

Setelah menjalani operasi katarak, kondisi setiap pasien dapat berbeda. Sebagian pasien dapat merasakan perbaikan penglihatan, sedangkan sebagian lainnya membutuhkan waktu untuk beradaptasi dan menjalani pemantauan lebih lanjut,

Pada lansia, kemampuan melakukan aktivitas sehari-hari atau activity of daily living (ADL) perlu mendapat perhatian. Aktivitas tersebut mencakup makan, berpakaian, mandi, berpindah tempat, menggunakan toilet, dan menjaga kebersihan diri.

Kemampuan melakukan aktivitas tersebut tidak hanya berkaitan dengan penglihatan. Kondisi fisik, keseimbangan tubuh, penyakit penyerta, fungsi kognitif, serta dukungan keluarga juga dapat memengaruhi tingkat kemandirian pasien.

Karena itu, pasien yang telah menjalani operasi tidak seharusnya langsung dianggap mampu melakukan seluruh aktivitas tanpa bantuan. Kebutuhan setiap lansia perlu dinilai secara individual oleh tenaga kesehatan.

Peran Perawat

Perawat memiliki peran penting dalam membantu pasien mempersiapkan diri menghadapi masa pemulihan. Edukasi mengenai penggunaan obat tetes mata sesuai instruksi dokter, perlindungan mata, jadwal kontrol, dan tanda bahaya perlu diberikan dengan bahasa yang mudah dipahami pasien dan keluarga.

Perawat juga dapat membantu mengidentifikasi kebutuhan bantuan pasien dalam melakukan aktivitas sehari-hari, memberikan edukasi pencegahan jatuh, serta mendorong pasien berpartisipasi dalam perawatan dirinya sesuai kondisi dan instruksi medis.

Pendekatan ini sejalan dengan konsep perawatan diri dalam teori keperawatan Dorothea Orem. Dalam teori tersebut, perawat membantu ketika kemampuan seseorang untuk merawat dirinya belum mencukupi, sekaligus mendukung peningkatan kemandirian sesuai kemampuan pasien.

Pendampingan bukan berarti mengambil alih seluruh kegiatan pasien. Sebaliknya, pasien perlu diberi kesempatan melakukan aktivitas yang aman sesuai kemampuan dan anjuran tenaga kesehatan.

Keluarga Mitra Pemulihan

Keluarga juga memiliki peran yang tidak kalah penting. Pendampingan saat kontrol, pengingat penggunaan obat, penataan rumah agar tidak licin, pencahayaan yang memadai, serta penyingkiran benda yang berisiko menyebabkan tersandung dapat membantu menciptakan lingkungan yang lebih aman.

Namun, keluarga perlu memahami bahwa membantu lansia bukan berarti membatasi seluruh aktivitasnya. Bantuan sebaiknya diberikan sesuai kebutuhan, sambil tetap menghormati kemampuan dan harga diri pasien.

Pasien juga perlu mengikuti petunjuk dokter mengenai aktivitas yang harus dihindari selama pemulihan. Apabila muncul nyeri mata yang meningkat, mata semakin merah, penglihatan menurun, atau keluar cairan yang tidak biasa, pasien perlu segera mendapatkan pemeriksaan medis.

Pelayanan pascaoperasi sebaiknya tidak berhenti pada tindakan medis dan pemberian resep. Edukasi yang jelas, penilaian kebutuhan pasien, keterlibatan keluarga, dan tindak lanjut yang sesuai dapat menjadi bagian dari upaya meningkatkan kualitas pelayanan.

Rumah sakit dan tenaga keperawatan perlu terus memperhatikan bagaimana pasien menjalani masa pemulihan setelah pulang. Kemampuan melakukan aktivitas sehari-hari dapat menjadi salah satu aspek yang dinilai untuk memahami kebutuhan pasien secara lebih menyeluruh.

Bagi mahasiswa keperawatan, persoalan ini juga membuka peluang untuk melakukan penelitian mengenai faktor-faktor yang berhubungan dengan kemampuan ADL pada lansia setelah operasi katarak.

Hasil penelitian yang dilakukan secara tepat diharapkan dapat membantu mengidentifikasi kebutuhan pasien dan menjadi bahan pertimbangan dalam pengembangan edukasi keperawatan.

Pada akhirnya, keberhasilan pelayanan katarak tidak hanya berkaitan dengan upaya memperbaiki penglihatan. Pasien lansia juga membutuhkan dukungan agar dapat menjalani aktivitas sehari-hari dengan aman, mempertahankan harga diri, dan mencapai kemandirian semaksimal mungkin sesuai kondisi kesehatannya. []

Bagikan :

Tinggalkan Komentar Anda