Kafe Dapur Difabel. | Dokumentasi Dapur Difabel

Wartalampung.id, Bandar Lampung – Keterbatasan tidak menghalangi anak-anak Dapur Difabel untuk bisa bekerja. Di bawah naungan Dapur Difabel, anak-anak dengan penyandang tunarungu dibina dan dididik untuk dapat mandiri.
Dapur Difabel sendiri merupakan kafe atau restoran yang dikelola oleh anak-anak penyandang disabilitas tunarungu dengan didampingi oleh Yayasan Langit Sapta milik Sapta Rini.
Mereka dididik dan dibina untuk dapat bekerja dan kuat secara mental.
Salah seorang relawan kemanusiaan yang membantu proses didirikannya Dapur Difabel menjelaskan tujuan Dapur Difabel adalah mendidik bukan mempekerjakan.
“Pendiri tergerak hatinya untuk memberikan sebuah wadah tempat belajar untuk teman teman tuli agar dapat berkreasi dan mengembangkan potensinya, dengan tujuan teman teman tuli siap bekerja dan kuat secara mental,” tutur Ok Yore Prawi Egasi, relawan kemanusiaan, kepada wartalampung.id melalui pesan WhatsApp, Selasa, 21/9/2021.
Grand Opening Dapur Difabel diadakan pada 8 Maret 2021, Dapur Difabel menyajikan berbagai hidangan lezat dari minuman, makanan ringan hingga makanan berat.
Yore juga menjelaskan, anak-anak yang bekerja juga didampingi dan diawasi dengan baik.
“Mereka ada pendamping di sana, jadi ada yang mengawasi. Sebanyak 90 persen anak difabel yang bekerja,” jelas Yore.
Dapur Difabel beralamat di Jalan Pangeran Diponegoro, Gotong Royong, Kecamatan Tanjungkarang Pusat, Bandar Lampung, tepat di samping Kantor PLN.
Yore juga memberi motivasi untuk masyarakat agar punya semangat juang yang sama dengan yang dimiliki oleh anak-anak penyandang disabilitas.
“Seharusnya menjadi acuan untuk kita semua untuk punya semangat juang yang lebih dalam bekerja. Lihat mereka saja enggak memiliki batas kok untuk bekerja. Mereka semangat dan ceria. Hal itu seharusnya dapat membuat kita jadi lebih bersyukur dan bersemangat menjalani hari,” tutup Yore. [Fadilla Qamilia, Mahasiswi Komunikasi FISIP UBL]
