Keluarga Muhammad Suhada dan Nurhayati. | Dokumentasi

Wartalampung.id, Bandar Lampung – Seperti mimpi. Dua kata inilah yang terucap dari Muhammad Suhada dan Nurhayati saat diminta untuk bercerita hal yang tak biasa pada diri buah hati mereka.
Niat hati mau wawancara tentang peringatan Hari Anak Nasional yang akan jatuh tanggal 23 Juli mendatang, ternyata obrolannya justru melebar kemana-mana. “Enggak masalah, Mbak,” ucap Suhada.
Tak pernah terpikirkan sebelumnya olehnya bahwa satu dari empat anaknya akan menjadi tunagrahita.
“Memiliki anak tunagrahita adalah anugerah bagi keluarga kami. Terkadang sebagian orang tua banyak yang tidak mau menerima kehadiran anak-anak unik ini. Tidak ikhlas mungkin, dan seterusnya. Tapi kami yakin bahwa anak-anak spesial hanya dititipkan Tuhan pada orang tua yang spesial juga,” ungkap Ketua DPD PKS Kota Bandar Lampung itu.
Lantas, apa yang dialami oleh putra beliau? Di antara kita mungkin masih asing dengan istilah trisomy 21. Dalam ilmu kedokteran, trisomy 21 adalah kelainan genetik yang membuat anak memiliki tiga pasang kromosom 21 dan bukannya dua pasang pada setiap sel tubuhnya.
“Kromosom 21 pada Humam mengalami pembelahan abnormal. Jadi, kelebihan kromosom 21-nya sehingga menyebabkan gejala down syndrome,” tambahnya mengikuti penjelasan dari dokter.
“Kami menerima, tentu,” kata Suhada.
“Sekarang Humam berusia sembilan tahun. Ia grahita, tapi ia anak yang cerdas dan ceria. Senyumnya selalu menguatkan kami. Tingkahnya ada-ada aja dan itu buat kami ingat akan kebesaran Allah,” ucap Nur, sapaan akrab istri Suhada itu.
Saat ditanya hal apa yang akan disampaikan pada peringatan Hari Anak Nasional, pemilik nama lengkap Muhammad Suhada itu berpesan bahwa tugas setiap orang tua adalah menjembatani anak-anak menemukan potensi dalam dirinya sehingga membuatnya mandiri, kreatif, dan inovatif di zamannya.
“Setiap anak itu unik. Jangan menjustifikasi anak. Terimalah mereka dengan segala kelebihan dan kekurangannya karena anak adalah anugerah Yang Maha Kuasa. Bersabarlah terhadap perilakunya. Insyaallah kita akan mendapatkan kesempurnaan pahala, baik di dunia maupun di akhirat kelak,” ujarnya.
Suhada mengatakan, masyarakat juga perlu memahami bahwa anak-anak spesial itu punya potensi besar. Ia adalah aset surga bagi orang tua.
“Terimalah mereka dan beri kesempatan mereka untuk belajar. Saya sangat senang dengan adanya sekolah-sekolah inklusif. Sekolah inklusif ini sangat efektif agar anak-anak spesial tadi bisa belajar dan tumbuh layaknya anak-anak normal lainnya,” tambah Nurhayati.
Lengkap sudah penjelasan keduanya. Terharu, iya pasti. Dengan sedikit menyeka mata yang hampir berembun, saya pun berpamitan.
Terlihat Humam, si kecil yang spesial itu, ikut berlari menuju teras rumah dan melambai-lambaikan tangannya sebagai tanda perpisahan bagi setiap tamu yang datang. [Aprilia Fitriani]
