Opini

FOMO: Haruskah Kita Selalu Mengikuti Kehidupan Orang Lain?

FOMO: Haruskah Kita Selalu Mengikuti Kehidupan Orang Lain?

Susi Oktaviati

Oleh Susi Oktaviati, Mahasiswa Magister Keperawatan Universitas Muhammadiyah Pringsewu

Media sosial kini menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari pada generasi muda. Saat ini melalui media sosial, kita dapat melihat pencapaian teman, kehidupan orang lain, hingga berbagai tren yang sedang populer.

Namun kenyataannya, saat kita terlalu melihat kehidupan orang lain terkadang membuat kita merasa tertinggal. Perasaan takut tertinggal dari orang lain atau tren yang dialami orang lain saat ini di kenal dengan istilah Fear of Missing Out (FOMO).

FOMO dapat mengakibatkan seseorang merasa kehidupan dirinya  tidak sebaik kehidupan yang didapat oleh orang lain. Misalnya, ketika melihat teman berhasil menyelesaikan pendidikan, mendapatkan pekerjaan, atau berlibur ketempat yang diinginkan, muncul perasaan dari diri sendiri bahwa diri sendiri belum mencapai sesuatu yang sama dengan orang lain.

Jika perasaan ini terus dibiarkan, maka kebiasaan membandingkan diri seperti ini dapat menimbulkan rasa kecemasan, tekanan dan mengurangi rasa percaya diri.

Kenyataannya, kita tidak pernah benar-benar mengetahui kehidupan sosial seseorang hanya dilihat dari unggahan media sosialnya saja. Apa yang terlihat menyenangkan belum tentu menggambarkan seluruh kenyataan yang sesungguhnya.

Setiap orang memiliki perjuangan dan permasalahannya masing-masing, walaupun tidak semua hal harus dibagikan kepada publik.

Menurut penulis, mengikuti perkembangan zaman bukanlah suatu hal yang salah.

Namun, kita perlu menyadari bahwa tidak pencapaian orang lain harus menjadi tolak ukur dari keberhasilan diri sendiri. Setiap orang memiliki keadaan, kemampuan, dan perjalanan hidup yang berbeda.

Untuk mengurangi FOMO, generasi muda perlu belajar menggunakan media sosial secara bijak. Kita dapat mulai dengan membatasi waktu penggunaan media sosial, memilih konten yang memberikan manfaat, dan lebih fokus pada tujuan pribadi.

Jika timbul perasaan cemas dan rendah diri dan sudah mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, mencari dukungan dari orang terpercaya atau tenaga profesional merupakan langkah yang patut dipertimbangkan.

Pada akhirnya, kehidupan bukanlah perlombaan untuk menyamai pencapaian orang lain. Kita tidak harus mengikuti tren, memiliki barang yang sama, atau mencapai keberhasilan pada waktu yang bersamaan.

Hal terpenting adalah menjalani kehidupan sesuai kemampuan, menghargai proses diri sendiri, dan menjaga kesehatan mental. Dengan demikian, kita berhak merasa cukup tanpa harus membuktikan bahwa kehidupan kita tidak kalah dari orang lain. []

Bagikan :

Tinggalkan Komentar Anda