Eva Rolia dan Adian Saputra
Istilah teman biasanya disematkan kepada mereka yang memang pernah hidup satu masa dalam lingkup tertentu. Misalnya teman bermain di lingkungan rumah, teman satu kelas, teman satu sekolah, teman satu organisasi, dan teman-teman lainnya.
Namun, saya mengalami satu momentum menarik saat mengisi pelatihan menulis esai inisiasi Balai Bahasa Provinsi Lampung di Universitas Muhammadiyah Metro hari Selasa lalu, 26 Mei 2026, sehari sebelum Lebaran Haji.
Saat pembukaan di aula kampus, seorang perempuan menyapa dan duduk di samping saya. Rupanya petinggi kampus. Jabatannya mentereng; wakil rektor bidang kemahasiswaan. Kami berkenalan.
Nama orang ini Eva Rolia. Sudah doktor. Anaknya empat orang. Anak sulung dan nomor dua kuliah kedokteran. Dua lainnya masih sekolah. Ia cerita nama awal dari orangtuanya adalah Eva Roliyah.
Namun, mungkin karena selip penulisan di ijazah, nama berubah menjadi Eva Rolia, sampai dengan sekarang.
Yang menarik saat Eva tanya saya tinggal di mana. Saya jawab di Jalan Adisucipto Kelurahan Kebonjeruk, Bandar Lampung. Dia kaget. Eva bilang, masa kecilnya ia habiskan di Jalan Kutilang, Kelurahan Tanjungagung. Jalan Kutilang yang ia maksud memang dekat dari rumah orangtuanya saya.
Kami kemudian terlibat obrolan seru. Soal rumah, lingkungan, dll. Eva memang tak lama di situ. Karena ikut orangtua, ia kemudian ke Metro dan menyelesaikan pendidikan dasar dan menengah di Kota Metro.
Ia lulusan SMPN 1 Metro dan SMAN 1 Metro. Yang unik dan menjadikan kami makin seru mengobrol adalah usia kami sama. Sama-sama kelahiran 1979 alias usia kami 47. Bedanya saya lahir Januari, Eva bulan Maret. Kami makin seru ngobrol.
Yang bikin seru tentu saja teman-teman yang disebut Eva di angkatan dia di SMPN 1 Metro yang masuk SMAN 2 Bandar Lampung tempat saya sekolah, ya tahu semua. Waktu angkatan 1997 masuk Smanda pada tahun 1994, memang banyak yang lulusan almamaternya Eva ini.
Ada Sri Wahyuni, kawan sekelas di 3 IPS 1 yang pernah jadi ketua keputrian Rohani Islam. Ada nama Handrie Kurniawan, mantan anggota DPRD Bandar Lampung tiga periode. Eva sebut satu nama: almarhum Yunia Radianto.
Makin seru karena Eva kuliah di Teknik Sipil Unila dan berkarib dengan banyak alumnus Smanda, juga SMPN 2 Bandar Lampung dan SDN 2 Rawalaut, tempat saya bersekolah.
Beberapa nama ia sebut yang kebetulan teman sejak di SDN 2 Rawalaut, antara lain Marliyanti. Bahkan, ketika nama Achmad Nurhadi, sohib saya dari SD, makin seru. Eva rupanya punya saudara yang rumahnya tetangga dengan Nurhadi di Jalan Dokter Harun II Kotabaru, Bandar Lampung. Foto ini saya kirim juga ke Nurhadi.
Karena demikian akrab kami mengobrol, ibarat kawan lama yang bersua lagi. Padahal, ya baru kali itu kami bertemu. Kami akrab karena kami hidup semasa, sezaman, dan kawan-kawan kami banyak yang sama.
Ibarat diagram Venn, irisan kawan kami banyak betul. Eva kemudian bilang kepada mahasiswanya bahwa saya adalah bestie-nya. Bestie yang baru bertemu di usia empat puluhan tahun.
Satu pelajaran penting yang acap saya berikan kepada gen Z adalah membiasakan membuka percakapan dengan orang lain. Dari situ komunikasi terjalin. Informasi berhamburan. Dan kedekatan personal tercipta.
Saya senang betul hari itu. Sudahlah bertemu kawan baru rasa lama, sukses mengisi pelatihan, pulangnya disuruh teken tanda terima honorarium pula. “Maka nikmat Tuhan mana lagi yang kamu dustakan?”
Saya bilang ke Eva: “Saya doakan kamu jadi rektor.” Aamiin.
Buat Eva, selamat bekerja, selamat menjalankan amanah, semoga kelak jadi rektor. Insya Allah anak-anakmu sukses jadi dokter semua.
Doakan bestie-mu ini sehat-sehat, rezeki lancar berkah melimpah, dan bisa jumpa dirimu lagi di kesempatan lain. []

Tinggalkan Komentar Anda