Kiri ke kanan. M Qodari, Mahathir Muhammad, Rahmat Mirzani Djausal. | Dokumentasi
Pada 17 September yang lalu Presiden Prabowo Subianto melakukan perombakan kabinet. Tapi di antara sekian menteri dan pejabat penting itu, perhatian saya tertuju ke satu orang: M Qodari. Wakil Kepala Staf Kepresidenan itu naik pangkat menjadi Kepala Staf Kepresidenan.
Apakah saya kenal dengan Qodari? Kenal. Apakah Qodari kenal saya? Insya Allah tidak.
Ada kesempatan berfoto sebetulnya dengan alumnus SMAN 2 Bandar Lampung angkatan 1992 itu pada reuni akbar di sekolah kami pada 2 Agustus yang lalu. Tapi saya tak kepikiran mau foto bareng.
Saya hanya menulis beberapa poin menarik saat Qodari datang. Alhamdulillah berita soal Qodari ramai dibaca orang. Google menempatkan dua berita soal Qodari ini di berandanya saat reuni berlangsung.
Tentu sebagai salah satu alumnus, saya senang ada lulusan Smanda–sapaan akrab SMAN 2 Bandar Lampung–yang dilantik menjadi menteri atau pejabat setingkat menteri. Beberapa saat setelah dilantik, saya menulis di portal yang kami kelola ini. Tapi sudut pandangnya agak lain.
Saya menulis bahwa doa Rahmat Mirzani Djausal makbul. Waktu reuni, Mirza mendoakan Qodari agar segera menjadi kepala staf kepresidenan. Doa itu terwujud kemudian. Qodari jadi kepala staf kepresidenan.
Saya banyak mengetahui tokoh ini dari sohib satu angkatan dia. Nama kawan ini Ardi “Jojo” Johan. Dari doi-lah saya banyak tahu kiprah Qodari selama ini.
Cerita itu semuanya positif dan saya senang mendengarnya. Misalnya soal bantuan sosial bahkan kala Idulkurban, Qodari banyak berkontribusi.
Bisa dibilang, anak Smanda di lingkaran terdekat kekuasaan ya Qodari ini. Ada yang lain dan kebetulan teman satu angkatan.
Nama orang ini Achmad Adhitya. Adit, sapaan akrabnya, lulus dari Unibraw dan melanjutkan studi sampai doktor di Universitas Leiden Belanda. Ia menikahi salah seorang cucu mantan Presiden BJ Habibie. Adit kini menjadi Staf Khusus Wakil Presiden.
Beberapa hari lalu rupanya ia mengisi acara di Universitas Teknokrat Indonesia. Tapi karena jadwal padat, kami tak bisa bersua. Semoga Adit semakin sukses.
Balik ke Qodari. Kita sering melihat dia beradu argumen di beragam acara gelar wicara alias talkshow di televisi. Kita mudah menemukan serakan berita soal Qodari di YouTube. Apalagi saat ia beradu argumentasi dengan Rocky Gerung.
Bang Jojo cerita, sumbernya ya Qodari ini. Kata dia, yang namanya talkshow yang memang begitu. Pasti adu argumentasinya seru. Bahkan bantah-bantahannya kencang sekali.
Tapi itulah esensi gelar wicara. Talk artinya ngomong, show artinya pertunjukan. Jadi, ya, pertunjukan orang ngomong.
Karena pertunjukan tentu masih saling silang pendapat supaya seru. Kalau idenya sama semua, ya mana seru. Apalagi ditampilkan di televisi, mesti dua bahkan tiga kubu dilibatkan.
Jurnalis senior Karni Ilyas, Presiden Indonesia Lawyer Club, pernah bilang begini. Kayu kalau tak disilangkan, mana bisa memunculkan api.
Karena dia bersilang, maka api yang disuluh bisa besar. Bicara juga demikian. Kalau idenya sama semua, apa yang mau dipertunjukkan. Kira-kira demikian.
Makna dari semua ini, kita sebagai penonton, ya jangan polos-polos amat juga saat nonton. Memang sudah direncanakan demikian.
Tokoh yang diundang dalam gelar wicara memang dicari dari yang pro dan kontra. Barulah dia seru sebagai bahan omongan.
Termasuk kala Qodari asyik berbantahan dengan rekan atau lawan bicaranya. Semoga Bang Qodari mampu menjalankan amanah dengan baik dan sukses.
Nanti kalau ketemu, saya mau foto dan bikin tulisan kayak begini lagi. Tolong saya dibantu ya, Bang Jojo. Kan kawan ente. []

Tinggalkan Komentar Anda