Sali
WAKTU kecil saya sering melihat orang mengadu ayam jantannya. Kebanyakan dari jenis bangkok.
Beberapa tetangga memang punya ayam jago yang bagus-bagus. Sesekali mereka adu. Anak sekarang bilang, tes ombak.
Tak pernah saya melihat gelanggang judi sabung ayam betulan. Yang kebanyakan saya lihat hanya adu tanding tipis-tipis antarayam yang hendak diadu di ”ajang resmi”.
Ayam-ayam jago itu diurus dengan benar. Makan dan minumnya diperhatikan dengan saksama. Ada suplemen yang diberikan.
Bahkan, ada yang dikasih minum jamu. Entahlah dari jenis apa. Apakah galian singset atau antiencok. Saya tak paham.
Tapi memang menonton ayam bertarung itu menyenangkan. Melihat dua ayam saling terjang memang menarik. Untung saja nontonnya tak lama karena sekadar test drive saja.
Esai ini kepikiran saya bikin lantaran kemarin ada peristiwa memilukan terjadi nun di Kabupaten Way Kanan sana. Daerah yang baru saja ditinggal meninggal dunia bupatinya: Ali Rahman.
Tiga polisi meninggal dunia di arena judi sabung ayam sebuah tempat di Kecamatan Negara Batin. Ketiganya meninggal dunia usai ditembak saat hendak menggerebek judi sabung ayam. Semoga ketiganya meninggal dalam keadaan yang baik. Aamiin.
Yang bikin terhenyak, arena sabung ayam itu milik anggota TNI. Bahkan, ada dua yang terlibat.
Yang mengejutkan, mereka sebelum kejadian, dari beberapa tontonan media sosial, sering mempromosikan untuk datang dan menonton sabung ayam ini. Termasuk ajang sabung ayam Senin kemarin, 17 Maret 2025.
Parah, kan? Masak anggota TNI, yang lahir dari rahim rakyat, malah mempromosikan judi sabung ayam.
Tapi memang itu nyata. Seorang teman yang pernah aktif dalam program pemerintah juga menyaksikan ada arena judi sabung ayam yang dilindungi anggota TNI.
Oknum sih. Oknum itu dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah:
- Penyebut diri Tuhan dalam agama Katolik; pribadi: kesatuan antara Bapak, Anak, dan Roh Kudus sebagai tiga — keesaan Tuhan
- orang seorang; perseorangan
- Orang atau anasir (dengan arti yang kurang baik)
Kejadian yang melibatkan TNI ini pas juga dengan baru terungkap rapat Komisi I DPR soal RUU TNI. Pendek kata, RUU ini akan menjadi payung hukum meluaskan pengaruh TNI ke banyak bidang pemerintahan.
Ya apa pun alasannya, justru itu yang diperjuangkan mahasiswa dan kelompok masyarakat sipil pada era reformasi. Kita dahulu berjuang menghapus dwifungsi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI)—kini TNI, sekarang malah mengembalikan lagi fungsi itu.
TNI ya ada di barak. Tugasnya adalah mempertahankan kedaulatan. Menjaga Indonesia ini dari anasir jahat yang mau merongrong.
TNI kalau mau berkiprah ya profesional saja di ketentaraan. Tak usah mengusik urusan sipil.
Tak boleh mencoblos bagi anggota TNI dan Polri itu sudah menjadi penanda dua entitas itu beda. Jadi tak bisa disamakan dengan sipil.
Kalaupun berkasus, diurus oleh pengadilan militer. Jangan hanya mau berkiprah di sipil cari yang enak-enak, begitu urusan hukum, balik ke pengadilan militer.
Masak iya para TNI aktif ada pada bidang pemerintahan dan bisnis pemerintah alias BUMN.
Soal katanya gaji TNI kurang, ya sebetulnya semua yang masih gajian ya kurang. Saya bilang begini karena mertua saya, almarhum Lukman Nadiman, juga tentara. Ia bahkan veteran Operasi Seroja di Timor Timur kala itu.
Meski tak bertemu lantaran almarhum sudah wafat saat istri saya, Sekar, masih sekolah dasar, ceritanya saya dapat.
Keluarga istri ini dulu punya satu mobil angkutan kota (angkot). Mengapa usaha angkot? Ya karena hanya mengandalkan gaji tentara tak cukup.
Mertua saya yang perempuan, almarhumah Kapten Tituler Habiah Ilyas juga kerja sebagai bidan di Rumah Sakit Djawatan Kesehatan Tentara (DKT).
Uwak saya juga tentara, almarhum Abdul Fatah. Ibu saya pernah ikut bersamanya kala dinas di Curup, Bengkulu.
Bagaimana kehidupan tentara kala itu? Ya memang susah. Uwak saya yang perempuan, Jumilah, sampai bikin kue-kue untuk dijual demi menambah pendapatan.
Ringkasnya, semua juga kurang. Mereka menutupi dengan kerja jalan halal, bukan menjadi pelindung aktivitas haram.
Tapi jika dibandingkan masa dahulu, mungkin, mungkin ya, sekarang sudah jauh lebih layak dan manusiawi.
Kalau soal oknum TNI yang jadi beking judi sabung ayam dan jenis bisnis lain, saya pikir itu sudah jamak diketahui.
Justru tugas pemerintah sekarang ya menjadikan TNI itu tentara yang profesional. Kalau memang rasanya secara tugas TNI itu mandek, ya jangan malah mau menambah lagi unit-unit TNI.
Cukup dengan apa yang ada. Jika ada penambahan, sudah pasti berpengaruh pada anggaran. Katanya mau efisiensi, kok malah boros. Katanya mau hemat, kok malah boncos.
Dari kejadian sabung ayam di Way Kanan yang menimbulkan korban jiwa, sudah tentu jadi perhatian bersama. Presiden Prabowo mesti bersuara soal ini.
Kalau meminjam istilah Rocky Gerung, Presiden mesti kasih public address. Dia harus jelaskan dan pahami kenapa ini terjadi dan bagaimana mereformasinya.
Semoga kejadian ini yang terakhir. Semoga gaji TNI dan Polri ke depan makin mencukupi dan manusiawi. Semoga juga peran sipil diperkuat dan gaji orang-orang sipil juga diperhatikan.
TNI kan lahir dari rahim rakyat. Kalau rahimnya saja tak sehat lantaran asupan gizi tak cukup dipicu gaji rendah dan kemiskinan, ya wajar kalau anaknya lahir stunting.
Sudah ya. Terima kasih sudah mau membaca.
Kepada anggota Polri muslim yang wafat, kita panjatkan doa: Allahummagh firlahum warhamhum waafihi wa fuanhum.
Hajimena, 18 Maret 2025/18 Ramadan 1446 Hijriah. [ADIAN SAPUTRA]

Tinggalkan Komentar Anda