Chintia (dua kanan) di RRI Bandar Lampung. | Delima Kurnia
Wartalampung.id, Bandar Lampung – Dua belas tahun sudah keluarga besar Gele Harun terus memperjuangkan pengukuhan sang pejuang asal Lampung itu sebagai pahlawan nasional.
Sejak pertama kali diajukan pada 2013, semangat keluarga tidak pernah padam. Bagi mereka, perjuangan Gele Harun dalam mempertahankan tanah Lampung dari agresi militer Belanda II adalah warisan sejarah yang layak mendapatkan pengakuan negara.
Chintia Martceli Putri, cicit dari Gele Harun mengatakan bahwa perjuangan keluarga besarnya tidak pernah berhenti, bahkan ketika proses pengajuan berjalan begitu panjang.
Ia menegaskan bahwa semangat itu merupakan warisan langsung dari sang datuk.
“Kami tidak pantang menyerah. Setiap proses kami kawal sejak 2013 sampai sekarang,” ujarnya.
Hal tersebut ia sampaikan kepada tim wartalampung.id seusai mengisi talkshow dalam Dialog Lampung Menyapa pada studio RRI Pro 1 Bandar Lampung.
Ketika ditanya apakah keluarga merasa perjuangan ini sempat meredup, Chintia menampiknya.
Menurutnya, keluarga selalu aktif mengawal pengusulan ini. Tantangannya justru terletak pada dukungan berbagai elemen mulai dari pemerintah daerah dan masyarakat yang belum maksimal.
“Perjuangan keluarga tidak pernah berhenti. Yang perlu diperkuat adalah dukungan dari pemerintah daerah dan masyarakat. Dokumen, bukti sejarah, peninggalan otentik, semuanya sudah kami simpan sejak lama,” katanya.
Di rumah keluarga, berbagai peninggalan Gele Harun seperti foto perjuangan, arsip agresi Militer Belanda II, hingga mata uang darurat PDRI masih terjaga baik dan menjadi bagian dari syarat pengajuan gelar pahlawan nasional.
Kisah perjuangan Gele Harun juga membawa luka mendalam bagi keluarga. Saat ia bergerilya meperjuangkan daerah Lampung, salah satu anaknya yang masih berusia delapan bulan meninggal dunia karena tidak adanya stok obat.
Hal itu menjadi bukti bahwa perjuangannya tidak hanya mengorbankan tenaga dan nyawa, tetapi juga keluarga.
“Pengorbanan beliau luar biasa. Beliau meninggalkan kampung halaman demi perjuangan di Lampung Barat,” ujar Chintia.
Bagi keluarga, Gele Harun dikenang sebagai sosok tegas, disiplin, pemberani, religius, dan gigih. Karakter ini yang terus diwariskan turun-temurun.
Meskipun sebagai cicit, generasi muda dalam keluarga tidak pernah bertemu langsung dengan beliau, kisah-kisah perjuangannya terus diceritakan sebagai panutan hidup.
“Beliau menjadi contoh bagi kami untuk mengutamakan pendidikan, kedisiplinan, dan ibadah,” katanya.
Keluarga berharap generasi muda Lampung dapat melanjutkan perjuangan Gele Harun dalam memajukan daerah, baik dalam pendidikan, budaya, hukum, maupun bidang lainnya.
Mereka juga menekankan bahwa Lampung memiliki banyak pahlawan lokal yang belum dikenal luas. Literatur biografi Gele Harun sendiri sudah tersedia di berbagai perpustakaan di Lampung.
Meski sudah 12 tahun berlalu, keluarga memastikan tidak akan berhenti memperjuangkan pengukuhan untuk Gele Harun.
Mereka menegaskan bahwa pengajuan gelar pahlawan nasional tidak mengenal kedaluwarsa, sehingga proses dapat terus dilanjutkan.
“Harapannya 2026 bisa menjadi tahun penetapan, dan kami sangat membutuhkan dukungan masyarakat Lampung, khususnya mahasiswa sebagai generasi muda,” tutup Chintia. [Delima Kurnia Borumanik]

Tinggalkan Komentar Anda