Dialog mengupas Mr Gele Harun sebagai pahlawan nasional. | Dandy HR
Wartalampung.id, Bandar Lampung – Dalam program Dialog Lampung Menyapa yang disiarkan RRI Pro 1 Bandar Lampung, pembahasan mengenai “Usulan Gelar Pahlawan Nasional Mr. Gele Harun Meredup?” kembali menghangat, Selasa, 25/11/2025.
Sejumlah narasumber dihadirkan untuk mengulas perjalanan sejarah, peran, dan kontribusi besar Mr. Gele Harun, tokoh yang pernah menjadi bagian penting dalam mempertahankan republik di Lampung pada masa agresi militer Belanda.
Acara dipandu oleh Ikhwan Wijaya dan menghadirkan tiga narasumber:
- Yusuf Eddy Triyanto, Penyuluh Sosial Ahli Muda, Dinas Sosial Provinsi Lampung
- Adian Saputra, editor dan penulis buku tentang Mr. Gele Harun
- Chintia Martceli Putri, Cicit Mr. Gele Harun
Menurut Yusuf, Gele Harun adalah seorang hakim, pengacara, dan politisi yang memiliki rekam jejak besar dalam mempertahankan keberlangsungan Republik Indonesia, khususnya di Lampung.
Ia menjelaskan bahwa Gele Harun mulai berkiprah sebagai Ketua Angkatan Pemuda API tahun 1945, kemudian menjadi Hakim di Mahkamah Militer Palembang. Pada masa agresi militer Belanda, situasi pemerintahan Lampung berada dalam tekanan hebat, hingga akhirnya ia ditunjuk sebagai Penjabat Residen Lampung pada Januari 1949.
“Beliau memimpin pemerintahan darurat dari Pringsewu, lalu memindahkannya ke Talangpadang, ke Wai Tenong, Lampung Barat. Karena tekanan Belanda yang semakin besar, beliau bergerilya bersama pasukannya. Inilah bukti bahwa perjuangan beliau nyata untuk Lampung,” ujar Yusuf.
Sebagai editor dan penulis buku tentang Gele Harun, Adian Saputra memaparkan sejarah yang lebih luas. Ia menjelaskan bahwa proses penulisan buku tentang Gele Harun berawal dari surat permohonan yang dikirimkan Arief Mahya kepada Presiden SBY pada 2013 terkait pengusulan dua tokoh Lampung sebagai pahlawan nasional.
Dari permintaan keluarga, Adian mulai terlibat dalam penyusunan ulang narasi sejarah dan menambah data, khususnya tentang Pasukan Harimau Kumbang, salah satu elemen penting dalam perjuangan mempertahankan Lampung.
“Mr. Gele Harun adalah putra dari Dr. Harun Rasyid Nasution, berasal dari Sibolga. Lulus dari Leiden tahun 1935, kemudian kembali ke Indonesia dan menjadi auditor militer di Mahkamah Militer Palembang,” jelas Adian.
Ia menegaskan keberanian dan ketegasan Mr. Gele Harun dalam mempertahankan struktur pemerintahan adalah alasan kuat mengapa ia layak dijadikan pahlawan nasional.
Chintia Martceli Putri, memberikan sudut pandang keluarga. Sebagai cicit dari Mr. Gele Harun, Chintia menggambarkan figur leluhurnya sebagai sosok yang disiplin dan religius.
Ia menceritakan kembali pengorbanan besar Gele Harun ketika harus meninggalkan kediamannya di Tanjungkarang untuk bergerilya ke Lampung Barat.
Chintia juga mengajak generasi muda untuk meneruskan perjuangan tersebut.
“Kami berharap masyarakat Lampung dapat meneruskan perjuangan beliau di bidang masing-masing, seperti pendidikan, hukum, dan kebudayaan. Itu cara kita menghargai jasa beliau,” tutup Chintia. [Dandy HR]

Tinggalkan Komentar Anda