Opini

Kolaborasi, Fondasi Membangun Peradaban Pendidikan

Kolaborasi, Fondasi Membangun Peradaban Pendidikan

Arief Ageng Sanjaya

Oleh Arief Ageng Sanjaya, Kepala SMPIT Daarul ‘Ilmi Bandar Lampung

Tidak ada peradaban besar yang lahir dari kerja individu. Sejarah manusia menunjukkan bahwa kemajuan selalu muncul melalui kolaborasi atau dalam bahasa kita “berjamaah”.

Peradaban Islam pada masa keemasannya menjadi bukti paling jelas. Kota-kota seperti Baghdad dan Andalusia tidak berdiri megah karena kecerdasan satu tokoh, melainkan karena kerja kolektif para ilmuwan, pendidik, ulama, pemimpin, dan para dermawan yang saling menopang. Mereka bekerja sebagai satu tubuh untuk melahirkan generasi unggul.

Di era modern, indikator kemajuan sebuah bangsa juga sangat ditentukan oleh kualitas pendidikannya. Negara-negara yang saat ini menjadi kekuatan global memiliki sistem pendidikan yang kuat, stabil, dan mampu melahirkan SDM unggul.

Ketika pendidikan kokoh, ekonomi tumbuh, politik matang, dan budaya berkembang. Sebaliknya, negara dengan pendidikan lemah akan tertinggal di semua sektor.

Ironisnya, hari ini kita dihadapkan pada realitas bahwa sektor ekonomi telah dikuasai oleh kekuatan global. Pengaruh itu pun mulai merembes ke ranah politik dan pendidikan.

Dalam situasi seperti ini, ekosistem pendidikan Islam harus menata ulang strategi, memperkuat mutu, memperluas jangkauan, dan membangun kolaborasi dengan para pemangku kepentingan strategis-baik pemimpin (ulil amri), para dermawan (ulil agniya), para cendekia (Ulil Albab), tenaga ahli (ulil aidi), hingga para penggerak sosial (ulil absor).

Potensi umat sebenarnya sangat besar, hanya perlu disatukan. Kolaborasi lima unsur kekuatan tersebut dapat melahirkan proyek-proyek pendidikan unggulan.

Mulai dari pendirian sekolah tingkat atas hingga perguruan tinggi yang melahirkan generasi excellent. Pendidikan Islam tidak cukup hanya menjadi pilihan alternatif. Ia harus menjadi pusat lahirnya peradaban baru.

Untuk memperkuat mutu tersebut, ada beberapa langkah strategis yang bisa ditempuh. Di antaranya:

  1. Peningkatan kualitas lulusan melalui indikator pendidikan nasional
  2. Program peningkatan kompetensi guru oleh para akademisi yang mumpuni
  3. Pelatihan berkelanjutan bagi guru SIT
  4. Pembentukan sekolah khusus guru sebagai pusat kaderisasi tenaga pendidik.

Namun, mutu akademik saja tidak cukup. Pendidikan Islam harus kembali kepada akarnya, yakni Alquran sebagai poros kehidupan.

Para pendahulu kita berhasil melahirkan ilmuwan besar dan masyarakat yang beradab karena menjadikan Alquran sebagai sumber nilai yang hidup di ruang belajar maupun ruang sosial.

Karena itu, lembaga pendidikan Islam hari ini harus berani menurunkan nilai-nilai qurani ke dalam kurikulum, budaya sekolah, dan karakter peserta didik.

Menelusuri sejarah pendidikan Islam bukanlah sekadar nostalgia, melainkan usaha menggali nilai dasar untuk diwariskan kepada generasi penerus. Banyak lembaga besar dalam sejarah Islam yang telah menunjukkan bagaimana pendidikan mampu menjadi pusat kemajuan peradaban.

Jejak sukses itu seharusnya menjadi inspirasi sekaligus pengingat bahwa pendidikan Islam bisa menjadi lokomotif kemajuan jika dibangun dengan visi besar dan kolaborasi yang kokoh.

Kini, tiba saatnya kita melangkah pada fase yang sama. Membangun lembaga pendidikan Islam yang berkarakter, bermartabat, dan berdaya saing global.

Untuk mencapai tujuan itu, dibutuhkan peta jalan pengembangan pendidikan yang jelas, sistematis, dan komprehensif. Peta jalan inilah yang akan memastikan setiap langkah, program, hingga bentuk kolaborasi berjalan terarah dan selaras dengan visi utama. “Membangun peradaban melalui pendidikan dengan kolaborasi sebagai fondasi utama”. []

Bagikan :

Tinggalkan Komentar Anda