Pengabdian Teknokrat di SMA Xaverius. | Dokumentasi
WARTALAMPUNG.ID, BANDAR LAMPUNG — Sebagai wujud nyata implementasi Tridharma Perguruan Tinggi, tim pengabdian kepada masyarakat (PKM) Universitas Teknokrat Indonesia (UTI) menggelar aksi edukatif dan inovatif di Sekolah Menengah Atas (SMA) Xaverius Bandar Lampung baru-baru ini.
Kegiatan yang mempertemukan civitas akademika perguruan tinggi dengan para pelajar tingkat akhir ini dikemas dalam bentuk pelatihan interaktif. Di sini, para siswa diajak untuk mengeksplorasi dasar-dasar ilmu teknik sipil dan arsitektur melalui medium rekonstruksi miniatur jembatan menggunakan stik es krim.
Pendidikan di bangku SMA merupakan fase krusial dalam mengarahkan minat, bakat, serta kesiapan karier akademik siswa ke jenjang yang lebih tinggi.
Memahami pentingnya fase transisi ini, Universitas Teknokrat Indonesia (UTI) sebagai salah satu kampus swasta terbaik di bidang teknologi, berkomitmen hadir di tengah masyarakat.
Melalui program PKM, tim dosen dan mahasiswa Teknokrat turun langsung untuk menyalakan ketertarikan terhadap dunia sains, rekayasa, dan infrastruktur pada siswa-siswi SMA Xaverius Pahoman.
Kegiatan pengabdian yang berlangsung dinamis ini dipimpin langsung oleh jajaran dosen ahli yang memiliki rekam jejak panjang di bidang teknik struktural dan tata ruang.
Tim dosen tersebut terdiri atas Dr. Ir. Lilik Ariyanto, S.T., M.T., IPM. ASEAN Eng., Sefrinta Sasma Murdiagatma S.T., M.T., Vanita Kesuma Yacub, S.T., M.Eng., serta Rahma Sopilawati S. Ars, M.T. Kolaborasi lintas disiplin ini membawa perspektif materi yang kaya, memadukan akurasi matematis teknik sipil dengan aspek estetika visual dari dunia arsitektur.
Tidak bergerak sendirian, para dosen juga menggandeng sembilan mahasiswa lintas Angkatan program studi Teknik SIpil dari Universitas Teknokrat Indonesia. Kehadiran para mahasiswa ini memegang peranan yang sangat sentral sebagai mentor pendamping (fasilitator).
Dengan pola komunikasi yang baiik, adaptif, dan sebaya, sembilan mahasiswa ini bertugas mendampingi kelompok-kelompok kerja siswa. Mereka menjembatani teori-teori struktural yang dipaparkan dosen menjadi instruksi praktis yang mudah dieksekusi, mulai dari tahap mempelajari miniatur desain jembatan hingga teknik pengeleman stik es krim agar presisi, kuat dan estetik.
Sebelum para siswa SMA Xaverius mulai menyusun material, tim PKM terlebih dahulu memberikan pembekalan konseptual yang komprehensif. Dr. Ir. Lilik Ariyanto, S.T., M.T., I.P.M., ASEAN Eng. memulai pemaparan materi dengan mengupas hakikat mendasar dari sebuah jembatan.
Secara ilmiah dan keteknikan, jembatan didefinisikan sebagai suatu struktur bangunan yang dirancang dan dikonstruksikan secara khusus untuk menghubungkan dua atau lebih area yang terputus akibat adanya rintangan fisik di lapangan.
Rintangan fisik ini, secara umum terbagi menjadi dua kategori utama. Pertama adalah rintangan alamiah, seperti aliran sungai, lembah yang dalam, jurang terjal, hingga selat atau bentangan laut luas.
Kedua adalah rintangan artifisial atau buatan manusia, seperti jalur perlintasan kereta api, jalan tol, atau kawasan industri yang tidak memungkinkan adanya persimpangan sebidang.
Oleh karena itu, pembuatan jembatan memerlukan perhitungan kalkulasi mekanika teknik yang matang agar struktur mampu menahan beban mati (dead load) dari material jembatan itu sendiri serta beban hidup (live load) dari kendaraan atau manusia yang melintasinya.
Dari definisi tersebut, tim dosen kemudian mengelaborasi fungsi vital jembatan dalam konstelasi pembangunan modern. Fungsi pertama yang paling mendasar adalah sebagai urat nadi konektivitas wilayah.
Jembatan memecah isolasi geografis, memungkinkan daerah terpencil terhubung dengan pusat-pusat pertumbuhan kota. Fungsi kedua adalah optimasi dan kelancaran sistem transportasi regional.
Dengan adanya jembatan yang kokoh, waktu tempuh logistik dan mobilitas manusia dapat dipangkas secara signifikan, meminimalkan biaya operasional kendaraan, serta meningkatkan aspek keselamatan pengguna jalan.
Fungsi ketiga, yang tidak kalah krusial, berada pada dimensi ekonomi. Jembatan bertindak sebagai katalisator utama dalam mempercepat distribusi barang, jasa, hasil pertanian, dan komoditas industri. Ketika aksesibilitas terbuka lebar, pasar-pasar baru akan tercipta, harga kebutuhan pokok menjadi lebih stabil, dan taraf hidup masyarakat di kedua wilayah yang terhubung akan meningkat secara simultan.
Terakhir, jembatan memiliki fungsi sosial dan budaya yang mendalam. Infrastruktur ini memperpendek jarak psikologis antarmasyarakat, mempermudah akses pendidikan tinggi, mempercepat pelayanan medis darurat, serta mempererat integrasi sosial.
Usai pembekalan teori, atmosfer Gedung Aula SMA Xaverius seketika berubah menjadi laboratorium teknik yang interaktif. Sembilan mahasiswa Teknokrat segera memandu para siswa ke dalam beberapa kelompok kerja.
Tantangan utama yang diberikan cukup menantang: menyusun stik es krim menjadi struktur jembatan miniatur yang ringkas namun memiliki kapasitas menahan beban (load-bearing capacity) yang tinggi. Di sinilah aspek edukasi berbasis STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics) diwujudkan secara nyata.
Para dosen dan mahasiswa mengajari para pelajar SMA bahwa kekuatan sebuah jembatan tidak terletak pada banyaknya lem atau tebalnya material, melainkan pada geometri strukturnya. Mereka diperkenalkan dengan konsep dasar sistem rangka batang (truss system).
Siswa diajak bereksperimen membentuk formasi segitiga pada dinding jembatan. Formasi geometri segitiga diajarkan sebagai bentuk paling stabil dalam menyalurkan gaya tekan (compression) dan gaya tarik (tension), berbeda dengan formasi persegi yang sangat rentan mengalami pergeseran bentuk (deformasi) saat menerima tekanan tegak lurus dari atas.
Siswa-siswi SMA Xaverius tampak sangat antusias dan kompetitif. Menggunakan nalar kritis dan logika matematika yang telah mereka pelajari di bangku sekolah, didampingi arahan telaten dari kakak-kakak mahasiswa, mereka mengukur sudut, menyelaraskan tumpuan, dan memastikan kekokohan sambungan.
Melalui stimulasi ini, para siswa tidak hanya belajar teori di atas kertas, tetapi juga merasakan langsung bagaimana prinsip distribusi beban dan kesetimbangan gaya statis bekerja.
Kegiatan PKM Universitas Teknokrat Indonesia di SMA Xaverius ini tidak hanya memberikan pengalaman aplikatif, melainkan juga membuka wawasan baru mengenai prospek karier di dunia teknik sipil dan arsitektur bagi para siswa.
Pihak sekolah menyampaikan apresiasi yang tinggi atas inisiatif ini, dan berharap kolaborasi edukasi ini dapat terus berlanjut guna mencetak generasi muda Lampung yang visioner, kreatif, dan siap menyongsong kemajuan teknologi infrastruktur di masa depan.
Wakil Rektor Dr H Mahathir Muhammad SE MM menyambut baik kegiatan ini. Ia mengajak siswa melanjutkan pendidikan tinggi di Teknokrat dengan mengklik spmb.teknokrat.ac.id. []

Tinggalkan Komentar Anda