Opini

Siapa Menang?

Siapa Menang?

Imron Rosadi. | Dokumentasi

Imron Rosadi. | Dokumentasi

Oleh Imron Rosadi

TIBA-TIBA hal tersebut menggelayut di pikiran saat Adian Saputra membalas komentar saya dengan kalimat ” aamiin ron.ditunggu opininya ” di salah satu postingannya hari ini.

Oke deh, kita kembali kulik-kulik tipis isu-isu seputaran pilkada di 8 kabupaten/kota di Provinsi Lampung.

Saya perhatikan, memang di setiap pemilihan kepala daerah, tiga yakni Ide baru, promosi hasil kerja, dan kuatnya dana, menjadi menarik untuk terus diperbincangkan.

Dalam setiap pilkada, kandidat yang menjadi penantang petahana atau dinastinya selalu memberikan suguhan kepada masyarakat pemilih berupa kampanye-kampanye program yang berisi tentang ide dan program baru yang biasanya cukup bombastis.

Seperti “bila kami terpilih maka jalan-jalan akan mulus, kemudian akan ada ribuan tenaga kerja yang terserap, ribuan pelaku usaha akan mendapatkan bantuan modal tanpa bunga. Ada pula program  beasiswa, bantuan kepada petani, nelayan, dan masih banyak lagi”.

Disisi birokrasi, biasanya para kandidat ini akan membawa ide tentang reformasi birokrasi, lelang jabatan, mempermudah akses perizinan dan pelayanan publik. Begitulah kurang lebih yang akan ditawarkan oleh mereka.

Dan memang harusnya seperti itu, karena penantang petahana harus mampu meraih simpati dari pemilih dengan berbagai macam program bombastis.

Lanjut ke kandidat yang fokus mempromosikan hasil kerja.

Kandidat ini yang merupakan incumbent atau mungkin keluarga incumbent biasanya selalu  memakai dua pilihan diksi ini dalam setiap kampanye-kampanyenya.

“Lanjutkan, Kami memberi bukti, yang lain baru berjanji”>

Bila hasil kerja selama menjabat di periode sebelumnya baik, tentu metode tersebut memang sangat jitu dimaksimalkan. Apalagi bila survei kepuasan publik menunjukan angka  di atas 65%, wah ini akan makin mocer lagi.

Pertanyaannya adalah bagaimana bila yang maju dalam pilkada tersebut adalah istri atau anaknya. Apakah metode memasifkan diksi “lanjutkan” cukup efektif?

Ya tentu semua tergantung pada kecerdasan kandidat dan timnya dalam meramu strategi.

Lain dengan dua karakter kandidat di atas, yang tidak boleh diremehkan, bahkan ini bisa menjadi ancaman adalah kandidat yang memiliki kekuatan dana, atau bahasa hitsnya di-back up oleh pemodal besar.

Kandidat ini biasanya memang terlihat santai. Gerakannya smooth, gerilya berbasis teritori, tapi di ujung melakukan closing dengan kuantitas yang nilai dan volumenya bombastis.

Memang sudah menjadi rahasia umum atau lebih tepatnya sudah menjadi obrolan warung kopi. Dalam setiap perhelatan pilkada selalu muncul saja isu-isu.

“Wah calon ini di-back up oleh di anu, si itu di-modalin oleh si ini”.

Kadang itu cuma framing yang sengaja dibangun, namun kadang hal itu bener adanya. Terus siapa yang menang di antara ketiganya ?

Lagi-lagi, itu semua vergantung pada kecerdasan dan kecermatan para kandidat dan timnya dalam memanfaatkan setiap peluang. Di samping tentunya memiliki garis tangan.

Tapi apa pun itu, bila mau menyelami, pada setiap kompetisi pemilihan kepala daerah kita selalu mendapatkan banyak khazanah. Di sana ada berbagai informasi baru yang kita dapatkan dari setiap program yang ditawarkan. []

Penulis adalah Sekretaris Umum Partai Gelora Indonesia Lampung

Bagikan :

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tinggalkan Komentar Anda