Rahmat Mirzani Djausal dan tim senam poco-poco pada reuni akbar. | Dokumentasi
Wartalampung.id Bandar Lampung – HUT ke-60 dan reuni akbar SMAN 2 Bandar Lampung pada Sabtu, 2 Agustus 2025 lalu memang tak habis-habis diceritakan. Bagi saya yang jurnalis, momentum yang saya rasakan sendiri sensasinya itu, sangat sayang jika tak terekam dalam narasi.
Berbeda dengan reuni yang kebanyakan menjadikan panggung musik sebagai cantelan utama, di Smanda–akronim akrab SMAN 2 Bandar Lampung–justru senam poco-poco yang menjadi koagulan. Koagulan yang menggumpalkan partikel-partikel kecil menjadi satu kesatuan.
Adanya senam poco-poco yang sejatinya tidak murni-murni amat lomba itu menjadi daya tarik utama reuni akbar kali ini. Nyaris semua perwakilan angkatan tidak beranjak pulang sampai dengan peserta terakhir tampil di depan.
Sembilan belas tim unjuk kebolehan. Ada yang persiapan matang, ada yang seadanya, bahkan nyaris dengan nekat. Ini merujuk ke angkatan saya, 1997, yang sampai hari H pun belum pernah berlatih lengkap dan paripurna.
Maka wajar jika hadiah yang diberikan kepada angkatan Penjabat Sekda Mesuji Najmul Fikri ini tertorehkan kata-kata: Tim dengan Suporter Tersedikit. Hahaha.
Satu nama yang tak banyak disebut orang dalam kepanitiaan adalah Yani Panca. Dalam kepanitiaan, Yani, alumnus 1999, ini memang ditugaskan khusus sebagai penanggung jawab senam poco-poco.
Dari awal didapuk, Yani berusaha serius. Ia membuat syarat dan ketentuan dibantu panitia lain. Surat untuk juri, persiapan hadiah, sampai penanda tiap angkatan yang akan tampil, semua ia sediakan. Yani bekerja cekatan dalam diam.
Hari H pelaksanaan, ia hilir mudik. Pembawa acara kondang, Monang dan Dian, yang juga alumnus Smanda, membantunya tenang.
Dari peserta awal sampai akhir berjalan dengan baik. Suasana demikian ceria dan seru banget. Tiap angkatan punya strategi khusus agar timnya tampil maksimal.
Bahkan, angkatan 1980-an sudah bersiap dari sebulan lalu untuk latihan dan mencari pelatih khusus.
Yani mengenakan kaus hijau milik angkatannya: 1999. Warna kaus yang sering saya candai karena identik dengan warna partai politik tertentu, hahaha.
Yang jelas, senam poco-poco memang menjadi koagulan dalam reuni akbar. Ia mengikat siapa saja untuk tidak cepat-cepat pulang.
Ia mengorkestrasi semua angkatan untuk mau menonton sampai peserta paling akhir. Bahkan, masih ramai sampai dengan pengumuman pemenang lepas salat asar.
Utak-atik Yani dan tim senam poco-poco bolehlah diberikan aplaus meriah. Tanpanya barangkali kejadian tak seperti ini. Berkah Allah swt pula yang menjadikan cuaca hari itu cerah sampai waktu merembang malam.
Buat Yani, teruslah bekerja bak koagulan yang menggumpalkan semua partikel menjadi satu kekuatan. [ADIAN SAPUTRA]

Tinggalkan Komentar Anda