Pesisir Barat

Rajwa Atsila Susilo: Remaja Hebat itu Berani Memulai, Berani Belajar, dan Berani Berdampak

Rajwa Atsila Susilo: Remaja Hebat itu Berani Memulai, Berani Belajar, dan Berani Berdampak

Rajwa Atsila Susilo

Wartalampung.id, Krui – Bagi Rajwa Atsila Susilo, masa remaja lebih baik dihabiskan dengan mencari prestasi dan pengalaman baru bersama dengan organisasi.

Berorganisasi, bagi Cila, sapaan akrabnya, bukan hanya tentang prestasi belaka dan dikenal banyak orang, mekainkan adalah sekelompok orang yang mempunyai tujuan yang sama, dan terus bekerja sama secara teratur untuk mencapai suatu tujuan.

Mulai dikembangkan dari SMP dan diteruskan hingga sekarang, lalu ia menempa dirinya dengan segala kelebihan yang dimilikinya. Dari situlah tirai perjalanan terbuka dan seorang Rajwa Atsila Susilo memulai perjalanannya itu.

Cila lahir di Krui 30 Juli 2010. Cila memiliki hobi membaca yang memang sudah diminati dari dulu. Selain itu, ia juga aktif dalam berbagai organisasi salah satunya ekstrakurikuler PIK-R di SMAN 1 Pesisir Tengah.

“Kalau ada teman yang datang cerita, tugas kami bukan menghakimi, tapi mendengar.”

Ia mengingatkan bahwa betapa pentingnya jika ada seseorang yang datang untuk berkonsultasi lebih baik didengarkan dan ketahui apa permasalahan yang ada, bukan langsung menghakimi.

Sebuah organisasi yang sering dipandang hanya sebagai ekstrakurikuler biasa. Padahal, di balik seragam dan kegiatan sosialisasinya, ada tanggung jawab yang tidak ringan: menjadi teman bagi remaja lain yang membutuhkan tempat cerita.

Perjalanan Cila di PIK-R ternyata tidak dimulai ketika masuk SMA. Sejak duduk di bangku SMP, ia telah mengenal organisasi tersebut. Ketertarikannya terhadap dunia edukasi remaja membuatnya memilih untuk kembali bergabung saat memasuki jenjang SMA.

Baginya, PIK-R bukan hanya organisasi sekolah, melainkan ruang untuk belajar memahami kondisi orang lain sekaligus mengembangkan kemampuan diri.

“Awalnya aku memang ingin mengembangkan kemampuan diri dan memberikan dampak baik kepada orang lain, terutama remaja,” ujarnya.

Selama menjadi anggota Cila aktif mengikuti berbagai kegiatan, mulai dari bersosialisasi di sekolah hingga berbagi informasi mengenai kesehatan remaja, pendewasaan usia pernikahan, kesehatan reproduksi, dan banyak materi lain yang berkaitan dengan Generasi Berencana (GenRe).

Tak hanya itu, ia juga dipercaya menjadi penanggung jawab permainan atau games dalam kegiatan sosialisasi.

Permainan ini diadakan dalam ekstrakurikuler PIK-R pada saat penyampaian materi, inilah yang menyebabkan penyampaian materi terasa lebih seru dan menarik bagi para anggota, serta dapat memecah kesunyian di dalamnya.

Ide-ide yang muncul saat akan melakukan permainan ini juga Cila dapatkan dari melalui berbagai media sosial yang ada, kemudian dikembangkan bersama-sama dengan anggota lainnya.

Menurutnya, bagian permainan justru menjadi momen paling berkesan. Melalui permainan sederhana, peserta dari berbagai sekolah dapat saling mengenal, tertawa bersama, dan membangun keakraban sebelum menerima materi sosialisasi.

Meski demikian, menjadi anggota PIK-R bukan berarti semua persoalan dapat diselesaikan dengan mudah. Cila mengakui masih banyak siswa yang enggan datang untuk berkonsultasi. Bukan karena tidak memiliki masalah, melainkan karena takut rahasianya tersebar atau merasa malu untuk bercerita.

Untuk mengatasi hal tersebut, anggota PIK-R berusaha membangun kepercayaan dengan menjadi pendengar yang baik. Mereka tidak langsung memberikan penilaian ataupun menyalahkan siswa yang datang berkonsultasi.

“Kita lebih banyak mendengarkan dulu. Kalau memang mereka mau cerita, kita dengarkan,” katanya.

Apabila permasalahan yang dihadapi membutuhkan penanganan lebih lanjut, PIK-R akan bekerja sama dengan guru pembina maupun guru Bimbingan dan Konseling (BK). Kerahasiaan siswa tetap dijaga sehingga mereka merasa aman ketika menyampaikan permasalahan yang dialami.

Salah satunya berkaitan dengan kondisi keluarga yang berdampak pada semangat belajar siswa. Karena itu, menurutnya, kehadiran PIK-R menjadi penting sebagai teman sebaya yang mampu memberikan dukungan awal sebelum siswa mendapatkan pendampingan lebih lanjut

Bagi Cila sendiri, bergabung di PIK-R membawa banyak perubahan. Ia memperoleh wawasan baru mengenai kehidupan remaja, kesehatan reproduksi, hingga pentingnya komunikasi yang baik.

Keikutsertaannya di PIK-R bahkan membuka kesempatan mengikuti kegiatan GenRe dan memperluas relasi dengan anggota PIK-R dari sekolah lain.

Pada akhirnya, PIK-R bukan hanya tentang penyuluhan, sosialisasi, atau program kerja, tetapi organisasi ini mengajarkan bahwa kepedulian dapat dimulai dari hal sederhana: menyediakan telinga untuk mendengar dan hati untuk memahami.

Di tengah berbagai persoalan yang dihadapi remaja saat ini, kehadiran sosok Rajwa Atsila Susilo menjadi penolong bagi para remaja.

Cila juga menyampaikan harapannya kepada para remaja. Menurutnya, menjadi remaja yang hebat bukan berarti harus selalu sempurna, melainkan memiliki keberanian untuk terus bertumbuh dan selalu memberi manfaat bagi lingkungan sekitar.

“Remaja hebat bukan remaja yang paling sempurna, tetapi yang berani memulai, berani belajar, dan berani berdampak. Di PIK-R Ceria, remaja bisa jadi agen untuk perubahan.” [Aisyah Shavika/Dona Aulia Aromatika/Natasya Salsa Dila/Suci Yusefa]

Bagikan :

Tinggalkan Komentar Anda