Susi Damayanti
Wartalampung.id, Krui – Di balik deretan angka dan rumus yang rumit, tersimpan kesabaran tanpa batas yang selalu ia curahkan untuk merangkai logika dan memahami bahwa setiap kerumitan hidup selalu memiliki cara untuk diselesaikan.
Mari kita ikuti kisah perjalanan seorang guru di balik ruang kelas, yang hari demi hari dengan tulus menuntun langkah murid-muridnya melewati labirin rumus dan perjalanan yang ia lalui.
Susi Damayanti yang biasa dipanggil Susi, lahir di Jakarta, 23 Januari 1970. Susi sekolah di Jakarta dari SD sampai SMA. Masa-masa itulah yang menjadikan ia sebagai seorang yang hebat di dunia pendidikan.
Susi sudah menyukai matematika sedari kecil. Matematika merupakan cita-citanya yang ia impikan.
Akan tetapi saat menjadi murid di sekolah, gurunya memberikan materi tentang logika matematika. Saat itu ia tidak terlalu menguasai pelajaran yang diberikan guru tersebut.
Pada masa menjadi mahasiswa, Susi kuliah di UI Jurusan Matematika. Ia kuliah dan mengontrak bersama temannya, Wulan.
Saat datang untuk mengikuti kelas, ia dan yang lain diberikan oleh dosen tentang logika matematika tentang menyusun tabel kebenaran. Susi tidak tahu cara menyelesaikannya. Ia melihat teman-temannya yang mengerti dan pintar mengerjakan soal tersebut.
Akhirnya Susi mampir membeli buku, mengerjakannya di kamar secara otodidak.
“Orang lain mampu, saya juga bisa menguasainya,” kata Susi kepada wartalampung.id beberapa waktu lalu. Ia tidak ingin keluar kamar dan makan jika ia belum bisa menguasainya.
Saat berhasil mempelajarinya, Susi merasa menjadi tahu petunjuknya dan bisa menguasainya karena belajar sendiri.
Susi tamat kuliah pada tahun 1991. Ia kemudian diterima mengajar di SMAN 1 Pesisir Tengah. Bersama temannya, Wulan, juga menuju tempat yang sama di Lampung.
Saat mengajar di SMAN 1 Pesisir Tengah, ia mengajar di kelas 3 IPS 5 dan 3 IPS 6. Saat masuk kelas ia mendengar ada kata “geluk”.
Saat itu Susi bertanya tanya apa arti geluk. Susi berusaha beradaptasi di sana.
Awalnya murid-murid bertanya kenapa ia mengenakan jilbab yang lebar dan apakah tidak panas.
“Kalau sudah biasa, enggak panas,” kata dia ketika itu.
Susi menempatkan murid sebagai teman. Saat berangkat ke sekolah, kadang bersama-sama. Ada juga yang naik sepeda.
“Anak-anak saat itu sangat sopan santun.”
Selama mengajar di sekolah ini, Susi sudah mengalami pergantian delapan kepala sekolah.
Pada tahun 1998, Susi menikah. Suaminya adalah guru mata pelajaran kesenian di sekolah yang sama sama.
Susi dan suaminya tinggal di Kampung Jawa. Mereka dikaruniai 3 orang anak perempuan.
Suami Susi pensiun pada 21 Juni 2025.
Bergantinya zaman, anak anak sekarang, kata Susi, lebih senang menggunakan gawai daripada membuka buku.
“Tetapi tidak semua anak seperti itu.”
Susi mengatakan, semua anak memiliki kecerdasan. Misalnya pintar di bidang olahraga, seni, kimia dan lain lain.
“Guru jangan mudah men-judge anak, nanti anak bisa insecure dan tidak bisa berkembang,” katanya.
Susi beranggapan semua yang kita lalui memang pada dasarnya lelah.
“Tetapi kita bisa tahu lelah itu dapat menjadi hal yang baik untuk masa yang datang.” [Arsila/Gibran/Rahmi/Saira]

Tinggalkan Komentar Anda