Berita Foto Opini

Opini: Waspadai Penerbit Indie Abal-Abal

Opini: Waspadai Penerbit Indie Abal-Abal

Ilustrasi buku. | CNNIndonesia.com

Ilustrasi buku. | CNNIndonesia.com

Oleh Kainuna Rafa Ilzami, Mahasiswi Pendidikan Bahasa Prancis FKIP Universitas Lampung

Beberapa tahun terakhir mulai bermunculan penerbit indie atau independen yang menawarkan pencetakan buku murah. Hal ini menarik para penulis yang menginginkan bukunya diterbitkan lebih awal. Mereka akan memiliki cetak fisik karya dengan membayar sejumlah biaya untuk penerbitan, editor, layouter, dan desainer.

Sebagian penulis yang memilih penerbit indie disebabkan sulitnya seleksi karya masuk ke penerbit mayor, seperti Gramedia Pustaka. Penerbit indie yang seharusnya menjadi solusi lain para penulis dengan menerbitkan karya, justru acap menipu dengan penawaran harga yang murah.

Apalagi setelah tahu bahwa ada beberapa penerbit indie yang tidak memiliki alat pencetaknya dan pemiliknya masih berusia di bawah umur. Hal ini seharusnya kembali kepada pengawasan wali dari remaja di bawah umur tersebut.

Selain itu, kebanyakan masalah yang dialami oleh para penulis adalah karya mereka yang jauh dari karya aslinya. Banyak penulisan kata yang salah dan typo, buku yang diterbitkan tidak rapi, dan juga penerbit yang hilang tanpa kabar setelah biaya sudah dikirim.

Jika tugas pengeditan karya penulis itu adalah bagian dari tugas editor untuk merevisi kesalahan kata dalam karya mereka. Tetapi, hal ini malah menyelewengkan tugas tersebut hingga terbit.

Hal ini dinilai sangat tidak profesional dan editor diduga belum memiliki ilmu dasar tentang ejaan yang benar. Oleh karena itu, para penulis banyak yang merasa kecewa dan berharap akan penerbit indie memperhatikan pegawai dan afilasi yang digunakan.

Namun, keinginan ini malah digunakan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab untuk mengambil kesempatan dalam kesempitan. Sebagian dari penerbit indie abal-abal dengan asal merekrut pekerja yang tidak ahli dalam bidangnya.

Sedangkan sebagian lainnya, mereka menipu para penulis dengan daya tarik biaya yang murah, tetapi buku tidak terbit dan mereka menghilang tanpa kabar.

Para penulis yang karyanya menjadi berbeda jauh dan berantakan ketika terbit di penerbit indie merasa sangat kecewa dan kesal. Tetapi, kontrak yang sudah ditandatangani membuat mereka tidak bisa berbuat apa-apa untuk bisa menuntut penerbit indie tersebut.

Mereka hanya bisa kesal dan melampiaskannya sendiri. Mereka sudah menabung untuk menerbitkan karya mereka, tetapi hasilnya malah sangat mengecewakan.

Hal itu berlaku pula kepada para penulis yang ditipu setelah mengirim biaya percetakan buku. Mereka sudah menunggu lama dan tidak ada tanggapan dari penerbit indie yang mereka pilih.

Keresahan ini sangat merugikan mereka, terutama terdapat penerbit indie abal-abal yang mengincar teman-teman penulis di media sosial, contohnya akun Instagram dengan username @stiletto_book.

Kekecewaan tersebut sudah banyak dikemukakan di berbagai media sosial yang dimiliki oleh para penulis. Oleh karena itu, para penulis harus lebih berhati-hati dalam menekan kontrak dengan penerbit indie.

Selain memperhatikan isi kontrak, para penulis harus mencari tahu terlebih dahulu rekam jejak penerbit indie yang akan digunakan. Hal tersebut guna menghindari kejadian-kejadian yang bisa merugikan para penulis di kemudian harinya. []

Bagikan :

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tinggalkan Komentar Anda