Rafale F8. | BBC

Oleh Ramzy Nauval, Mahasiswa Pendidikan Bahasa Prancis FKIP Universitas Lampung
Jakarta telah mengukuhkan kedatangan Rafale F8 dalam agenda utama revitalisai fungsional dirgantara Indonesia. Rafale dipastikan akan menjadi bagian dari Angkatan Udara RI pada 2026.
Sontak pembelian Rafale F8 oleh Indonesia mengguncang dunia. Indonesia yang sudah lama memiliki alutsista usang dan hanya memiliki upgrade di beberapa alutsista paling anyar membuat gebrakan luar biasa di panggung Dunia.
Asia Tenggara gempar ketika Singapura berhasil menekan kerja sama proyek pengadaan F35B oleh Amerika. Sempat melakukan negosiasi dengan Pentagon dan Lockheed Martin, Menteri Pertahanan Prabowo Subianto tak gentar meski ditolak penawaran Indonesia terhadap F35.
Kementerian Pertahanan mengalihkan perhatian kepada kandidat lainya di antaranya SAAB Jas 39 Gripen, Rafale F8, dan Eurofighter Typhoon.
Berdasarakan data statistik serta relevansi kegunaan dan kebutuhan Indonesia, Rafale F8 mengalahkan dua kandidiat lainya. Dalam kecakapan bermanuver, Rafale memenuhi standar utama dari Kementerian Pertahanan dalam mendukung upaya pertahanan wilayah udara Indonesia.
Rafale F8 sangat sesuai digunakan oleh Indonesia dalam mempertahankan wilayah. Kemampuan superioritas udara Rafale F8 sangat medukung kebijakan Green Sky Indonesia.
Berdasarkan dialog tertutup antara Prabowo Subianto dan Florance Parly, Menteri Pertahanan Prancis, kedua negara setuju dengan proyek pengadaan jet tempur Rafale F8.
Publik dunia sontak terguncang dengan keberanian Jakarta dengan mendatangkan Rafale F8 ke Halim Perdanakusuma. Dengan cepat BNN Blomberg, media asing asal Kanada, memublikasikan keputusan berani Indonesia dalam mendatangkan Rafale.
Dengan datangnya Rafale F8, Indonesia telah memulai persiapan memperkuat militer di tengah meningkatnya ketegangan di Laut China Selatan.
Rafale merupakan jet tempur buatan Thales dan EADS France. Jet tempur Rafale terinspirasi dari ketidakcakapan Eurofighter Typhoon dalam kerja sama Uni Eropa dalam memenuhi kebutuhan Angkatan Udara Prancis untuk mendukung misi superioritas udara Uni Eropa.
Namun, dalam kerja sama tersebut, Prancis mundur. Mereka secara mandiri mengembangkan jet tempur multiperan lokal yang kini dikenal dengan Rafale F8.
Dalam misi domestik Rafale memiliki kecakapan dalam mengendalikan peperangan, baik berbasis konvensional maupun elektrik, dengan dibekali sistem radar AESA RBE2 AA (Anntena Aciffe) mampu menunjang basis penyesuaian akselerasi manuver pesawat.
Sistem tempur yang ditunjang oleh Système de Protection et d’Évitement des Conduites de Tir du Rafale (Self-Equipment Countering Threats to Rafale Aircraft atau dikenal Spectra).
Rafale dibekali dengan mesin turbo ganda dengan sistem pembakaran Afterburer guna mendukung manuver +9G atau -3G. Pesawat ini juga mampu dipacu di lapangan lepas landas berukuran 400 meter.
Rafale juga didukung dengan high intensity mobile dengan bantuan sistem konsumsi bahan bakar oleh Dassault Rafale. Serta dengan kemampuan membawa dan mencegah serang rudal hipersonik, Rafale menjadi salah satu pesawat multiperan terbaik di kelasnya.
Kehadiran 42 Rafale di Jakarta pada 2026 nanti akan menambah kekuatan dirgantara Indonesia di kancah internasional. Indonesia dapat unjuk gigi di kawasan Asia Pasifik serta dapat bersanding dengan Singapura dan Australia yang telah memiliki F35.
Kehadiran Rafale dapat membantu Indonesia dalam mempersiapkan pengadaan senjata hipersonik di masa mendatang.
Kemampuan Rafale sudah terbukti dalam operasi perang Teluk, operasi PBB di Afghanistan, serta Perang Libya. Rafale menjadi Jet tempur yang mampu mendominasi peperangan udara ke darat, udara ke laut, maupun udara ke udara, serta mampu mengecoh radar pesawat musuh.
Rafale juga terbukti memiliki kecakapan dalam mengelabui sistem pertahanan udara pihak musuh, terbukti dalam perang di Libya.
Rafale merupakan salah satu alutsista modern kebanggaan Prancis serta poros terdepan NATO dalam bentuk satuan pertahahan udara.
Rafale yang oleh NATO diberi code Squall merupakan jet tempur multiperan yang dapat bersanding dengan SU-27, SU-35, F16 Eagle, F/A-18 SuperHornet, JS 39 Gripen, serta Eurofighter Typhoon.
Bahkan digadang-gadang Rafale mampu bersanding dengan jet tempur generasi kelima seperti SU-57 Felon, Chengdu J-20 Mighty Dragon maupun F35 Lightning Strike buatan Lockheed Martin.
Kecakapan alutsista skuadron Halim Perdakusuma tersebut dapat menjadi angin segar bagi Indonesia serta membuka peluang negara ini dalam proyek pengembangan senjata hipersonik.
Perang saat ini sudah berubah dan kecakapan alutsista dalam menghadapai rangkaian situasi menuntut dalam kurun high intensisty mobile yang menuntut adaanya pembaruan perangkat peperangan elektronik. []
