Berita Foto Opini

Opini: Bom Waktu Itu Bernama Sampah

Opini: Bom Waktu Itu Bernama Sampah

Riskha Tri Budiarti. | Dokumentasi

Riskha Tri Budiarti. | Dokumentasi

Riskha Tri Budiarti, Pendiri Bank Sampah Lestari Sejahtera Bandar Lampung, Alumnus Magister Sains FEB UGM

Setiap harinya sekitar 800 ton lebih diangkut sampah ke TPA Bakung Kota Bandar Lampung. Bahkan menurut petugas TPA Bakung seperti dikutip harian republika.co.id pada tanggal 15 Oktober 2019 sampah yang diangkut ke TPA Bakung bisa mencapai 1.000 ton per hari.

Jumlah ini sangat besar bila dibandingkan dengan kota-kota besar lainnya. Paradigma kumpul-angkut-buang masih menjadi paradigma pengelolaan sampah di Bandar Lampung.

Begitu pula sistem pengelolaan di TPA menggunakan sistem paling primitif yaitu sistem open dumping, sampah dibuang dan ditumpuk begitu saja menyebabkan konsekuensi buruk bagi ekologis.

Dari berbagai jenis sampah yang terkumpul, 40 persen berupa sampah anorganik dan 60 persen berupa sampah organik. Penanganan sampah anorganik sesuai dengan prinsip sirkular ekonomi seharusnya didaur ulang untuk menjadi sesuatu yang bermanfaat.

Karena sampah anorganik ini tidak dapat atau butuh waktu ratusan tahun untuk diurai oleh alam. Daur ulang sampah anorganik masih sangat rendah di Indonesia, menurut Sustainable Waste Indonesia, hanya 7 persen sampah plastik yang didaur ulang. Sisanya tertumpuk di TPA, dibakar, atau bahkan berserakan di sungai dan laut.

Di Kota Bandar Lampung, sarana dan infrastruktur daur ulang juga sangat minim. Sampah daur ulang masih dikelola secara tradisional oleh para pemulung dan pengepul, sebagian besar dikirim ke Jakarta untuk didaur ulang, hanya sebagian kecil yang didaur ulang di Bandar Lampung.

Adapun terkait sampah organik, Indonesia menghadapi masalah serius terhadap sampah organik karena Indonesia menduduki peringkat kedua negara yang paling banyak membuang makanan (food waste) setelah Arab Saudi. Sampah organik akan menghasilkan gas metana dan gas karbondioksida yang merupakan penyumbang bagi pemanasan global.

Sampah organik juga menghasilkan air lindhi yang berpotensi mencemari sumber air. Berdasarkan riset yang dilakukan oleh Iryani DA dkk yang dipublikasikan pada Journal of Natural Resources and Environmental Management IPB, gas metana yang dihasilkan TPA Bakung meningkat tiap tahunnya.

Pada tahun 2018 volumenya sebesar 788 ribu meter kubik. Pada tahun berikutnya sudah mencapai 1.3 juta meter kubik. Tahun 2032 diestimasikan mencapai 3,6 juta meter kubik yang setara dengan 2.420 ton atau 2,4 juta kg.

Jumlah ini bukanlah jumlah yang bisa diremehkan. Pada tahun 2005 TPA Leuwigajah Kota Cimahi meledak hingga menewaskan 157 jiwa dan meluluhlantakkan dua perkampungan yang jaraknya 1 km dari TPA.

Penyebabnya tidak lain adalah gas metana yang terkumpul dalam jumlah besar dan terjebak diantara tumpukan sampah anorganik.

Dengan potensi produksi gas metana yang begitu besar di TPA Bakung, seperti menyimpan bom yang sewaktu-waktu bisa meledak. Masyarakat dan pemerintah harus bahu-membahu mencegah bencana ekologis yang diakibatkan oleh sampah yang tidak terkelola dengan baik agar tragedi yang terjadi di Leuwigajah tidak terulang di Bandar Lampung.

Masyarakat harus mengubah paradigma kumpul-angkut-buang menjadi kurangi-pilah-olah sampah sejak dari sumbernya. Sudah sangat mendesak bagi Pemerintah Kota Bandar Lampung untuk melakukan pengelolaan dan pemusnahan sampah dengan mentransformasi menjadi produk yang lebih bermanfaat.

Karena itu, Keluarga Alumni Gadjah Mada (Kagama) Lampung sedang merumuskan formula dan teknologi terkait pengelolaan sampah ramah lingkungan dan dukungan pada manajemen bank sampah.

Sebagai bagian dari warga Bandar Lampung yang peduli dengan permasalahan masyarakat, Kagama ingin berkontribusi dalam penyelesaian masalah sampah dengan mengajak seluruh pihak mulai dari pemerintah, entitas bisnis, dunia pendidikan, masyarakat, dan media.

Masing-masing pihak memiliki peran penting dalam penyelesaian masalah sampah ini. []

Bagikan :

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tinggalkan Komentar Anda