Bandar Lampung

Narasumber di Farmasi, Mahasiswa Pendidikan Bahasa Prancis FKIP Unila Michelle Sasha Sidabalok Bedah Logical Fallacy

Narasumber di Farmasi, Mahasiswa Pendidikan Bahasa Prancis FKIP Unila Michelle Sasha Sidabalok Bedah Logical Fallacy

Michele Sasha Sidabalok. | Delima Kurnia

Wartalampung.id, Bandar Lampung -Mahasiswa bertindak sebagai agen perubahan (agent of change) yang bertumpu pada kekuatan gagasan.

Oleh karena itu, setiap keputusan strategis di ruang publik maupun organisasi tidak boleh didasarkan pada senioritas atau siapa yang bersuara paling keras, melainkan harus berlandaskan validitas argumen.

Hal tersebut ditegaskan oleh Michelle Sasha Sidabalok saat hadir sebagai narasumber dalam kegiatan Latihan Keterampilan Manajemen Mahasiswa Fakultas (LKMM-F) Program Studi Farmasi, Fakultas Kedokteran Universitas Lampung (Unila), Sabtu (4/7/2026).

Sasha, yang juga dikenal sebagai Duta GenRe sekaligus Ketua Umum Ikatan Mahasiswa Bahasa Prancis (Imasapra) 2026, membawakan materi bertajuk Logical Fallacies (Kecacatan Logika Berpikir).

“Memenangkan argumen itu bukan tentang siapa yang paling hebat mematahkan lawan, tapi tentang seberapa dekat kita pada kebenaran,” ujar Sasha pada saat diwawancarai.

Selama penyampaian materi, Sasha menguraikan beberapa bentuk kecacatan berargumen yang paling sering ditemui dalam perdebatan sehari-hari.

Contohnya seperti ad hominem yang menyerang pribadi lawan bicara, strawman yang memelintir argumen lawan, appeal to authority yang menganggap pernyataan pasti benar hanya karena disampaikan pimpinan, hingga False Dilemma yang membatasi pilihan hanya pada dua titik ekstrem.

Ia memperingatkan bahwa pembiaran kecacatan berpikir ini dapat menciptakan iklim organisasi yang beracun, melahirkan keputusan yang salah sasaran, dan membendung daya kritis para anggota.

Guna membangun penalaran yang lebih taktis, Sasha membagikan sejumlah strategi praktis seperti memisahkan data dari emosi, menerapkan principle of charity, hingga membiasakan diri mengevaluasi logika berpikir pribadi sebelum berargumen.

Sesi materi yang berlangsung interaktif ini disambut antusias oleh para peserta yang aktif mengkritisi contoh kasus riil di kampus.

Menutup keterangannya, Sasha berharap pengetahuan ini menjadi kebiasaan baru bagi mahasiswa untuk terus merawat ruang diskusi yang jernih, objektif, dan bernalar sehat.

“Jangan takut dikritik dan jangan malas menguji logika berpikir sendiri. Mari kita rawat ruang diskusi kampus dengan argumen yang jernih, berbasis data, dan bernalar sehat,” pungkasnya. [Putu Suati Kartika Dewi/Mirliana Amira]

Bagikan :

Tinggalkan Komentar Anda