Berita Foto Ruwajurai Bandar Lampung

Kenalan dengan Mora Mahasiswi Difabel Universitas Lampung yang Menginspirasi, Kekurangan Bukanlah Halangan

Kenalan dengan Mora Mahasiswi Difabel Universitas Lampung yang Menginspirasi, Kekurangan Bukanlah Halangan

Mora. | Dokumentasi Pribadi

Mora. | Dokumentasi Pribadi

Wartalampung.id, Bandar Lampung – Disabilitas tidak menghentikan seseorang untuk berkarya dan menginspirasi orang lain. Meski memiliki keterbatasan, mereka mampu menunjukkan bakat dan inovasi kepada orang-orang di sekitarnya.

Salah satunya Mora (23) seorang mahasiswi difabel yang tetap berusaha berkecimpung di dunia nyata tanpa merasa terhalang oleh keadaannya yang tunadaksa. Mora adalah mahasiswi Pendidikan Bahasa Prancis FKIP Universitas Lampung.

Mora memiliki hobi menulis meskipun belum memiliki keberanian untuk menerbitkan tulisannya. Ia sangat suka bermain game online hingga sering aktif mengikuti turnamen online dan sering memenangkan beberapa sertifikat dari tahun 2019-2021.

‘’Iya, saya suka banget main game. Itu kayak stress relief buat saya,” kata dia kepada wartalampung.id di ruang game-nya.

Karena hobinya bermain game, ia banyak bertemu orang dari berbagai daerah yang membuatnya terbiasa hingga lancar berbahasa daerah.

‘’Kadang kalau ada orang ngomong pakai bahasa Indonesia tapi agak kesusahan dan saya tahu dia orang Jawa, saya langsung jawab pakai bahasa Jawa biar enggak canggung pas main. Biar santai gitu,’’ kata dia.

Walaupun Mora memiliki talenta di dunia bahasa dan menulis, itu tidak menjadikan hal tersebut sebagai cita-cita utamanya. Ia sangat ingin melakukan hal-hal yang dilakukan oleh orang-orang normal lainnya.

Seperti halnya koki. Mora mengaku ia sangat suka memasak dan tidak jarang menggunakan tangan orang lain untuk memasak sesuai arahannya. Temannya sering memuji bahwa masakannya sangat enak.

‘’Orang-orang, termasuk orang tua saya sendiri, sering bilang saya memiliki bakat di bidang bahasa dan menulis. Tetapi jujur, saya tidak mau menjadikan hal itu sebagai hobi yang dijadikan sebagai profesi. Saya masih ingin melakukan hal yang lebih dari ini. Justru saya tertarik sama hal yang enggak bisa saya lakukan, kesannya aneh sih. Tapi ya namanya setiap manusia kan beda-beda dan enggak akan pernah puas sama apa yang dimilikinya. Tapi dalam hal positif,” kata dia.

Baginya, merasa tidak puas adalah langkah pertama untuk kemajuan. Kepuasan yang tak ternilai adalah saat kita mampu melakukan apa yang menurut orang lain kita tidak mampu melakukannya. 

Walaupun mereka yang selalu mengikuti kata hati mungkin saja bisa tersesat, setidaknya merasa puas sebab berhasil membiarkan dirinya bebas berekspresi. [Catherine Fauzia Aliyya Puteri, Mahasiswi Pendidikan Bahasa Prancis FKIP Universitas Lampung]

Bagikan :

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tinggalkan Komentar Anda