Purnama Wulan Sari. | Dokumentasi Universitas Teknokrat Indonesia

SAYA dan Purnama Wulan Sari satu sekolahan di SMAN 2 Bandar Lampung. Saya masuk tahun 1994 dan lulus 1997. Batin Wulan, demikian kini ia biasa disapa, masuk Smanda—julukan sekolah ini—tahun 1995 dan lulus tahun 1998. Kami beda satu angkatan.
Kakak kandung Wulan, Rangga Putra Nuril namanya, satu angkatan dengan saya. Mereka anak dari pengusaha kondang di Lampung: Nuril Hakim Djohansyah.
Saya dan Rangga kebetulan sama-sama pengurus OSIS. Saat regenerasi OSIS saat kami kelas II, kini kelas IX, saya didapuk menjadi ketua umum. Rangga saya masukkan sebagai pengurus bidang.
Saya lupa kenal Wulan awalnya bagaimana. Tapi ya mungkin karena satu sekolahan, apalagi kenal kakaknya, ya kenal begitu saja.
Namun, dengan Wulan, saya ada pengalaman istimewa. Suatu waktu dia temui saya. Wulan bilang nanti beberapa hari ke depan ada wartawan dari majalah Anita Cemerlang mau ke sekolah. Mau liputan. Termasuk mau ketemu dengan saya yang ketua umum OSIS.
Wah, kabar baik. Saya belum pernah ketemu wartawan, apalagi majalah terkenal di Jakarta.
Beberapa hari kemudian, saat di kelas, 3 IPS 1, saya dipanggil ke kantor kepala sekolah. Rupanya wartawan majalah Anita Cemerlang itu datang. Dia mewawancarai saya. Seputar OSIS. Apa kendala dan apa program ke depan.
Usai wawancara saya diminta berpose dan cari tempat yang bagus. Pilihan si wartawan itu di antara batang kelapa sawit. Dulu di Smanda banyak kelapa sawit yang sudah tak berbuah. Di antara celah dua batang sawit itulah saya difoto.
Beberapa minggu dari itu Wulan datang ke kelas. Ia menyerahkan satu eksemplar majalah Anita Cemerlang. Majalah ini memang isinya kebanyakan cerpen dan puisi. Beberapa halaman diisi dengan rubrik remaja. Semacam lifestyle begitu.
Liputan Smanda lengkap dua halaman. Laporan utamanya tentang sekolah kami yang mengasuransikan semua siswa. Si wartawan menulis itu karena tertarik dengan cerita bapak kepala sekolah, S Kardi Idris.
Ceritanya seorang teman kami, Iwan, kelas 3 IPA 1, saat mau les dicegat berandalan dan ditusuk karena tak mau kasih uang. Dipalak istilahnya. Iwan pun diopname beberapa hari. Cerita itu yang menjadi laporan utama majalah tersebut.
Poin lainnya soal prestasi sofbol sekolah kami. Memang untuk ukuran nasional, sofbol Smanda adiluhung.
Di artikel itulah ada selarik ujaran langsung saya sebagai ketua OSIS. Foto saya juga terpampang keren di majalah itu. Buat saya sih ya ganteng. Hahahaha.
Seminggu setelah majalah terbit, beberapa surat dari beragam tempat di Nusantara masuk ke kantor. Tentu buat saya. Istilah zaman dulu sahabat pena.
Mereka kirim surat dengan harapan dibalas dan jadi sahabat pena. Sebuah kultur literasi yang bagus sebetulnya. Barangkali anak zaman sekarang tak kenal istilah sahabat pena.
Teman saya Fitria Sari Putri atau biasa disapa Upit-lah yang paling sering membawakan surat itu dari kantor ke kelas. Kebetulan kelas kami sebelahan. Upit di 3 IPS 2.
Kalau Upit mager bawakan surat, paling dia kasih tahu saya.
”Yan, tuh ada surat buat elu di kantor.”
Surat itu semua saya baca. Kadang dibaca juga sama kawan sekelas. Banyak juga jumlahnya. Mungkin tiga puluhan. Dari jumlah itu, nyaris semuanya perempuan.
Martha Andriana, kawan sekelas yang juga bendahara OSIS, sibuk mau balas satu per satu surat itu.
”Kalau elu sibuk, biar gua aja yang balas.”
Saya jawab, ” Enggak usah, Ta. Makasih.”
Oh iya, di majalah itu, profil Wulan juga ada. Rupanya ada di halaman mode. Wulan piawai menjadi model.
Lepas SMA, saya lama tak jumpa Wulan. Pernah jumpa waktu acara pemimpin redaksi Lampost mengkhitankan anaknya. Wulan dan saya jumpa. Hanya saling sapa sebentar. Habis itu bertahun-tahun tak berkontak.
Waktu jelang pemilihan gubernur, Batin Wulan makin sibuk. Maklum, ia adalah istri gubernur Lampung terpilih Rahmat Mirzani Djausal. Mirza juga Smanda 1998, seangkatan dengan Wulan. Juga dari keluarga terpandang. Ayahnya Mirza, Faishol Djausal, tokoh terpandang di Lampung.
Jelang hari pencoblosan, pada 22 November 2024, saya diminta ke Universitas Teknokrat Indonesia. Media yang saya kelola, wartalampung.id, bermitra dengan Teknokrat hampir lima tahun berjalan.
Soal Teknokrat ini juga bisa dibilang Smanda connection. Dua anak dari Rektor Teknokrat, Nasrullah Yusuf, juga alumnus Smanda. Dewi Sukmasari, anak pertama Pak Nasrul, satu angkatan dengan saya. Anak keduanya, Mahathir Muhammad, lulusan tahun 1999.
Acara di Teknokrat itu seminar yang menghadirkan Wulan.
Wulan tampil memukau. Wicara publiknya apik. Gesture-nya oke. Cara penyampaian juga bagus sekali. Ia mampu memukau dan menguasai audiens.
Usai acara, kami wawancara. Saya dan beberapa jurnalis yang hadir wawancara dengan Wulan.
Saya kebetulan pakai masker. Sengaja tak menegur, jaga-jaga yang disapa lupa saking lamanya tak berkorespondensi.
Tulisan ini hadir karena mengingat momentum itu.
Barangkali kalau tak “karena” Wulan, saya tak masuk majalah dan punya sahabat pena yang tak satu pun saya balas surat-surat mereka.
Buat Batin Wulan, jika tak ada aral melintang, tahun depan jadi ketua tim penggerak PKK Lampung mendampingi Mirza sebagai gubernur.
Doa saya sebagai kakak kelas, semoga kalian berdua, Batin Wulan dan Kyay Mirza, bisa jadi pasangan yang menginspirasi dan mampu memimpin Lampung dengan baik.
Ngomong-ngomong, Batin Wulan masih simpan majalah Anita Cemerlang tahun 1996 itu tidak? Tabik.
Kebonjeruk, Senin larut malam, 16 Desember 2024. [Adian Saputra]

Tinggalkan Komentar Anda