Bebalei
Wartalampung.id, Bandar Lampung — Tim Pengabdian Universitas Lampung (Unila) melalui Program Inovasi Seni Nusantara (PISN) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) bersama Sanggar Putri mendokumentasikan ritual Bebalei dalam bentuk video dokumenter di Desa Labuhan Ratu IX, Plang Ijo, Kabupaten Lampung Timur, Minggu 9 Agustus 2026.
Dokumentasi tersebut dilakukan sebagai upaya melestarikan ritual tradisional masyarakat Lampung yang berkaitan dengan hubungan manusia dan alam.
Pemilihan Bebalei sebagai objek program juga dilatarbelakangi maraknya konflik satwa di kawasan Taman Nasional Way Kambas (TNWK), sehingga diperlukan pendekatan persuasif untuk menyampaikan pentingnya menjaga kelestarian alam melalui seni.
Ketua Pelaksana Program Inovasi Seni Nusantara, Amelia Hani Saputri, mengatakan hari ini di Badar Lampung.
Bebalei dipilih karena memiliki keterkaitan erat dengan upaya menjaga keseimbangan hubungan manusia dan lingkungan.
Amelia mengatakan, maraknya kasus konflik satwa di kawasan Taman Nasional Way Kambas sehingga dibutuhkan upaya persuasif untuk menyuarakan pentingnya menjaga kelestarian alam melalui seni.
”Bebalei adalah salah satu tradisi masyarakat Lampung yang erat kaitannya dengan kelestarian alam, namun saat ini hampir hilang di masyarakat,” ujar Amelia kepada wartalampung.id.
Bebalei merupakan ritual tradisional masyarakat Lampung di Kabupaten Lampung Timur yang dilaksanakan ketika masyarakat akan membuka lahan baru untuk bercocok tanam maupun membangun tempat tinggal.
Ritual tersebut mengandung permohonan perlindungan kepada Tuhan sekaligus menjadi bentuk penghormatan masyarakat terhadap alam.
Menurut Amelia, pendokumentasian Bebalei menjadi penting karena proses pewarisan pengetahuan mengenai ritual tersebut selama ini masih dilakukan secara lisan.
“Transfer pengetahuan Bebalei hanya dilakukan secara lisan sehingga tidak ada arsip tertulis dan digital. Jika Bebalei hilang, tidak akan ada lagi generasi penerus,” katanya kepada Wartalampung.id.
Dalam proses pendokumentasian, tim mengambil gambar berbagai unsur ritual, mulai dari persiapan, perlengkapan yang digunakan, proses pelaksanaan hingga pembacaan sastra lisan Bebalei.
Tokoh adat turut dilibatkan untuk menjelaskan sekaligus memimpin jalannya ritual.
Tokoh adat Abung Siwo Migo, Baherman bergelar Tuan Raja Mangku, serta tokoh adat Desa Rajabasa Lama, Drs. Hasanudin bergelar Suttan Pengadilan, terlibat dalam kegiatan tersebut.
Tokoh adat berperan sebagai pemimpin ritual, termasuk dalam prosesi membuka lahan melalui doa dan lantunan sastra lisan.
Kegiatan tersebut juga melibatkan generasi muda sebagai peserta ritual. Mereka mengikuti prosesi dengan mengenakan pakaian berwarna putih sebagai bagian dari proses pengenalan kembali tradisi Bebalei kepada generasi penerus.
Dalam prosesnya, tim menghadapi kendala berupa keterbatasan beberapa perlengkapan ritual asli yang saat ini sulit ditemukan.
Salah satunya adalah sesajen berupa ayam berwarna hitam yang menjadi bagian dari perlengkapan dalam pelaksanaan ritual.
Selain sebagai tradisi dalam pembukaan lahan, Bebalei mengandung nilai ekologis yang berkaitan dengan larangan merusak hutan serta pentingnya menjaga hubungan harmonis antara manusia dan alam.
Nilai tersebut menjadi salah satu pesan utama yang akan diangkat dalam karya seni yang dikembangkan oleh tim.
“Nilai yang paling penting untuk dimunculkan melalui video adalah hubungan harmonis antara manusia dan alam,” kata Amelia.
Video dokumenter yang dihasilkan selanjutnya akan dikembangkan menjadi karya Sendratari Ritual Bebalei.
Pengembangan tersebut menjadi bagian dari gagasan untuk memperkenalkan kembali ritual Bebalei yang mulai ditinggalkan kepada masyarakat, khususnya generasi muda, melalui media seni pertunjukan.
Amelia berharap program tersebut tidak hanya menghasilkan dokumentasi, tetapi juga mampu menghidupkan kembali pengetahuan mengenai Bebalei di tengah masyarakat.
“Bebalei tidak hanya berhenti sebagai tradisi yang pernah dilaksanakan dan didokumentasikan, tetapi dapat terus hidup, dikenal, dipelajari, dan diwariskan oleh generasi muda,” ujarnya
Melalui program tersebut, Unila dan Sanggar Putri berharap Bebalei dapat dikenal secara lebih luas dan mendorong semakin banyak generasi muda untuk mencintai serta menjaga lingkungan.
Upaya tersebut juga diharapkan dapat berkontribusi terhadap terciptanya hubungan yang lebih harmonis antara manusia dan satwa di kawasan Taman Nasional Way Kambas. [Ridho Ardi Anda]

Tinggalkan Komentar Anda