PKM Unila
Wartalampung.id, Bandar Lampung – Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Universitas Lampung tengah melaksanakan program pendampingan intensif bagi guru-guru di SLB A Bina Insani Bandar Lampung melalui penerapan metode Multi-sensory untuk meningkatkan kualitas Pembelajaran Geometri dan Bahasa Inggris bagi peserta didik tunanetra.
Program yang dilaksanakan selama delapan kali pertemuan ini diketuai oleh Dr. Siti Mutmainah, M.Pd. bersama Aksendro Maximilian, S.Pd., M.Pd., Ph.D. dan Fitri Yulianti, S.Pd., M.Pd., serta melibatkan mahasiswa Universitas Lampung, yaitu Angga Syaputra, Fadhlur Rohman, dan Purnama Hanan Murod, dalam setiap tahapan kegiatannya.
Kegiatan ini merupakan PkM yang didanai melalui Program Hibah Pengabdian kepada Masyarakat skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat (Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat) tahun 2026 BIMA Kemdiktisaintek, berdasarkan nomor kontrak induk 158/C3/DT.05.00/PM/2026 tertanggal 13 April 2026 dan nomor kontrak turunan 358/UN26.21/PM/2026 tertanggal 20 April 2026.
Program pengabdian ini berangkat dari hasil identifikasi kebutuhan di SLB A Bina Insani yang menunjukkan masih terbatasnya media pembelajaran adaptif, khususnya alat peraga geometri bagi peserta didik tunanetra.
Selain itu, pembelajaran Bahasa Inggris di sekolah juga masih memerlukan inovasi yang lebih sesuai dengan karakteristik peserta didik yang mengandalkan kemampuan pendengaran dan perabaan sebagai modal utama dalam memperoleh informasi.
Kondisi tersebut mendorong tim pengabdian menghadirkan program pendampingan berbasis metode Multi-sensory yang mengintegrasikan aspek taktil dan auditori dalam proses pembelajaran sehingga peserta didik memperoleh pengalaman belajar yang lebih bermakna.
Rangkaian kegiatan diawali dengan sosialisasi program kepada kepala sekolah dan seluruh guru sebagai bentuk penyamaan persepsi mengenai tujuan dan pelaksanaan kegiatan.
Pada tahap ini tim juga melaksanakan pre-assessment melalui identifikasi kondisi alat peraga geometri yang dimiliki sekolah serta pemetaan kemampuan awal peserta didik dalam penguasaan kosakata Bahasa Inggris.
Hasil analisis tersebut menjadi dasar penyusunan materi pelatihan dan strategi pendampingan yang disesuaikan dengan kebutuhan sekolah.
Selanjutnya, tim memberikan pelatihan kepada sepuluh guru mengenai konsep Neuroplastisitas dan kompensasi sensorik pada peserta didik tunanetra.
Pada pelatihan tersebut guru memperoleh pemahaman mengenai bagaimana otak dapat mengoptimalkan fungsi pendengaran dan perabaan sebagai pengganti informasi visual.
Guru juga dibimbing menyusun perangkat pembelajaran berbasis Multi-sensory yang mengintegrasikan aktivitas rabaan, instruksi audio, serta pengalaman belajar yang lebih kontekstual sehingga mampu meningkatkan keterlibatan peserta didik selama proses pembelajaran berlangsung.
Pada tahap implementasi, tim memperkenalkan media pembelajaran geometri adaptif berupa alat peraga yang dilengkapi tekstur berbeda dan label Braille sehingga peserta didik dapat mengenali bentuk bangun ruang melalui sentuhan secara lebih akurat.
Sementara pada pembelajaran Bahasa Inggris diterapkan pendekatan English Auditory-Mastery melalui pemanfaatan lagu, audio, storytelling, serta aktivitas listening dan speaking yang dirancang khusus untuk meningkatkan penguasaan kosakata, pelafalan, dan kemampuan komunikasi peserta didik tunanetra.
Pendampingan tidak berhenti pada tahap pelatihan. Tim dosen Universitas Lampung secara rutin mendampingi guru ketika mengajar di kelas, memberikan umpan balik terhadap strategi pembelajaran yang diterapkan, sekaligus membantu guru melakukan refleksi terhadap hasil pembelajaran.
Selain itu, tim pengabdi juga melakukan evaluasi kognitif melalui pengukuran kemampuan representasi geometri dan tes penguasaan kosakata Bahasa Inggris sebagai indikator keberhasilan program pendampingan.
Ketua Tim Pengabdian, Dr. Siti Mutmainah, M.Pd., mengatakan bahwa program ini merupakan bentuk komitmen Universitas Lampung dalam mendukung peningkatan mutu pendidikan inklusif melalui penguatan kapasitas guru.
“Guru merupakan ujung tombak pendidikan inklusif. Karena itu, kami tidak hanya memberikan pelatihan, tetapi juga melakukan pendampingan secara langsung agar guru memiliki pengalaman nyata dalam menerapkan metode multi-sensory di kelas. Harapannya, setelah program ini selesai, guru dapat mengembangkan sendiri pembelajaran yang lebih adaptif sesuai kebutuhan peserta didik tunanetra,” ujar Siti Mutmainah.
Sementara itu, Aksendro Maximilian, S.Pd., M.Pd., Ph.D., menjelaskan bahwa pembelajaran Bahasa Inggris bagi peserta didik tunanetra memerlukan pendekatan yang berbeda dengan peserta didik pada umumnya.
Menurutnya, kekuatan utama peserta didik tunanetra terletak pada kemampuan mendengar sehingga strategi pembelajaran perlu dirancang untuk memaksimalkan potensi tersebut.
“Melalui pendekatan English Auditory-Mastery, kami memanfaatkan lagu, audio, storytelling, dan berbagai aktivitas komunikasi yang menyenangkan. Pendekatan ini diharapkan mampu meningkatkan penguasaan kosakata, memperbaiki pelafalan, sekaligus membangun rasa percaya diri peserta didik dalam menggunakan Bahasa Inggris,” jelas Aksendro.
Fitri Yulianti, M.Pd. juga menambahkan bahwa keberhasilan pembelajaran tidak hanya ditentukan oleh metode mengajar, tetapi juga oleh kesiapan psikologis guru dan peserta didik.
Oleh karena itu, pendampingan yang diberikan juga mencakup penguatan motivasi, pengelolaan kelas yang inklusif, serta kemampuan guru dalam memahami kondisi emosional peserta didik.
“Lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan suportif akan membantu peserta didik tunanetra lebih percaya diri untuk belajar dan berpartisipasi aktif di kelas. Karena itu kami juga mendampingi guru dalam membangun iklim pembelajaran yang lebih inklusif dan memberikan dukungan emosional yang positif kepada peserta didik,” tutur Fitri.
Kepala SLB A Bina Insani Bandar Lampung, Ance Setia Andayani, M.M.Pd., menyambut baik pelaksanaan program tersebut. Menurutnya, pendampingan yang diberikan tim FKIP Universitas Lampung sangat membantu guru dalam memperoleh strategi pembelajaran baru yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik tunanetra.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada tim Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Lampung yang telah mendampingi guru-guru kami secara intensif. Program ini memberikan wawasan baru sekaligus pengalaman praktik yang sangat bermanfaat dalam mengembangkan pembelajaran yang lebih inovatif, adaptif, dan ramah bagi peserta didik tunanetra. Kami berharap kolaborasi seperti ini dapat terus berlanjut sehingga kualitas layanan pendidikan di SLB A Bina Insani semakin meningkat,” ujar Ance.
Tim berharap inovasi yang dikembangkan dapat menjadi model pembelajaran yang dapat diterapkan di sekolah luar biasa lainnya sehingga semakin banyak peserta didik berkebutuhan khusus memperoleh layanan pendidikan iklusi yang berkualitas, setara, dan berkelanjutan. []

Tinggalkan Komentar Anda