Lampung Selatan

Muhammad Naufal Tauhid Mahasiswa Universitas Teknokrat Indonesia Pukau Jemaah Saat Imami Salat Id Perdana di Masjid Al-Hijrah Kota Baru

Muhammad Naufal Tauhid Mahasiswa Universitas Teknokrat Indonesia Pukau Jemaah Saat Imami Salat Id Perdana di Masjid Al-Hijrah Kota Baru

Muhammad Naufal Tauhid

Wartalampung.id, Kota Baru – Pelaksanaan salat Idul Fitri perdana di Masjid Al-Hijrah, kawasan Kota Baru, Lampung Selatan, berlangsung khidmat dan berkesan. Muhammad Naufal Tauhid, mahasiswa Universitas Teknokrat Indonesia (UTI), Kampus Terbaik di Lampung, dipercaya menjadi imam dalam momen bersejarah tersebut.

Penampilan Naufal sukses memukau ratusan jemaah yang hadir.

Ia dinilai mampu memimpin salat dengan kualitas suara yang merdu, penghayatan yang dalam, serta pelafalan makhrojul huruf yang sangat tepat. Cara membacanya yang menghanyutkan mendapat apresiasi luas dari para jemaah yang mengikuti prosesi ibadah dari awal hingga akhir.

Ketua Badan Pengelola Masjid Al-Hijrah sekaligus Rektor Universitas Teknokrat Indonesia, Dr. HM. Nasrullah Yusuf, SE., MBA., menyampaikan rasa bangganya atas performa Naufal. Menurut Nasrullah, kesiapan Naufal bukanlah kebetulan, melainkan hasil dari pembinaan yang sistematis di kampus.

“Imam salat di Teknokrat memang sudah dipersiapkan sejak dini. Di Masjid Asmaul Yusuf (masjid kampus UTI), para calon imam dan khatib dididik dengan baik agar memiliki kompetensi yang mumpuni. Naufal hari ini membuktikan hasil pembinaan tersebut dengan menjadi imam yang sangat baik,” ujar Nasrullah.

Salat Id perdana ini juga dihadiri oleh tokoh penting Yayasan Pendidikan Teknokrat, di antaranya Pembina Yayasan Hj. Hernaini, SS., MPd., serta Pengawas Yayasan Yunita Maya Putri, SS., SH., MH. Kehadiran para tokoh ini menambah kekhidmatan suasana di masjid yang menjadi ikon baru di kawasan Kota Baru tersebut.

Selain Naufal yang bertindak sebagai imam, khotbah salat Id kali ini diisi oleh Wakil Rektor Universitas Teknokrat Indonesia, Dr. H. Mahathir Muhammad, SE., MM. Dalam pesannya, khatib menekankan pentingnya menjaga nilai-nilai ketaqwaan pasca-Ramadan.

Kegiatan ini menandai dimulainya fungsi Masjid Al-Hijrah sebagai pusat kegiatan keagamaan bagi masyarakat sekitar dan simbol kemajuan di wilayah Kota Baru, Lampung.

Pelaksanaan salat id dan kontribusi mahasiswa dalam kegiatan ini sangat relevan dengan beberapa poin Sustainable Development Goals (SDGs) atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan.

Berikut adalah keterkaitannya:
1. SDGs Poin 4: Pendidikan Berkualitas (Quality Education)

Keterlibatan Muhammad Naufal Tauhid sebagai imam membuktikan bahwa Universitas Teknokrat Indonesia tidak hanya fokus pada pendidikan akademik, tetapi juga pendidikan karakter dan spiritual.

Kaitan: Adanya kurikulum atau pembinaan khusus di Masjid Asmaul Yusuf untuk mencetak imam dan khatib mumpuni menunjukkan upaya kampus dalam menghasilkan lulusan yang kompeten secara hardskill maupun softskill religi.

2. SDGs Poin 11: Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan (Sustainable Cities and Communities)

Pelaksanaan salat Id perdana di Masjid Al-Hijrah Kota Baru merupakan bentuk penguatan aspek sosial dan budaya dalam sebuah kawasan pemukiman baru.

Kaitan: Pembangunan masjid dan pemanfaatannya sebagai pusat kegiatan keagamaan membantu menciptakan komunitas yang harmonis dan inklusif di wilayah Kota Baru, Lampung. Ini sejalan dengan upaya membangun lingkungan tinggal yang memiliki fasilitas pendukung kehidupan sosial yang layak.

3. SDGs Poin 16: Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh (Peace, Justice, and Strong Institutions)

Kehadiran pimpinan universitas dan pengurus yayasan (Dr. HM. Nasrullah Yusuf, Hj. Hernaini, dan Yunita Maya Putri) dalam kegiatan ini menunjukkan adanya tata kelola lembaga yang mendukung nilai-nilai moral.

Kaitan: Institusi pendidikan yang berperan aktif dalam membimbing mahasiswanya menjadi pemimpin di masyarakat (sebagai imam/khatib) berkontribusi pada terciptanya masyarakat yang damai dan bermoral tinggi.

4. SDGs Poin 10: Berkurangnya Kesenjangan (Reduced Inequalities)

Pemberian kepercayaan kepada mahasiswa (anak muda) untuk memimpin ritual ibadah besar di hadapan para tokoh senior menunjukkan adanya inklusivitas usia dan kesempatan yang sama.

Kaitan: Memberikan panggung bagi generasi muda untuk tampil sebagai pemimpin (imam) membantu mengurangi kesenjangan peran sosial antara generasi tua dan muda dalam pembangunan daerah. []

Bagikan :

Tinggalkan Komentar Anda