Dr H Mahathir Muhammad SE MM
Assalaamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
×( اللهُ أَكْبَرُ ٣ ×( ( اللهُ أَكْبَرُ ٣ ×( ( اللهُ أَكْبَرُ ٣( وَ هٰ لِلّٰ اْلحَمْدُ
اللهُ أَكْبَرُ كَبٰيْرًا، وَالحَمْدُ هٰ لِلّٰ كَثٰيْرًا وَسُبْحَانَ اللهٰ بُكْرَةً
وَأَصٰيْلًً، لاَ إٰلٰهَ إٰ ا لا اللهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ
وَأَعَ ا ز جُنْدَهُ وَهَزَمَ الأَحْزَابَ وَحْدَهُ لَاإٰلٰهَ إٰ ا لا اللهُ وَلَا نَعْبُدُ
إٰلاا إٰيّاهَُ مُخْلٰصٰيْنَ لَهُ الدّٰيْنَ وَلَوْكَرٰهَ الكافَٰرُوْ ن
اَلْحَمْدُ هٰ لِلّٰ الاذٰيْ حَ ا رمَ الصّٰيامََ أَيّامََ الأَعْيادَٰ ضٰيَافَةً لٰعٰبادَٰهٰ
ال ا صالٰحٰيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إٰلٰهَ إٰلاااللهُ وَحْدَهُ لاَشَرٰيْكَ لَهُ الاذٰيْ
جَعَلَ الجَناةَ لٰلْمُتاقٰيْنَ وَأَشْهَدُ أَ ا ن سَيّٰدَنَا وَمَوْلاَنَا مُحَ ا مدًا عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ ال ا داعٰيْ إٰلىَ الصّٰرَاطٰ المُسْتَقٰيْمٰ. اللههُ ا م صَلّٰ وَسَلّٰمْ
وَبارَٰكْ عَلىَ سَيّٰدٰنَا مُحَ ا مدٍ وَعَلَى آلٰهٰ وَأَصْحابَٰهٰ وَمَنْ
تَبٰعَهُمْ بٰإٰحْسَانٍ إٰلىَ يَوْمٰ الدّٰيْ ن
أَ ا ما بَعْدُ، فَيَآ أَيُّهَا المُ ؤمٰنُوْنَ أُوْصٰيْكُمْ وَنَفْسٰيْ بٰتَقْوَى اللهٰ فَقَدْ
فَازَ المُتاقُوْنَ. وَاتاقُوْا اللهَ حَ ا ق تُقاتَٰهٰ وَلاَتَمُوْتُ ا ن إٰ ا لا وَأَنْتُمْ
مُسْلٰمُوْنَ. قال الله تعالى: الاذٰيْنَ يُنْفٰقُوْنَ فٰى ال ا س اَّۤ راءٰ
وَال ا ض اَّۤ راءٰ وَالْكٰظٰمٰيْنَ الْغَيْظَ وَالْعَافٰيْنَ عَنٰ النااسِٰۗ وَ ه اللُّٰ يُحٰبُّ
الْمُحْسٰنٰيْ نَ
Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah memberikan kepada kita nikmat iman, nikmat Islam, dan nikmat dipertemukan dengan bulan Ramadhan. Dialah yang telah memberi kekuatan kepada kita untuk berpuasa, mendirikan shalat malam, membaca Al-Qur’an, dan memperbanyak amal kebaikan.
Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم, kepada keluarga beliau, para sahabat, serta orang-orang yang mengikuti sunnah beliau hingga hari kiamat.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Saya berwasiat kepada diri saya pribadi dan kepada jamaah sekalian untuk senantiasa bertakwa kepada Allah dengan sebenar-benar takwa.
Allah Ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا الل حَقَّ تُقَاتِهِ وَلََ
تَمُوتُنَّ إِلََّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُو ن
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan Muslim.” (QS. Ali Imran: 102)
Jamaah Shalat Idul Fitri rahimakumullah Pagi ini, cahaya matahari dan alunan takbir membelah langit yang tinggi. Mengiringi syukur yang mengalir deras dari dalam sanubari. Hari ini, alam semesta bertasbih. Menyaksikan wajah-wajah yang berseri nan bersih, setelah satu bulan berpuasa karena Allah, tanpa pamrih. Setelah satu bulan penuh kita tempuh jalan kesabaran, kini tibalah saatnya kita merayakan kemenangan dan keberkahan. Teriring kalimat doa:
جَعَلَنَا ا اللُّٰ مٰنَ الْعَائٰدٰيْنَ وَالْفَائٰزٰيْنَ
“Semoga kita menjadi orang yang kembali fitri dan terjamin, serta masuk dalam golongan orang-orang muttaqin.”
Hari ini adalah hari yang sangat agung, hari yang penuh kebahagiaan bagi kaum muslimin, yaitu hari raya Idul Fitri, hari kemenangan setelah sebulan penuh kita menjalani ibadah Ramadhan.
Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:
لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ: فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَب ه
“Bagi orang yang berpuasa ada dua kebahagiaan: kebahagiaan ketika berbuka dan kebahagiaan ketika bertemu dengan Rabbnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Di pagi ini, hati-hati yang haus akan rahmat Allah dipenuhi keceriaan yang mendalam. Dibasuh lautan ampunan dari Allah, Tuhan semesta alam. Di bawah langit yang bertasbih atas izin ilahi, kita berkumpul dalam kemenangan sejati. Bukan hanya karena menuntaskan puasa di bulan yang suci, tetapi karena berhasil menundukkan hawa nafsu untuk menjadikan diri jiwa-jiwa yang suci.
Ma’asyiral muslimin,
Ramadhan telah meninggalkan kita. Sebulan penuh kita ditempa untuk menjadi pribadi yang lebih bertakwa. Allah menjelaskan tujuan puasa dalam Al-Qur’an:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ ال صيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى
الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)
Tujuan puasa bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi mendidik jiwa agar bertakwa kepada Allah.
Imam Ibnul Qayyim رحمه الله berkata dalam kitab Madarij As-Salikin:
الصوم جُنَّةٌ من الشهوات، ووسيلةٌ إلى تقوى الله
“Puasa adalah perisai dari syahwat dan sarana untuk meraih ketakwaan kepada Allah.”
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Idul Fitri bukan sekadar hari makan dan minum setelah berpuasa. Ia adalah hari syukur kepada Allah atas nikmat yang besar.
Allah Ta’ala berfirman:
وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَب رُوا الل عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ
تَشْكُرُو ن
“Agar kalian menyempurnakan bilangan (Ramadhan), mengagungkan Allah atas petunjuk yang diberikan kepada kalian, dan agar kalian bersyukur.” (QS. Al-Baqarah: 185)
Karena itu, sejak malam hingga pagi hari ini kita dianjurkan untuk memperbanyak takbir. Para sahabat Nabi dahulu keluar menuju tempat shalat sambil mengumandangkan takbir.
Imam Az-Zuhri رحمه الله berkata:
كَانَ النَّاسُ يُكَب رُونَ فِي الْعِيدِ حَتَّى يَخْرُجَ الإِمَامُ
“Dahulu manusia (para sahabat dan tabi’in) bertakbir pada hari raya hingga imam keluar untuk shalat.” (Riwayat Ibnu Abi Syaibah)
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar.
Ma’asyiral muslimin,
Salah satu tanda diterimanya amal di bulan Ramadhan adalah istiqamah setelah Ramadhan.
Sebagian ulama salaf berkata:
ثَوَابُ الْحَسَنَةِ الْحَسَنَةُ بَعْدَهَا
“Balasan dari suatu kebaikan adalah kebaikan berikutnya.” Artinya, jika setelah Ramadhan kita masih rajin shalat, membaca Al-Qur’an, bersedekah, maka itu pertanda bahwa Ramadhan telah memberikan pengaruh yang baik pada diri kita.
Namun jika setelah Ramadhan kita kembali kepada kemaksiatan, maka kita harus khawatir.
Al-Hasan Al-Basri رحمه الله berkata:
إِنَّ الل لَمْ يَجْعَلْ لِعَمَلِ الْمُؤْمِنِ أَجَ ا لً دُونَ الْمَوْتِ
“Sesungguhnya Allah tidak menjadikan batas bagi amal seorang mukmin kecuali kematian.” (Hilyatul Auliya)
Artinya, ibadah tidak berhenti setelah Ramadhan. Ibadah terus berlangsung sepanjang hidup.
Para ulama salaf dahulu sangat takut amal Ramadhan mereka tidak diterima. Diriwayatkan bahwa para sahabat:
كَانُوا يَدْعُونَ الل سِتَّةَ أَشْهُرٍ أَنْ يَتَقَبَّلَ مِنْهُمْ رَمَضَانَ
“Mereka berdoa kepada Allah selama enam bulan agar Allah menerima amal Ramadhan mereka.”
Imam Ibn Rajab menyebutkan dalam Lathaif Al-Ma’arif bahwa:
Orang-orang shalih dahulu lebih khawatir amal mereka tidak diterima daripada khawatir amal mereka sedikit.
Ada kisah indah dari Imam Malik رحمه الله .
Beliau menangis setelah Ramadhan berakhir.
Ketika ditanya mengapa beliau menangis, beliau berkata:
“Siapa yang menjamin bahwa amal kita diterima?”
Kemudian beliau membaca ayat:
إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ الل مِنَ الْمُتَّقِينَ
“Sesungguhnya Allah hanya menerima amal dari orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Maidah: 27)
Ini menunjukkan bahwa orang shalih bukan merasa bangga dengan amalnya, tetapi justru takut amalnya tidak diterima.
Imam Ibnul Qayyim berkata:
مِنْ عَلًمَاتِ قَبُولِ العَمَلِ أَنْ يُوَفَّقَ العَبْدُ
لِعَمَلٍ صَالِحٍ بَعْدَه “Tanda diterimanya amal adalah ketika seorang hamba diberi taufik untuk melakukan amal shalih setelahnya.”
Artinya jika setelah Ramadhan kita tetap:
•rajin shalat
• rajin membaca Al-Qur’an
• rajin sedekah
maka itu tanda bahwa Ramadhan memberi pengaruh pada hati kita.
Idul Fitri adalah tentang hati yang kembali suci, tentang ruh yang bersujud dalam damai di hati. Merasakan kelembutan kasih sayang Allah yang Maha Abadi. Idul Fitri adalah tentang panggilan untuk kembali pada kesucian, memperkuat silaturahmi dan kebersamaan. Menanamkan kasih sayang pada mereka yang selama ini bersama dalam kehidupan. Semoga kebahagiaan ini tidak hanya berhenti di hari ini, tetapi terus menyala dalam setiap langkah kehidupan ini.
اللهُ أَكْبَرُ ٣ لََ إِلهَ إِلََّ اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْ دُ ×
Ma’asyiral muslimin wal muslimat, jama’ah shalat Idul Fitri yang dimuliakan Allah untuk mewujudkan kesucian diri kita, ada dua hal yang perlu kita pahami dan tancapkan dalam hati dan sukma. Pertama adalah penguatan dimensi vertikal kepada Allah SWT, melalui penguatan ibadah dan meraih ampunan atas segala dosa. Kedua adalah penguatan dimensi horisontal kepada sesama manusia, melalui kepekaan sosial dan senantiasa menebar kebaikan dan cinta.
Jika dua hal ini mampu diaplikasikan dalam kehidupan kita, maka insyaallah kehidupan kita akan dinaungi kebahagiaan sampai akhir masa. Allah berfirman dalam Al-Qur’an:
وَسَارِعُوْْٓا اِلٰى مَغْفِرَةٍ منْ رَّب كُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا
السَّمٰوٰتُ وَالََْرْضُُۙ اُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِيْنَُۙ
Artinya, “Bersegeralah menuju ampunan dari Tuhanmu dan surga (yang) luasnya (seperti) langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa.” (Surat Ali Imran ayat 133).
Dilanjutkan dengan:
الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ فِى السَّراءِ وَالضَّراءِ وَالْكٰظِمِيْنَ الْغَيْظَ
وَالْعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِِۗ وَ ه اللَُّ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْ نَ
Artinya, “(Yaitu) orang-orang yang selalu berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, orang-orang yang mengendalikan kemurkaannya, dan orang-orang yang memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.” (Surat Ali Imran ayat 134).
Dari ayat ini kita diingatkan cara untuk menyucikan jiwa. Langkah pertama untuk meraihnya adalah berdasarkan ayat Al-Imran 133. Kita diperintahkan untuk bersegera meraih ampunan dan surga-Nya. Seraya menyadari bahwa kuasa Allah begitu luas bagi kita. Seluas surga yang Ia sediakan bagi orang-orang yang bertakwa.
Bentuk ikhtiar meraih ampunan-Nya, telah kita lakukan selama satu bulan penuh. Berpuasa menjalankan perintah Allah dengan hati yang kukuh. Iman dan takwa juga terus kita semai untuk memastikan ibadah kita senantiasa utuh. Semoga semua ini berujung pada ampunan Allah sebagaimana hadits Rasulullah dari Abu Hurairah:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَاناا وَاحْتِسَاباا غُفِرَ
لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
Artinya, “Barang siapa yang berpuasa di bulan Ramadhan, dengan keimanan dan mengharapkan pahala dari Allah, maka akan diampuni dosa masa lalunya.” (HR Al-Bukhari dan Muslim).
اللهُ أَكْبَرُ ٣ لََ إِلهَ إِلََّ اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْ دُ ×
Ma’asyiral muslimin wal muslimat, jama’ah shalat Idul Fitri yang dimuliakan Allah Langkah kedua untuk mensucikan diri adalah sesuai dengan lanjutan ayat pada surat Ali Imran ayat 134. Jika kita ingin kembali kepada kesucian dan ketakwaan yang kuat, maka kita harus menguatkan ibadah sosial dengan sedekah, infak, dan zakat. Ibadah ini tidak hanya dilakukan saat kita dalam kondisi finansial kuat, namun harus dilakukan saat kita merasa berat sebagai wujud taat kepada Allah sang pemberi nikmat.
Kita harus yakin bahwa berbagi tidaklah sama sekali akan mengurangi harta kita. Sebaliknya, dengan berbagi maka hakikatnya Allah sedang menambah apa yang kita punya. Zakat fitrah yang kita keluarkan di bulan puasa dan zakat mal untuk menyucikan jiwa kita, adalah wujud kesadaran jiwa, bahwa semua yang kita punya adalah milik Allah swt dan akan kembali kepada-Nya.
Hal ini sekaligus menyadarkan kita bahwa ada hak orang lain di dalam harta kita, semua bukan milik kita dan tak akan di bawa saat kita meninggalkan dunia. Hanya dengan cara berbuat baik dengan harta yang disedekahkan kepada sesama, harta kita akan memberi manfaat saat kita sudah kembali kepada Allah SWT.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه، عن رَسُولَ الل
صل ى الله عليه وسل م قَالَ: مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ،
وَمَا زادَاللهُ عَبْداا بعَفْوٍ إِلََّ عِ زاا، وَمَا تَوَاضَعَ أحَدٌ للهِ إِلََّ
رَفَعَهُ الله
Artinya, “Dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah saw bersabda, ‘Tidaklah sedekah itu mengurangi harta, dan tidaklah Allah menambah bagi seorang hamba dengan pemberian maafnya kepada saudaranya,)kecuali kemuliaan di dunia dan akhirat, serta tidaklah seseorang merendahkan diri karena Allah kecuali Allah akan meninggikan derajatnya di dunia dan akhirat’.” (HR Muslim).
Ma’asyiral muslimin,
Hari raya juga merupakan momentum untuk saling memaafkan dan memperbaiki hubungan antar sesama. Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:
لََ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَاطِعٌ
“Tidak akan masuk surga orang yang memutus tali silaturahmi.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Terutama meminta maaf kepada kedua orang tua kita, yang telah melahirkan kita ke dunia. Beruntunglah yang masih memiliki kedua orang tua. Mereka adalah jimat yang harus terus kita jaga. Merekalah yang telah berjasa dalam kehidupan kita dan menghantarkan kita meraih kesuksesan kehidupan di dunia.
Dalam kitab Tafsir Marah Labid Jilid I, halaman 522, Syekh Nawawi Banten menjelaskan bahwa anak harus menghormati dan berbakti kepada orang tua. Beliau mengingatkan bahwa orang tua telah memberikan kasih sayang dan berkorban tanpa batas dalam mendidik serta membesarkan anak-anak mereka.
Sehingga sebagai anak, kita wajib membalas kebaikan mereka, meskipun apa yang kita lakukan tidak akan pernah sebanding dengan pengorbanan yang telah mereka berikan dalam hidup kita. Semoga Allah swt menerima amal ibadahnya dan mengampuni dosa-dosanya.
Semoga Allah menerima doa-doa kita untuk orang tua kita. Amin.
Maka di hari yang mulia ini, mari kita buka pintu maaf seluas-luasnya, hapuskan dendam, dan eratkan kembali ukhuwah Islamiyah. Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar walillahil hamd.
Ma’asyiral muslimin wal muslimat, jama’ah shalat Idul Fitri yang dimuliakan Allah Demikianlah Khutbah Idul Fitri kali ini, semoga bisa kita resapi dan kita wujudkan dalam kehidupan kita sehari-hari. Semoga Allah senantiasa mempertahankan kesucian kita di Hari Raya Idul Fitri seperti bayi yang terlahir kembali. Amin.
بَارَكَ اللهُ لٰيْ وَلَكُمْ فٰي الْقُرْاٰنٰ الْعَظٰيْمٰ
وَنَفَعَنٰي وَاٰيااكُمْ بٰمَا فٰيْهٰ مٰنَ الْاٰيَاتٰ وَالذّٰكْرٰ
الْحَكٰيْمٰ وَتَقَبالَ مٰنّٰيْ وَمٰنْكُمْ تٰلًَوَتَهُ اٰناهُ هُوَ
ال ا سمٰيْعُ الْعَلٰيْمُ فَيَا فَوْزَ الْمُسْتَغْفٰرٰيْنَ وَيَا
نَجَاةَ التاائٰبٰيْنَ
Khutbah II
اللهُ اَكْبَرُ ) ٣ اللهُ اَكْبَرُ ) )× ٤ اللهُ اَكْبَرُ كبي ا را وَاْلحَمْدُ للهِ )×
كَثِيْ ا را وَسُبْحَانَ الله بُكْرَةا وَ أَصْيْلًا لََ اِلَهَ اِلََّ اللهُ وَاللهُ اَكْبَرْ
اللهُ اَكْبَرْ وَللهِ اْلحَمْ دُ
اَلْحَمْدُ هِ لِلِّ الَّذي وَكَفَى، وَأُصَلِ يْ وَأُسَلِ مُ عَلَى سَي دِنَا مُحَمَّدٍ
الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ ال صدْقِ الْوَفَا. أَشْهَدُ
أَنْ لََّ إلٰهَ إِلََّ اللهُ وَحْدَهُ لََ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَي دَنَا
مُحَمَّداا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُه الذى لَ نبي بعد ه
Amma ba’du.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Saya kembali berwasiat kepada diri saya pribadi dan kepada jamaah sekalian untuk senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sebenar-benar takwa. Karena hanya dengan ketakwaan itulah kita akan memperoleh keselamatan dan kebahagiaan, baik di dunia maupun di akhirat.
Jamaah shalat Idul Fitri yang dimuliakan Allah,
Pada khutbah pertama tadi telah kita renungkan bersama bahwa bulan Ramadhan adalah madrasah kehidupan. Selama satu bulan penuh kita ditempa untuk menjadi pribadi yang lebih baik: menahan hawa nafsu, memperbanyak ibadah, memperkuat hubungan dengan Allah, serta menumbuhkan kepedulian terhadap sesama manusia.
Puasa melatih kesabaran kita, shalat malam melembutkan hati kita, membaca Al-Qur’an menerangi jiwa kita, dan zakat serta sedekah membersihkan harta serta menumbuhkan kasih sayang kepada sesama.
Maka jangan sampai setelah Ramadhan berlalu, semangat ibadah kita ikut berlalu. Jangan sampai setelah Ramadhan berakhir, hati kita kembali lalai dari mengingat Allah. Justru tanda diterimanya amal
Ramadhan adalah ketika seseorang tetap istiqamah dalam kebaikan setelah Ramadhan.
Karena itu, mari kita jaga shalat kita, kita hidupkan kembali rumah-rumah kita dengan bacaan Al-Qur’an, kita perbanyak sedekah, dan kita rawat hubungan baik dengan sesama manusia.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Hari raya Idul Fitri juga merupakan momentum untuk membersihkan hati dan memperbaiki hubungan antarsesama. Pada hari yang mulia ini, marilah kita membuka pintu maaf seluas-luasnya, menghapus dendam dan permusuhan, serta mempererat kembali ukhuwah Islamiyah.
Terutama kepada kedua orang tua kita. Mereka adalah orang yang paling berjasa dalam kehidupan kita. Maka berbaktilah kepada mereka selama mereka masih hidup, doakan mereka jika telah tiada, karena ridha Allah sangat bergantung kepada ridha kedua orang tua.
Semoga Allah menerima seluruh amal ibadah kita di bulan Ramadhan, mengampuni dosa-dosa kita, serta menjadikan kita termasuk orang-orang yang kembali kepada fitrah dan meraih kemenangan yang hakiki.
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar walillahil hamd.
إِنَّ اللهَ وَمَلًَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِ يِ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا
صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِ مُوا تَسْلِي ا ما، اَللههُمَّ صَ ل عَلَى سَي دِنَا مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ سَي دِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَي دِنَا إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ سَي دِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَي دِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى
آلِ سَي دِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَي دِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ
سَي دِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْ دٌ
اَللههُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ
الَْْحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالَْْمْوَاتِ، اَللههُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلًَءَ وَالْغَلًَءَ
وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ
وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا
خَاصَّةا وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةا، إِنَّكَ عَلَى كُ ل شَيْءٍ
قَدِيْرٌ
عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى
ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ
تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَ ر
Wassalaamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. []

Tinggalkan Komentar Anda