Bandar Lampung

Data Ekonomi BPS Butuh ‘Kisah Manusia’: Pimpinan Redaksi Wartalampung.id Soroti Peran Jurnalis Jadi ‘Penyambung Makna’ Sensus 2026

Data Ekonomi BPS Butuh ‘Kisah Manusia’: Pimpinan Redaksi Wartalampung.id Soroti Peran Jurnalis Jadi ‘Penyambung Makna’ Sensus 2026

Pimpinan Redaksi Wartalampung.id Adian Saputra

Wartalampung.id, Bandar Lampung– Menjelang bergulirnya Proyek Statistik Nasional, Sensus Ekonomi (SE) 2026, peran jurnalis dalam menerjemahkan data statistik menjadi sorotan utama.

Dalam workshop wartawan di Aula BPS Provinsi Lampung, 10 Desember 2025, Adian Saputra selaku Pimpinan Redaksi Wartalampung.id, menegaskan bahwa data BPS akan kehilangan maknanya tanpa narasi dan kisah manusia di baliknya.

Adian menekankan bahwa pekerjaan berat para statistisi BPS, mulai dari mendata usaha kecil, wawancara penghasilan, hingga mencatat tenaga kerja, baru akan menjadi bermakna sepenuhnya ketika jurnalis menghidupkannya melalui reportase yang kuat.

“Data BPS hanya akan menjadi deretan angka jika tidak ditautkan dengan kisah manusia di baliknya,” tegas Adian Saputra.

Menemukan Figur di Balik Angka

Ia menjelaskan bahwa setelah sensus selesai, data mengenai UMKM, akses permodalan, dan kondisi usaha masyarakat akan menjadi bahan liputan yang kaya. Namun, yang membuat berita benar-benar kuat adalah kemampuan jurnalis untuk membangun narasi:

  1. Menelusuri siapa responden sensus.
  2. Bagaimana kehidupan mereka.
  3. Apa tantangan yang dihadapi.
  4. Bagaimana data mereka mewakili pola ekonomi yang lebih besar.

Adian mengaitkan pentingnya narasi ini dengan contoh sejarah, seperti kisah jatuhnya Tanjung Karang pada tahun 1948. Menurutnya, alasan kisah itu masih hidup hingga kini bukan karena datanya tercatat, melainkan karena disampaikan berulang-ulang dalam bentuk cerita yang mudah diterima.

“Manusia pada dasarnya senang mendengar cerita. Karena itu jurnalis harus bisa membuat orang mau membaca dari awal sampai akhir,” lanjutnya.

Jurnalis sebagai ‘Penyambung Makna’

Dalam menghadapi situasi banjir data dari berbagai lembaga negara di masa depan, Adian mengingatkan bahwa jika jurnalis tidak mampu menarasikan data, berita ekonomi akan semakin sulit dipahami publik. Hal ini terutama berlaku bagi generasi pembaca yang mengonsumsi informasi lewat ponsel dan lebih menyukai cerita yang dekat dengan pengalaman manusia.

Adian lantas mengibaratkan statistisi BPS sebagai “perawi data”—pihak yang mengumpulkan dan menjaga keaslian informasi. Peran penting ini, menurutnya, harus dilanjutkan oleh jurnalis sebagai “penyambung makna” yang menjelaskan data tersebut dalam bahasa yang dapat dinikmati masyarakat.

Dengan kolaborasi ini, hasil Sensus Ekonomi 2026 diharapkan tidak hanya menjadi dokumen pemerintah, tetapi juga sumber liputan yang mencerahkan dan memperkaya pemahaman publik terhadap kondisi ekonomi daerah. [Anggi Dwi Raharti]

Bagikan :

Tinggalkan Komentar Anda