Kantor Mitra Bentala. | Aulia Kartika

Wartalampung.id, Bandar Lampung – Berawal dari unit kegiatan mahasiswa (UKM) di kampus Polinela, kini Mitra Bentala dikenal sebagai salah satu lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang menitikberatkan pada isu lingkungan, khususnya soal pesisir, adaptasi perubahan iklim, sampah, dan lainnya.
Mashabi, manajer advokasi dan kajian Mitra Bentala, kepada wartalampung.id hari ini bercerita. Ia mengatakan, awalnya ia dan teman-temannya berinisiatif untuk mendirikan sebuah lembaga swadaya masyarakat pada tahun 1995 yang bernama Mitra Bentala.
“Awal terbentuknya Mitra Bentala itu dari UKM kampus saya dulu, Polinela. Saya dan teman-teman dulu di UKM mendirikan Mitra Bentala tahun 1995. Mitra Bentala itu mitra artinya kawan, kalau bentala itu diambil dari bahasa Sansekerta yang artinya bumi,” kata Mashabi di sekretariatnya.
Mitra Bentala ini, kata dia, berfokus pada wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil. Selain itu, Mitra Bentala secara umum juga berfokus pada isu-isu lingkungan yang terjadi.
“Titik tekan kami pada wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil, juga secara umum berfokus pada isu lingkungan hidup,” jelas Mashabi.
Untuk masalah dana, Mitra Bentala mendapatkan dana dari iuran anggota dan terutama kerja sama dengan organisasi yang mempunyai visi dan misi yang sama untuk lingkungan, terutama dari non governmental organization (NGO) internasional.
“Kami ada iuran anggota. Kemudian untuk menjalankan program kegiatan, kami bekerja sama dengan organisasi yang mempunyai visi dan misi yang sama untuk lingkungan, terutama dari NGO internasional. Kami dilarang untuk menggunakan biaya utang seperti ke Bank Dunia,” kata Mashabi.
Mashabi menjelaskan, pencapaian Mitra Bentala yang baginya membanggakan dan tidak bisa dinilai oleh uang salah satunya dimana pada awal berdirinya, yaitu tahun 1996.
Kala itu, Mitra Bentala melakukan pendampingan, pemberdayaan, dan evaluasi kepada masyarakat di Pulau Pahawang sehingga kini sudah menjadi destinasi wisata terkenal.
Mashabi menuturkan, Pahawang pada mulanya desa terisolasi. Mitra Bentala kemudian melakukan pemberdayaan masyarakat, pendampingan, dan evaluasi.
Mitra Bentala melakukan berbagai program kegiatan di sana.
“Itu capaian yang luar biasa. Saya ingat betul tahun 1996, jika ingin ke Pulau Pahawang harus beberapa jam, bahkan harus dengan perahu biasa. Sejak 2007 masyarakat dampingan kami di sana sudah mandiri,” pungkasnya. [Aulia Kartika]

Tinggalkan Komentar Anda