Juliana

Oleh Juliana, Mahasiswi Pendidikan Bahasa Prancis FKIP Universitas Lampung
Kedatangan Presiden Jokowi awal pekan bulan Mei lalu ke Lampung tentu membawa banyak dampak positif. Masyarakat yang sudah muak dengan jalan rusak sangat antusias mendengar kedatangannya. Tetapi, berbanding terbalik dengan Pemerintah Provinsi yang justru merasa khawatir.
Terlihat dari pemerintah yang panik melakukan perbaikan dan pengaspalan jalan di beberapa titik yang akan dilalui presiden dengan sangat cepat. Ini semua justru memicu pemikiran masyarakat tentang ketidakmampuan pemerintah dalam mengelola jalan. Di mana dapat disimpulkan bahwa perbaikan jalan ini dilakukan karena kehadiran Presiden Jokowi.
Dari tindakan yang dilakukan Pemerintah Provinsi Lampung sangat memprihatinkan. Hilangnya aspek sakai sembayan dalam piil pesenggiri terlihat jelas.
Dikutip dari tulisan Irfan Dwi Putra di Kumparan, pada hakikatnya, piil pesenggiri adalah norma dan nilai yang bagi masyarakat adat Lampung berperan sebagai way of life atau prinsip hidup dalam bermasyarakat. Secara etimologi, kata piil pesenggiri berasal dari dua kata, yaitu piil dan pesenggiri.
Piil berasal dari bahasa Arab fi’il yang artinya perbuatan atau perangai (Amaliyah dkk., 2018). Sementara itu, kata pesenggiri memiliki pemaknaan yang berbeda-beda. Ada yang mengartikannya sebagai sifat-sifat yang baik dan bijak, pertemuan sejajar pada garis lurus, bahkan ada yang menyebutnya sebagai nama seorang pahlawan.
Secara filosofis, piil pesenggiri merupakan falsafah yang berkaitan dengan kehormatan dan harga diri. Piil pesenggiri mengajarkan seorang individu untuk senantiasa memiliki sikap pantang menyerah dalam mempertahankan harga diri dan martabatnya serta keluarganya. Falsafah ini melekat bersama empat prinsip lain, yaitu juluk adek, nemui nyimah, nengah nyappur, dan sakai sambayan.
Dibuktikan dengan jalanan rusak bertahun-tahun, tapi tidak kunjung diperbaiki. Pemerintah tidak membantu masyarakat dengan memperbaiki jalan, justru menikmati dana yang diberikan pemerintah pusat.
Selain itu, hilangnya pill pesenggiri juga dibuktikan dari Gubernur Arinal Djunaidi. Di mana saat melakukan peninjauan jalan dilakukan menggunakan helikopter guna menghindari jalan parah berlubang dan bebatuan.
Serta momentum wawancara gubernur panik tidak mengetahui nama daerah yang sedang ditinjau Presiden. Tidak ada rasa bersalah yang ditunjukkan dan permintaan maaf kepada masyarakat.
Piil pesenggiri sudah sangat terkikis. Landasan untuk berpikir, bertindak, dan berperilaku tidak terlihat dari pemimpin Lampung. Ini semua harus ditindaklanjuti karena sudah jelas masyarakat Lampung mempunyai pedoman yang harus dipatuhi dan dilaksanakan terutama oleh pemimpin.
Setelah peninjauan jalan berakhir dan melihat banyaknya jalanan yang rusak, Presiden mengambil alih proyek perbaikan jalan dan menyerahkannya ke pemerintah pusat karena pemerintah daerah tidak bisa memperbaikinya. Sebanyak 15 ruas jalan akan diperbaiki dan anggaran dana yang akan diberikan senilai Rp800 miliar. []
