Ilustrasi. | Dokumentasi

Oleh: Ade Lastiyanto Putra Radiyansyah, Mahasiswa Pendidikan Bahasa Prancis FKIP Universitas Lampung
Kelulusan memiliki arti yang baik dan membahagiakan di ranah pendidikan. Tetapi hal ini berbanding terbalik apabila terjadi di dunia virtual youtuber.
Pasalnya, kelulusan atau graduation di vtuber memiliki arti perpisahan atau tidak akan aktif lagi di saluran Youtube maupun media sosial lainnya.
Virtual youtuber atau vtuber mulai ramai digandrungi di Indonesia saat pandemi Covid-19 mencapai angka tertingginya. Masyarakat yang saat itu lebih banyak menghabiskan waktu dirumah mulai bosan dan butuh hiburan.
Di saat itulah para vtuber bermunculan untuk menghabisi waktu serta mendapatkan sedikit pundi-pundi rupiah dari hal itu.
Munculnya vtuber ini awalnya kurang diterima oleh masyarakat Indonesia karena budaya tersebut bukan berasal dari Indonesia, melainkan dari Negeri Sakura Jepang. Tetapi lama-kelamaan setelah banyak muncul vtuber bertalenta, akhirnya vtuber mulai diterima oleh sebagian masyarakat Indonesia.
Kendati mulai diterima dan ramai dibicarakan segelintir masyarakat Indonesia, akhirnya banyak yang tertarik untuk menjadi vtuber dan juga ada yang mendirikan agensi vtuber untuk meraih banyak keuntungan dari hal tersebut.
Akhirnya mulai bermunculan agensi-agensi di Indonesia, mulai dari yang ternama seperti Hololive, Nijisanji, Maha5 hingga yang agensi perintis seperti Yume Reality(Yume Live), AKA, Various Clover dan lain-lain.
Sebenarnya itu merupakan hal yang bagus karena vtuber sudah mulai berkembang pesat di Indonesia. Akan tetapi, dengan banyaknya trcipta agensi-agensi tersebut, membuat pasar persaingan di Indonesia sangat ketat sehingga para talenta vtuber harus memutar kepala untuk membuat penontonnya tetap terhibur dan stabil.
Mungkin niat para pendiri agensi tersebut baik, yaitu untuk menaungi para pecinta jejepangan dalam menyalurkan minat dan bakatnya. Namun, hal itu juga menjadi bumerang untuk diri mereka sendiri dan para talentnya.
Efek yang sudah pasti dapat dibuktikan adalah pengunduran diri dari para talent hingga pemecatan secara sepihak karena talent tidak bisa memenuhi kontrak yang sudah ditandatangani.
Miris sekali melihat agensi-agensi yang hanya menyediakan nama saja dan tidak mendukung penuh para talentnya. Jika seperti itu, apa gunanya mereka mendirikan agensi jika tidak siap mendukung para talentnya secara mental dan keuangan.
Selain hal di atas, ada juga hal yang membuat vtuber lulus belakangan ini. Seperti masyarakat yang tidak lagi bekerja dari rumah dikarenakan sudah normaliasi yang berakibat berkurangnya penonton setia vtuber karena mulai sibuk bekerja secara luring.
Hal itu membuat semangat para vtuber turun dan memutuskan untuk lulus dari kegiatan per-vtuber-annya. Malahan mereka sendiri ada yang memutuskan untuk berhenti karena sudah mulai sibuk dengan kegiatan di dunia nyatanya masing-masing.
Tidak hanya vtuber dari agensi kecil saja, bahkan agensi besar seperti Nijisanji pun belakangan ini meluluskan beberapa talentnya, seperti Taka Radjiman, Miyu Ottavia, Siska Leontyne, Amicia Michella, dan ZEA Cornellia.
Padahal, masing-masing memiliki alasan untuk lulus, seperti Miyu Ottavia yang fokus pada pendidikannya. Tetapi keempat anggota yang lainnya tidak diberitahukan alasan mereka lulus.
Usut punya usut, keempat talent lainnya diluluskan karena tidak bisa menarik banyak penonton untuk memberikan donasi kepada mereka sehingga mereka diberhentikan secara sepihak.
Sebab, menurut Nijisanji yang di bawah naungan nama Anycolors, keempatnya tidak memberikan keuntungan. Cukup aneh alasannya. Tapi itulah kejamnya dunia bisnis berkedok entertainment.
Lalu faktor cepatnya kelulusan seoang vtuber adalah terkena skandal dan drama.
Demi mendapatkan banyak penonton, tentu banyak cara yang dilakukan oleh seorang vtuber, seperti mencari konten yang menarik, mengadakan giveaway, memasang iklan di Youtube, dan ada juga yang membuat drama untuk mendapatkan perhatian publik.
Cukup banyak vtuber yang melakukan drama baik skala kecil maupun besar. Dari drama yang mereka buat tersebut tentu saja mereka berhasil menggaet penonton-penonton baru dan membuat live mereka lebih ramai.
Juga lebih banyak yang memberikan mereka donasi karena merasa bersimpati tentang masalah atau drama yang sedang mereka rancang sedemikian rupa.
Dari banyaknya rama yang mereka lakukan, tentunya tidak semua berhasil untuk meningkatkan popularitas mereka. Sebab, ada yang harus menelan pil pahit dari drama yang mereka buat.
Seperti harus menerima rundungan, mendapatkan donasi yang berisi kata-kata kurang mengenakkan. Hal tersebut akhirnya berdampak pada kesehatan mental mereka sendiri sebagai seorang vtuber, khususnya mereka yang bermental lemah.
Akhirnya banyak vtuber yang tidak kuat mentalnya memutuskan untuk cabut agar tidak mengalami stres yang berlebihan.
Memang benar apa yang dikatakan pepatah “siapa yang menanam, dia yang akan akan menuai” sangat cocok untuk para pendrama seperti oknum-oknum vtuber yang mau jalan singkat demi mencapai popularitas.
Selebihnya ada beberapa vtuber yang lulus atau graduate dikarenakan sakit yang mereka derita sehingga mengharuskan untuk mmenghentikan aktivitas yang mereka sukai yaitu menjadi vtuber.
Zaman semakin berkembang, apapun pekerjaan kalian, sebaiknya dilakukan dengan sepenuh hati tanpa harus membandingkannya dengan kesuksesan orang lain. Sehingga membuat kita tergesa-gesa dan akhirnya terjatuh kesumur yang paling dalam. []
