Muhammad Fiqih Maulana Ardi

Oleh Muhammad Fiqih Maulana Ardi, Mahasiswa Unissula Semarang
“We can only see a short distance ahead, but we can see plenty there that needs to be done ~ Alan Turing.”
Sejarah mengatakan bahwa artificial intelligence (AI)/kecerdasan buatan adalah sesuatu yang amat susah dibayangkan. Tetapi, sikap optomis mengarahkan manusia untuk selalu memiliki cara dalam meraih suatu hal yang mustahil. Saat ini artificial intelligence/kecerdasan buatan telah merambat di berbagai sektor. Melampaui seluruh imajinasi para pelopor pembaruan.
Tanpa kita sadari, kita telah menggunakan AI dalam membantu urusan kita sehari-hari bahkan sampai bermain game. Biaya gawai yang semakin hari semakin terjangkau membuat kita merasa biasa dalam menggunakan AI. Akan tetapi, rupanya sejarah mencatat perkembangan AI sangat mahal dan sangat terbatas. Oleh karena itu, ada baiknya kita bahas sejarah AI agar kita memanfaatkan AI sebaik mungkin.
AI adalah cabang dari ilmu komputer yang berkaitan dengan membangun mesin pintar yang mampu melakukan tugas-tugas yang biasanya membutuhkan kecerdasan manusia. AI mampu menjalankan komputer untuk belajar dari pengalaman, yaitu dengan menyesuaikan berbagai informasi baru dan menyelesaikan tugas seperti manusia.
Pada dasarnya, AI telah muncul dalam bentuk penelitian maupun film-film fantasi sebagai semangat kemajuan teknologi. Dimulai dengan rilisnya film Tin Woodman oleh The Wonderfull Wizard of Oz tentang manusia robot, hingga akhirnya seorang polymath asal Inggris bernama Alan Turing menceritakan hasil eksplorasinya mengenai kemungkinan matematika dari kecerdasan buatan.
Alan Turing melihat kemungkinan, ketika manusia dapat menyelesaikan masalah dan membuat keputusan, mengapa mesin tidak dapat melakukannya? Kerangka logisnya ini ia nyatakan pada makalah pada tahun 1950, berjudul “Computing Machinery and Intelligence” yang membahas bagaimana membangun mesin cerdas dan menguji kecerdasan mesin ini.
Sayangnya, Alan Turing tidak melanjutkan penelitiannya karena pada waktu itu komputer sangat terbatas. Komputer tidak dapat mengingat perintah yang telah ia terima dan hanya dapat menjalankannya. Di sisi lain, biaya sewa komputer sangat mahal, yaitu sekitar $200.000 per bulan. Selanjutnya, dukungan orang-orang terkenal dibutuhkan agar penelitian Turing layak dilanjutkan.
Baca Juga: Guru Penggerak Cermin Kegagalan Pendidikan
Konferensi DSRPAI
Pada 1956, John McCarthy dan Marvin Minsky mengadakan konferensi yang dinamai Darthmouth Summer Research Project on Artificial Intelligence (DSRPAI) dengan tujuan mendiskusikan upaya kolaboratif dengan para peneliti top dari berbagai bidang.
Sayangnya, konferensi ini tidak tidak sesuai ekspektasi tujuan John McCarthy karena para peserta kurang tanggap dengan maksud McCarthy. Meskipun demikian, konferensi ini tetap membawa pengaruh yang kuat bagi para peneliti AI dalam beberapa puluh tahun ke depan.
Tahun Gebrakan
Pada tahun 1960 an, komputer mengalami perkembangan yang pesat, di mana komputer mampu menyimpan banyak informasi, sistem komputer yang sedikit lebih cepat, murah dan lebih mudah diakses. Para peneliti juga mengetahui algoritma mana yang akan diterapkan pada masalah mereka melalui algoritma machine learning.
Contoh buah dari perkembangan ini, yaitu demonstrasi Newell dan Simon’s General Problem Solver dan ELIZA Joseph Weizenbaum yang dibuat untuk pemecahan masalah dan menerjemahkan bahasa lisan. Student, salah satu buah dari Natural Language Processing (NLP) dibuat untuk menyelesaikan permasalahan aljabar.
Melihat perkembangan AI yang semakin nyata, pemerintah secara khusus tertarik pada AI yang dapat menyalin dan menerjemahkan bahasa lisan serta pemrosesan data throughput yang tinggi. Dan menaruh harapan besar dengan memberikan dukungan modal besar bagi para peneliti.
Seiring peneliti berusaha memenuhi janjinya dalam menciptakan kemajuan signifikan pada AI, pada saat itu lah peneliti mendapati kesulitan yang luar biasa. Daya komputasi tidak dapat menyimpan informasi yang lebih besar atau memprosesnya dengan lebih cepat. Di sisi lain, seseorang tidak dapat memahami lebih banyak arti berbagai kata untuk menciptakan kombinasi yang sesuai.
Hingga akhirnya Hans Moravec, seorang mahasiswa doktoral dari McCarthy mengatakan “komputer masih jutaan kali terlalu lemah untuk menunjukkan kecerdasan.” Seiring dengan itu, pemerintah merasa bahwa peneliti gagal dalam penelitian AI semenjak hampir 10 tahun terakhir.
Ini terjadi pada tahun 1973 sampai 1980. Ketika kesabaran berkurang, ketika itu pula pemerintah menghentikan pembiayaan yang selama ini diberikan.
Di waktu yang sama, John Hopfield dan David Rumelhart merumuskan Teknik “pembelajaran mendalam” yang memungkinkan komputer belajar secara mendalam, dengan dukungan perluasan toolkit algoritmik dan peningkatan dana.
Selain itu, seorang ilmuwan komputer Edward Feigenbaum juga memperkenalkan sistem pakar yang meniru proses pengambilan keputusan seorang pakar manusia. Dimana komputer dapat menerima saran dalam kepada ahli bidangnya dalam setiap situasi, lalu saran dapat dilanjutkan kepada seseorang yang tidak ahli. Komputer ini banyak digunakan di industri.
Hingga Pemerintah Jepang tertarik pada sistem pakar ini, dan mendanainya dalam bentuk proyek yang dinamai Fifth Generation Computer Project. Proyek ini berjalan selama tahun 1982-1990. Proyek yang digarap dengan nilai investasi $400 juta dolar bertujuan merevolusi pemrosesan komputer, menerapkan pemrograman logika, dan meningkatkan kecerdasan buatan.
Sayangnya, lagi-lagi beberapa target tidak terpenuhi seperti fase winter pada sebelumnya. Pendanaan proyek ini pun terhenti. Akan tetapi, Fifth Generation Computer Project secara tidak langsung menginspirasi generasi para peneliti Artificial Intelligence selanjutnya.
Menuju Tak Terbatas
Di akhir abad millennium (1990), rupanya AI membuktikan kecanggihannya. Tanpa dana dari pemerintah, telah banyak proyek maupun penelitian yang mengungkapkan bahwa tujuan awal AI mulai tercapai. Sehingga memikat banyak perusahaan Amerika untuk berinvestasi. Selain itu, keyakinan Pemerintah Jepang dalam menggebrak revolusi proses komputer juga membawa pengaruh pada perkembangan AI.
Sejarah mencatat, pada tahun 1990 Cynthia Breazeal membuat robot berbentuk kepala yang diberi nama Kismet sebagai eksperimen komputasi afektif. Robot ini dapat mengenali dan menampilkan emosi pada manusia.
Salah satu perkembangan besar AI adalah ketika mesin catur buatan IMB bernama Deep Blue, telah menunjukkan taring AI dengan mengalahkan pemain catur kelas dunia, yaitu Garry Kasparov pada tahun 1997.
Pada tahun yang sama, windows mengimplementasikan suatu perangkat lunak pengenalan suara yang dikembangkan oleh Dragon Systems. Yang menjadi satu langkah besar menuju interpretasi bahasa lisan.
Pada tahun 1998, Dave Hampton dan Caleb Chung menunjukkan bahwa AI tidak hanya dapat diemplementasikan dalam pekerjaan serius, akan tetapi juga pada hiburan. Lewat robot binatang kecil bernama Furby yang dibuat untuk mainan anak-anak. Beberapa robot buatan menunjukkan bahwa sepertinya tidak ada masalah yang tidak dapat ditangani oleh komputer.
Eksistensi Semakin Nyata
Jika pada tahun 1990-an perkembangan AI “hanya” mulai terlihat bagi beberapa peneliti dan organisasi, di abad ke-20 AI mulai menjadi pusat perhatian seluruh dunia. Salah satunya, pada 2005 dimulai dengan suatu perlombaan balapan mobil robot sejauh 131 mil melintasi gurun dekat Las Vegas, yaitu DARPA Grand Challenge yang diselenggarakan oleh badan penelitian Pentagon.
Pada perlombaan ini Stanford Team memenangkannya dengan mobilnya yang bernama Stanley, dengan memboyong hadiah 2 juta dolar AS.
Selanjutnya di tahun yang sama, militer AS memulai berinvestasi dalam robot otonom seperti “Big Dog” dari Boston Dynamics dan “PackBot” dari iRobot. Keduanya dibuat dengan tujuan membantu menginvestigasi suatu masalah. Adapun proyek Big Dog sementara ditangguhkan karena dianggap terlalu dini untuk digunakan.
Tak mau ketinggalan, Google dengan berbagai penelitiannya telah membuahkan hasil dalam trobosan AI. Beberapa dia antaranya adalah Google Brain Deep Learing proyek yang didirikan oleh Andrew Ng yang memberi makan jaringan saraf menggunakan algoritme pembelajaran mendalam 10 juta video YouTube, membuat Self-Driving Car pertama yang lulus uji tes mengemudi negara, dan AlphaGo Google DeepMind yang mengalahkan juara dunia pemain Go (permainan Tingkok Kuno), bernama Lee Sedol.
Dari berbagai robot yang telah dibuat menunjukkan bahwa masalah terbesar pada awal mula AI diciptakan telah terselesaikan. Komputer saat ini tidak terbatas dalam menyimpan berbagai informasi. Kinerja komputer juga telah berlipat-lipat ganda setiap fasenya.
Hukum Moore yang memperkirakan kompleksitas sebuah mikroprosesor akan meningkat dua kali lipat tiap 24 bulan sekali, sekarang semakin dekat ke arah jenuh. Bahkan telah melampaui kebutuhan manusia.
Selanjutnya, Hukum Moore telah dijadikan sebuah tujuan bagi berbagai perusahaan raksasa. Sebut saja Intel yang secara resmi memperkenalkan keluarga prosesor generasi terbarunya: 12th Gen Intel Core (Alder Lake).
Masa Depan AI
Seperti yang kita rasakan saat ini, manusia telah menggunakan AI dengan mudah. Adapun di masa depan, setiap orang pastinya mengharapkan AI yang baru dan bahkan aneh.
Contohnya, komunikasi antara seseorang dengan orang lainnya hampir tidak terhalang apapun. Dua orang dengan beda bahasa dapat melakukan percakapan dengan dibantu penerjemahan AI secara real time. Elon Musk telah menjual mobil autopilot bernama Tesla secara massal, walaupun mobil tetap harus dikontrol demi kehati-hatian. Dan seperti dahulu, film-film fantasi AI di atas rata-rata manusia. Seperti robot milik Tony Stark bernama Jarvis yang mampu memberikan pelayanan hanya dengan isyarat sepele.
AI akan selalu berkembang dalam masyarakat dengan berbagai tujuan. Seperti tak terhentikan, berbagai sektor akan selalu melakukan pembaruan.
Sejarah mengatakan bahwa AI adalah suatu hal mustahil. Namun, sikap optimis manusia memaksa penciptaan AI terlaksana. []
