Ilustrasi. | Elisabeth SIregar

Wartalampung.id, Bandar Lampung – Angin kencang melanda sebagian besar wilayah Bandar Lampung sejak Rabu sore, 23/3/2022. BMKG memprediksi, angin kencang akan terjadi pada Kamis siang, 24/3/2022 dan sore hari untuk Bandar Lampung.
Berdasarkan prediksi BMKG Provinsi Lampung pada situs resminya (lampung.bmkg.go.id), potensi terjadinya angin kencang disertai hujan lebat berpetir ada di beberapa kabupaten di luar wilayah Bandar Lampung.
Sementara itu, pada Minggu, 20/3/2022 malam, angin kencang terjadi di seputaran kelurahan Garuntang dan kecamatan Panjang, Bandar Lampung. Beberapa pengemudi sepeda motor yang melintasi wilayah tersebut mengaku tidak dapat melajukan motornya diatas 20km/jam.
“Gerimis aja, tapi anginnya kencang banget” terang Nicho, salah satu pengemudi ojol yang beroperasi di sekitaran kelurahan Garuntang pada Rabu, 23/3/2022.
Fenomena angin kencang juga terjadi pada Rabu malam di wilayah Bakauheni, Lampung Selatan. Meskipun demikian, penyebrangan kapal Bakauheni-Merak berjalan lancar.
“Gelombangnya lumayan tinggi, sekitar 2meteran, tapi kapal tetap lancar” ujar Raja, penjual tiket online Bakauheni-Merak (Kamis, 24/3/2022).
Tidak ada bencana atau kerusakan yang dilaporkan warga Bandar Lampung terkait fenomena angin kencang ini. Namun, BMKG Stasiun Meteorologi Maritim Lampung merilis peringatan dini banjir rob.
Banjir rob diperkirakan akan terjadi di sekitar Pesisir Teluk Lampung dan Pesisir Panjang, Bandar Lampung.
Peringatan ini diberlakukan mulai dari 20-24 Maret 2022. Pasang maksimum dapat mencapai 1,5 meter dan terjadi antara pukul 08.00-11.00 WIB.
Banjir rob terjadi akibat fenomena jarak terdekat bumi dengan bulan atau perigee dan faktor lain yaitu angin kencang yang bertiup dari Selatan-Barat dengan kecepatan maksimum mencapai 25 knot.
Warga sekitar Pesisir Teluk dan Pesisir Panjang diminta waspada akan prediksi banjir rob.
Kewaspadaan juga perlu ditingkatkan pengguna jalan raya agar berkendara dalam kecepatan normal dan waspada pohon tumbang akibat angin kencang. [Elisabeth Siregar, Mahasiswi Pendidikan Bahasa Prancis FKIP Unila]
