Adam. | Renaldi

Wartalampung.id, Bandar Lampung – Bisnis jual beli produk baju bekas akhir-akhir ini mulai digandrungi anak-anak muda di Bandar Lampung. Salah satunya Adam.
Lewat merek dagang berbagai macam, ia mengaku bisa meraup untung hingga Rp3 juta dalam kurun waktu satu bulan hanya dengan bergadang barang-barang lawas.
Usaha ini dirintis Adam sejak 2020 lalu. Dia bercerita, mengawali bisnis ini hanya dengan bermodalkan nekat dengan tabungan pribadinya.
“Awalnya dari teman yang lebih dulu berjualan di Bandung. Saya lihat lumayan banyak peminatnya lalu kepikiran berjualan di Bandar Lampung,” kata dia. Jumat (22/10/2021).
Dari momentum itu, Adam sadar usaha baju bekas bisa menjadi sebuah usaha yang tidak terlalu berat namun bernilai cuan.
Saat ditemui wartalampung.id, Adam memamerkan salah satu koleksinya. Saat ditanya salah satu barang terbaiknya, kaus bersablon bertulisan Supreme dengan tag orisinil
Menurutnya, barang-barang yang ia jual bukan harus branded. Barang-barang yang memiliki sejarah khusus tentu punya nilai tersendiri bagi yang memakainya.
“Banyaknya barang-barang yang aku jual sih yang branded kayak Nike, Adidas, dll. Tapi, aku pun tidak mematok harus vintage, kalaupun ada berarti ada nilai lebih,” ceritanya.
Adam menuturkan pasar untuk produk baju bekas seperti ini sudah lumayan. Tak tanggung-tanggung, ada sekitar 20 item yang terjual per bulannya.
Kendati terlihat berjalan mulus, Adam menyebut usaha jual beli pakaian bekas seperti ini masih memiliki tantangan. Misalnya beberapa pelanggan ada yang masih belum mengerti filosofi brand dan orisinalnya barang-barang yang dijual.
Kerap kali ia harus menjelaskan detail suatu barang dan tak jarang beberapa pelanggan menawar kelewatan.
“Kadang ada yang mindset-nya ‘ini barang bekas ini dapat murah’, jadi kadang mereka nawarnya kelewatan. Harga Rp150 ribu ditawar Rp50 ribu,” ungkap Adam.
Banyaknya penadah dari pemasok barang-barang kodian juga menjadi kendala lain.
Sulitnya mencari koleksi baju barang-barang lainnya saat ini menurutnya disebabkan karena hal tersebut.
“Sekarang banyak yang main orang dalam. Jadi belinya dari satu bal dari pemasok barangnya sebelum masuk pasar. Sulit mencari barang. Pasti ada sih cuma sedikit,” ucapnya.
Adam menuturkan pasarnya sudah ada dan ia yakin bahwa setiap barang koleksi miliknya pasti mempunyai pembelinya suatu saat nanti.
Itu terbukti bertahan sampai saat ini. Ia menawarkan jika ada yang ingin melihat koleksinya bisa berkunjung ke instagramnya @titikthriting.
[Renaldi, Mahasiswa Ilmu Komunikasi FISIP UBL]
