Pelantikan pengurus IKA Smanda 2025-2029 oleh ketua Rahmat Mirzani Djausal. | Sugiono
Sejak awal kepanitiaan besar untuk perayaan rangkaian HUT ke-60 dan reuni akbar SMAN 2 Bandar Lampung dibentuk, saya memang diminta Marindo dan Mahathir, ketua dan sekretaris pelaksana, menjadi pewarta semua kegiatan ini. Apalagi saya mengelola media massa daring yang levelnya masih supermikro.
Alhamdulillah sampai dengan beberapa kegiatan dalam skop rangkaian perayaan ini rampung, tugas bisa dilaksanakan dengan baik.
Satu hikmah dari reuni dan seabrek kegiatan ini adalah beranda Google suka benar menempatkan berita di wartalampung.id. Walhasil jangkauan dan jumlah pembaca meningkat sangat drastis.
Salah satu rangkaian HUT dan reuni akbar adalah pelantikan kepengurusan Ikatan Keluarga Alumni SMAN 2 Bandar Lampung (IKA Smanda) yang diketuai Rahmat Mirzani Djausal. Alumnus tahun 1998 ini adalah gubernur Lampung.
Dua posisi penting pada struktur IKA Smanda dijabat Marindo Kurniawan dan Mahathir Muhammad. Marindo, lulusan 1998 itu adalah Sekretaris Daerah Provinsi Lampung yang didapuk jadi sekretaris pada IKA Smanda.
Sedangkan Mahathir, lulusan tahun 1999, diplot sebagai ketua harian. Mahathir adalah wakil rektor Universitas Teknokrat Indonesia.
Sebelumnya dalam versi daring pernah ada rapat untuk menentukan kepengurusan ini. Rapat daring dipimpin Mahathir Muhammad. Namun, belum kelar dan mesti mendapat masukan Marindo.
Dua hari sebelum pelaksanaan reuni akbar yang di dalamnya ada pelantikan pengurus, saya diajak menentukan susunan kepengurusan di ruangan Sekdaprov Marindo Kurniawan.
Sebagai orang yang lebih banyak menulis ketimbang bicara–kecuali memang diminta–saya menyimak saja.
Setelah posisi ketua, sekretaris, dan ketua harian sudah baku, dicarilah 12 orang untuk posisi wakil ketua persis di bawah koordinasi ketua IKA Smanda Iyay Mirza.
Saya semula diplot sebagai koordinator bidang Humas dan Publikasi. Saya sih oke-oke saja. Bahkan, sudah ada gambaran siapa saja yang hendak saya ajak sebagai pengurus.
Namun, rapat malam itu posisi berubah. Marindo yang meminta saya masuk ke posisi para wakil ketua.
“Kak Adian ke wakil ketua saja.” Demikian instruksi Marindo. Saya sami’na waatho’na. Dengar, taat.
Akhirnya nama saya masuk, persis paling buncit: nomor 12 (XII). Nama jabatannya: Wakil Ketua Bidang Humas dan Publikasi.
Dari 12 wakil ketua, 9 di antaranya kepala organisasi perangkat daerah di lingkup Pemerintah Provinsi Lampung. Istilahnya, 9 orang itu kepala dinas atau setara kepala dinas.
Mereka di antaranya Budhi Darmawan, Thomas Amirico, Fitrianita Damhuri, Elvira Umihani, Meiry Harika Sari, Rendy Reswandi, Riski Sofyan, Descatama Paksi Moeda, dan Bobby Irawan.
Dua selain itu ada dosen Unila Meizano Ardhi Muhammad dan mantan ketua Hipmi Lampung yang juga bos Cordy, Rivan Novendra Salim. Nama saya menggenapi struktur para wakil ini di posisi 12.
Posisi sebagai wakil ini sekarang menjadi bentuk candaan menyegarkan di beberapa kawan. Kadang kalau sedang kumpul dengan pengurus lain, saya suka nyeletuk. “Gini-gini, saya wakil ketua lo, nomor 12.” Semua yang dengar tertawa renyah saja.
Senior saya, Bang Juwendra Asdiansyah, sesekali di percakapan WhatsApp juga mulai ketularan. “Wah, Pak Wakil Ketua kecapekan tuh.” Demikian pesan Bang Juwe.
Saya sih ya senang-senang saja diberikan posisi itu. Lagipula memang sesuai dengan keseharian selama ini.
Bangga juga berada satu barisan dengan kakak dan adik tingkat yang juga masuk di kepengurusan IKA Smanda ini.
Tantangan besarnya tentu saja, sebagaimana dibacakan Iyay Mirza dalam Deklarasi Gotong Royong, bagaimana alumni mampu memberikan kontribusi untuk sekolah dan sesama alumni.
Dengan begitu, keberadaan IKA Smanda ini benar-benar memberikan dampak signifikan bagi kemajuan sekolah dan membantu sesama alumni.
Satu pernyataan yang pernah juga dicetuskan ketika rapat bahwa tidak semua alumni ini sukses. Sukses dalam artian punya pekerjaan yang mapan dan karier yang baik.
Ada juga yang masih dalam posisi merintis, mungkin sakit, keluarganya mesti dibantu, dan lainnya. Itulah esensinya ke depan ada IKA Smanda ini.
Di rumah, saya cerita ke ibu tentang HUT, reuni, dan kepengurusan IKA Smanda ini. Saya bilang, saya dipercaya menjadi salah satu wakil ketua di antara para kepala dinas, dosen, dan pengusaha kelas nasional.
Kelebihan saya hanya satu dari semua pengurus IKA Smanda itu: Saya pernah menjadi ketua umum OSIS di masanya, 1995-1996. Tabik. []

Tinggalkan Komentar Anda