Ekskul jurnalistik Mahad Al Jamiah
AKHIR 2019, Verbenna Uktab menghubungi saya. Ia minta saya menjadi mentor ekstrakurikuler di Mahad Al Jamiah UIN Raden Intan Lampung. Verbenna adalah mahasiswi yang pernah saya ajar ketika dia semester III di Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam.
Saya memang lima tahun menjadi dosen luar biasa (DLB) atau dosen tamu di kampus asri di bilangan Kecamatan Sukarame itu.
Permintaan Verbenna saya iyakan. Surat resmi dari pengurus Mahad Al Jamiah saya terima. Mahad atau pondok pesantren ini memang ada di dalam kampus. Dahulu hanya satu lokasinya. Kini sudah ada dua. Satu pondok lagi ada di Perumaha Prasanti, tak jauh juga dari kampus.
Saya hadir di mahad setiap Sabtu pagi. Pertemuan kurang lebih belasan kali. Sayangnya, saat mau khatimah, pandemi covid-19 melanda.
Walhasil, pertemuan terakhir ditiadakan. Soal honor? Ya dapatlah, masak tidak.
Tahun berikutnya pertemuan penuh lewat daring via Zoom. Di situlah pertama kali saya belajar berinteraksi memberikan pelajaran jurnalistik lewat daring.
Rasanya memang agak beda. Lebih enak tatap muka alias luar jaringan (luring).
Tahun 2024 adalah masa terakhir saya berkhidmat menjadi mentor. Saya putuskan untuk berhenti. Biar digantikan yang lain saja.
Titik menariknya tentu saja berinteraksi dengan mahasantri di sini. Saat awal saya masuk, lumayan terkejut juga dengan sikap takzim para mahasantri dengan guru atau mentor.
Yang istimewa, mereka awalnya panggil saya ustaz. Waduh, kerok ini. Hahahaha.
Masak iya ustaz tidak berkopiah. Saya kemudian meminta mereka tak panggil saya dengan ustaz. Ujungnya sama seperti panggilan akrab selama ini: Bang Adian.
Saya juga minta mereka santai saja belajarnya. Saya tegaskan, saya bukanlah ustaz atau dosen mereka. Saya rekan belajar untuk berlatih menulis berita, bikin opini, membuat resensi, berlatih menatahkan esai, kolom, dan lainnya.
Saya melatih mereka untuk melakukan reportase.
Yang lumayan beruntung saat tahun 2022. Momentum Festival Pesantren yang diadakan mahad menjadi bahan liputan dua harian yang luar biasa. Pasokan berita dari mahasantri yang liputan sangat banyak.
Istimewa lagi saat ada wisuda. Seorang lulusan terbaik ternyata anak mahad. Menariknya lagi, saat menuju gedung serbaguna lokasi wisuda, wisudawan itu diarak dari mahad menuju lokasi acara.
Lantaran mahasantri tentu saja mereka berselawat dengan lantang dari start lokasi mahad sampai gedung serbaguna kampus setempat.
Devi Putri Lestari, seorang peserta ekskul, kemudian menulis berita itu. Hari itu, berita yang ditulis Devi lumayan viral. Tampilan Google di ponsel kami, berita itu masuk beranda. Devi saya kasih hadiah khusus.
Melatih para gen Z ini menulis memang menarik. Antusiasme mereka tinggi. Saya juga berusaha sesimpel mungkin memberikan penjelasan.
Dia akhir sesi saya ajak mereka menonton film berbasis jurnalisme. Mereka senang. Pengurus mahad juga senang. Sebab, berita kegiatan mahad makin banyak diunggah di web yang saya kelola: wartalampung.id.
Beberapa anggota ekskul bahkan bahagia dan merasa beruntung bisa ikutan ekskul ini. Beberapa memang kuliah di komunikasi tempat saya pernah jadi dosen. Namun sebagian besar berasal dari fakultas lain.
Waktu HUT wartalampung.id tahun 2022 saya gandeng lembaga amil zakat nasional Dompet Dhuafa bikin kegiatan di mahad. Pesertanya dari mahasantri. Beberapa kemudian jadi relawan di lembaga zakat itu.
Saya juga pernah menghadirkan beberapa pembicara tamu untuk mereka. Yang pertama Khamidah Eka Safitri, runner up Putri Hijab Indonesia tahun 2020 asal Lampung, yang juga alumnus Institut Ilmu Quran (IIQ).
Saya juga pernah menghadirkan Meilia Irawan, anak Lampung dan alumnus UI, untuk memberikan motivasi kepada mereka.
Satu-dua anggota ekskul punya prestasi pribadi yang bagus. Di antaranya ada Endar Rismanda. Endar adalah salah satu Duta Bahasa Provinsi Lampung. Kebetulan saat sesi seminar menulis esai bagi Duta Bahasa, saya yang menjadi pemateri.
Lainnya, Shofia Aulia yang pernah juga pidato bahasa Inggris level nasional. Shofia juga terpilih ikut KKN internasional di Malaysia.
Saya juga punya dua reporter tangguh pada diri Ariani dan Annisa. Keingintahuan mereka soal jurnalistik lumayan tinggi. Juga masih ada Ana yang rajin kirim rilis berita.
Saya senang memberikan pengetahuan di mahad ini. Meski sekarang sudah tidak, mudah-mudahan menjadi amal baik buat kami semua. Lumayanlah, lima tahun jadi ustaz tak berkopiah di Mahad Al Jamiah. [ADIAN SAPUTRA]

Tinggalkan Komentar Anda