SDN 1 Siswobangun. | I Putu Doni Marantino

Wartalampung.id, Lampung Tengah – Penurunan tingkat pemahaman siswa dalam menangkap materi menjadi pertimbangan bagi pemerintah untuk mempercepat pembelajaran tatap muka (PTM). Tetap,i dalam penerapannya, PTM harus tetap menggunakan peraturan prokes yang ketat.
“PTM harus segera dilakukan karena pembelajaran daring secara berkepanjangan dapat memperbesar risiko negatif bagi siswa,” kata guru SD 1 Siswobangun, Kecamatan Seputih Banyak, Lampung Tengah, Rusia Pranitasari, Minggu, 12/9/2021.
Risiko atau dampak negatif yang ia maksud salah satunya adalah menurunnya interaksi sosial diantara siswa, serta menurunnya risiko individu mencakup aspek psikis bagi anak.
SDN 1 Siswobangun telah melakukan proses belajar mulai dari 6 September 2021. Mereka menerapkan aturan yang ketat perihal protokol kesehatan agar semua siswa dan guru dapat merasa aman saat proses belajar mengajar terjadi.
“Kami membatasi satu kelas hanya ada 18 murid per hari. Kalau normalnya kan 23 murid di setiap kelas,” kata Rusia Pranita sari.
“Kami juga memberlakukan sistem 2 sesi. Sesi pertama dimulai dari jam 6 sampai dengan jam 9. Sedangkan sesi kedua dimulai dari jam 10 sampai dengan jam 12,” tambah Rusia Pranitasari.
Menurutnya, PTM dapat menghambat terjadinya adanya siswa yang putus sekolah. Sebab, proses belajar secara daring dapat memberikan peluang lebih besar bagi siswa untuk tidak belajar.
Sebagian di antara mereka bahkan tidak dapat menerapkan proses daring. Salah satunya alasannya karena mereka terpaksa membantu orangtua atau tidak memiliki akses internet.
Selain itu, jika proses pembelajaran tatap muka tidak kunjung dilakukan, kata dia, orangtua cenderung tidak bisa melihat peranan sekolah dalam proses belajar siswa. [I Putu Doni Marantino, Mahasiswa Komunikasi FISIP UBL]
