
Oleh Ahmad Mufti Salim
Terkadang kita hanya berfikir bahwa sikap bersyukur itu dilakukan manakala mendapatkan kenikmatan dan kebahagiaan. Sementara bersabar dilakukan pada saat-saat dimana kita mendapatkan sesuatu yang kurang oke, kurang nyaman, kurang baik atau musibah.
Namun demikian sesungguhnya 2 sikap tersebut dapat diterapkan pada berbagai kondisi/ situasi. Apakah kita sedang mendapatkan kebahagiaan/kenikmatan atau kita sedang berada pada situasi kurang baik/musibah, 2 sikap tersebut patut diterapkan.
Misal kita mendapatkan kenaikan pangkat/jabatan. Jamaknya, ini dimaknai sebagai suatu kebahagiaan. Namun bagi kita terutama yg muslim, tetap penting diterapkan dua sikap, bersabar dan bersyukur.
Bersyukur karena ada amanah baru, jabatan baru, ada kepercayaan kepada kita mengemban amanah. Disamping bersyukur, tentu kenaikan pangkat/jabatan harus pula diiringi dengan sikap bersabar. Bersabar tidak menyalahgunakan amanah/pangkat/jabatan yg diembannya dan bersabar untuk tidak memanfaatkan jabatan untuk kepentingan pribadi.
Pun dalam situasi tdk baik, kurang nyaman atau bahkan musibah, tentu patutlah kita menerapkan pula dua sikap, bersyukur dan bersabar.
Umumnya, dalam kondisi kurang baik, tidak nyaman atau musibah, kita selalu diingatkan untuk selalu bersabar. Bersabar dg kondisi tersebut. Namun demikian dibalik sabar tersebut, penting pula menerapkan perilaku syukur.
Bersyukur karena Allah kasih ujian, Allah beri kepercayaan bahwa kita mampu melewatinya. Ada kebaikan-kebaikan ketika musibah atau kondisi tidak nyaman diberikan kepada kita. Sebab janji Allah, Allah tidak akan menguji manusia melebihi kadar kemampuannya. Ini jadi garansi-Nya.
Oleh karena itu, dua sikap mendasar kita yakni bersyukur dan bersabar pasti memiliki kebaikan-kebaikan. Wallahu’alam Bis Shawab.
Penulis adalah calon wali kota Metro, Ketua Umum DPW PKS Lampung
