Sastra

Rintihan Janin

Rintihan Janin

Ilustrasi

Oleh Legta Fitriadi

Aku mengandung sejak menatapmu pertama kali, memang hanya sekedar kagum dan tanda tanya. Pada keindahan santun dan pesona, sejak mentari hanya tersisa sejengkal jemari. Sekilas dan selintas. Tak membekas.
“Setidaknya, ada yang menjaga mataku tetap menyala, menapak marga”

Jemarimu menari, sekotak gadget menyita usilku, “mungkin berkhabar dg sang Arjuna”.
Wajar, Krn Allah menganugerahkan rejeki padaku bisa menatap bidadari, yang ternyata mengiring tugasku.
Sekalipun memang hanya bisa memandang, bahkan tak ada nyali mendekat.

Kandungan rasa memang ada, tak lebih sekedar mengagumi. Menghormati sudah pasti. Terlalu indah utk didekati. Alhamdulillah, meski kutekan rasa mulas Krn _nyidam_ padamu
Ya, dia terlalu indah utk dimiliki.
Tak lebih janin dalam kandungan, tetap terindah didalam rahim, tak perlu dipaksa utk ditimang.

Deburan hati senyap tak bercerita,. sekalipun ribuan huruf tertata berujung tanya. Kepada siapa janin ini kusampaikan?
“Om bangun, dah sandar ”
Lembut tapi sangat bermakna. Gumpalan darah dalam hati. Kandungan menggeliat
Pelan.

Dinihari, pesona dan geliat memancar. Seraut wajah ayu alami, lepas peraduan. Anggun terbalut hijab.
Dan tak pelak tak terelak, janin tumbuh, kuncup merekah. Sedikit. Pelan, tapi pasti.
Aku tak beranjak dari teduhmu.

Adzan shubuh berkumandang.
Bersujud tafakur pada Sang Khalik.

Mentari bersapa,.pada jiwa dan janin dihati. Menatap selayak pandang, sebersit dhanastri di kotak cermin. Janin kian meronta. Pada gerakan acak, gerak yang makin tak beraturan di sanubari.
Rest area 429, kutelan percikan benih janin dari ujung tatap.
Merona lesung, merasuk mendalam.
“Ya Rabb, apa ini………”

Andai tak ada relung hati, tentu tak ada gumpalan darah janin ini.

Kian menapak dan terik menyambut, gulir berderak., detik berganti
Aku tertanam rasa yang bersisa tanya. “Janin siapa ini?”
Bahkan asupan kuah bakso pun, aku lupa dan tak terpesona.
Gemericik membasuh, pori merekah, dan aku yang kian gelisah, pada janin yang tak tentu arah.
Dari segumpal darah, yang menusuk relung jiwa.
Andai tak ada, tentu akan biasa saja.

Sepekan, dari sesuatu yang menggantung.
Pada kata, bahkan tawa. Pada elok dan pesona. Hati yang merintih, berteriak dalam frasa fiksi. Dan andai memilih,.aku tak akan mau mengandung janin ini, Demi Allah.

Hembusan lereng puncak Lawu, menghantar pucuk kerinduan. Mencurimu di ekor mata, hanya menyisakan rasa yang tak terperi. Ujung teras tak mampu meretas batas.
Pada sudut rasa
Pada derap senyap, yang kian terkerat
Ketika rasa yang kian meradang.

Dari Lawu merayap Wilis. Mendaki hati yang aku sendiri tak mampu mencerna. Pada janin yang kian menggeliat. Tanpa mampu kutimang, pada siapa kusampaikan.
Bahkan aku hanya mengenalmu diujung nama.

Janin-janin kian berkembang
Setapak mendekat, mencarimu. Jika air mata dan tawa bisa kupilih
Sesungguhnya janin dalam kandungan ternyata sepilu itu
Hingga saat tawa dan kenangan yg ingin ajkuhadirkan, malahan tetes air mata rindu yang terluapkan
Basah dan rasa tak berdaya.

Celoteh romansa riuh riak. Terkepak mengalun denaya, menggores. Gemericik kalbu menyebut namamu.
Pada rasa dan karsa yang tak mampu kutunda.

Malam bergulir, hembus bayu samudera membelai. Sesuap kuah mie terteguk. Janin kian menggelora. Mengepak bergejolak, bercerita dalam hening. Ketika jemarimu bertaut.
Temaram rembulan membasuh , debur ombak selaksa orkestra alam, menimang lembut janin dengan senyum lledung pipi.
Lentik merona merah mata janin terkejap merekah. Senyum manis terkembang.
Menyapa kerinduan dalam bahasa kalbu.

Derai tawa mengantar janin ke peraduan. Memeluk erat asa.

Purnama berganti.
Bersambut hati memeluk, bertaut.
Pada niat menuju akad dan tekad.
Bertumbuh jain mengurai tawa, antara rindu dan airmata.

Rembulan menggantikan cerita. Dari sekedar nama, menggulung asa. Bertafakur rasa syukur, jemari tanganmu terjulur. Menyambut janin+janin Pranaya.

Ketika janin meredup, sebulir jatuh membelai, alunan lembut terucap, “aku tak mampu memberikan sentuhan pada janji, juga janin yang harus dipaksakan terhenti”

Hamparan asa dan tekad, tersisa sebagai fiksi.
Menguar dan menguap bahkan menguat.
Bongkahan dan geliat janin menggulir membasuh pipi.
Derai tawa canda, mengerut janin menghantar duka yang tak terbaca.
Menimang janin yang baru kemarin kau rindukan, ketika ucapmu, “aku jatuh sejatuh-jatuhnya kepadamu”.

Berderak, berserak
Celoteh yang membekas luka, dan tak terperi.
Kelopak mata janin menguncup, seolah berkata, bahwa manusia berencana, Sang Pencipta Maha Segalanya.

Terbujur diujung hati, janin menggeliat. Pelan nyaris tak terbaca.
“Berlalulah impian hati, kembalilah rasa kepada Sang Maha Perasa”

Separuh Warsa berlalu, janin-janin perlahan menyisakan bayang.
Kurengkuh dan abaikan, mencoba mengesampingkan hati dan bercerita kepada malam.
Mengadu Sang Maha Penentu.
Sepasang yang hanya mampu bertengadah.
Memasrahkan dan mengikhlaskan rona janin yang kian memendar.

Rintihan janin kian nyaris tak terbaca, bahkan mungkin memang sirna.
Bahkan sekadar nafas terhela.

Hembusan nafas janin kian memelan, menyisakan titik-titik yang kian memecah hati.
Andai bisa, mengugurkan niat janin hati,.tentu sudah terjadi.

Gerakan perlahan dan sesaat menghilang. Denyut tertinggal dalam hela.
Tak terenyah perih. Meleburkan bongkahan janin perlahan, mengalir …..
Membujur perlahan
Gerak yang kian samar.

Ya Rabb…
Sang Maha Cinta
Janin kian menguat biru.
Beratut jemari mungil didada.

kujaga anugerah Mu semampuku

Bagikan :

Tinggalkan Komentar Anda