Berita Foto Lampung Barat

Rayakan Hari Gajah Sedunia, Konsorsium Barisan Selatan Galakkan Harmonisasi Satwa-Manusia

Rayakan Hari Gajah Sedunia, Konsorsium Barisan Selatan Galakkan Harmonisasi Satwa-Manusia

Sosialisasi pelestarian gajah. | Dokumentasi

Sosialisasi pelestarian gajah. | Dokumentasi

Wartalampung.id, Suoh – Memaknai Hari Gajah Sedunia, Konsorsium Barisan Selatan bekerja sama dengan Balai Besar TNBBS, WCS-IP, dan PDAM Limau Kunci mengadakan school visit ke dua sekolah dasar di Kecamatan Bandar Negeri, Suoh, Lampung Barat, Jumat (12/8/2022).

Konsorsium yang terdiri dari Yayasan Konservasi Way Seputih, Repong Indonesia, dan Pili) bermaksud mendorong kesadaran terhadap upaya pelestarian gajah melalui edukasi pada siswa sekolah dasar.

Kegiatan ini dilaksanakan di dua sekolah, yakni SDN Sukamarga dan SDN Gunung Ratu. Dua pemateri hadir dari Resor Suoh dan Balai Besar TNBBS.

Kegiatan ini diikuti kurang lebih 200 murid. Kegiatan ini juga bertujuan untuk memperkenalkan potensi kawasan TNBBS yang meliputi satwa dan tumbuhan langka.

Hewan langka yang dikenalkan kali ini adalah gajah. Hal ini bertujuan agar anak-anak sebagai generasi penerus dapat mengenal dan berbagi ruang dengan satwa tersebut sehingga harmonisasi manusia dan gajah dapat terwujud.

Kegiatan ini akan dilaksanakan di empat desa pengangga yakni Matatai, Sumber Agung. Tugu Ratu, dan Gunung Ratu.

Pengendali Ekosistem Hutan Resor Suoh, Balai Besar TNBBS, Wardono mengatakan, gajah merupakan satwa yang memiliki wilayah jelajah yang tetap dan sudah berada di Bukit Barisan sejak lama, bahkan sebelum manusia memasuki kawasan.

Melalui kegiatan ini, pihaknya berharap bisa meningkatkan kesadaran akan pelestarian gajah.

“Menangani konflik gajah-manusia membutuhkan lebih banyak orang  yang peduli gajah. Kami sudah melakukan edukasi kepada masyarakat, dan saat ini masyarakat sudah mulai kompak,” katanya.

Menurut Wardono, pengenalan perlindungan gajah perlu dilakukan sejak dini.  Anak-anak dinilai memiliki memori yang panjang sehingga diharapkan bisa mengetahui cara menyikapi keberadaan gajah sejak dini.

“Dua tahun terakhir ini kami mulai mengedukasi pelajar, khususnya SD.  Anak-anak sebagai generasi penerus dapat mengenal dan berbagi ruang dengan satwa tersebut sehingga harmonisasi manusia dan gajah dapat terwujud,” tambahnya.

Siswa pun tampak senang mengikuti rangkaian kegiatan yang disiapkan. Hal ini ditunjukkan dari antusiasme siswa dalam menanggapi pertanyaan dari pemateri.

Siswa berebut menebak jenis hewan dan tumbuhan langka yang ada kawasan TNBBS.

“Nanti aku mau kasih tahu bapakku,” kata Devi, murid kelas II yang sangat antusias melihat foto para penggiring gajah yang ditampilkan pemateri.

Ayah Devi merupakan salah satu penggiring gajah tersebut.

Manajer Program, Sunarni Widya Astuti, biasa disapa Nani mengatakan, manusia sebagai makhluk yang sempurna, makhluk berakal diharapkan dapat memahami kebutuhan manusia terhadap gajah.

“Jadi manusia harus kita ajak untuk memahami bahwa ada kebutuhan dalam kehidupan kita terhadap gajah. Jadi mau tidak mau, suka tidak suka, masyarakat yang berada di sekitar kawasan, bisa membangun hubungan yang harmonis. Artinya bukan berarti terus rangkulan secara harfiah, tapi bersedia untuk saling berbagi ruang kehidupan,” katanya.

Nani menambahkan, jika kawasan hutan yang dulunya merupakan habitat mereka sudah banyak digarap manusia, artinya gajah juga membutuhkan suplai makanan yang baru.

“Di program kita juga ada pengayaan pakan gajah. Melalui kegiatan ini, kami mengharapkan adanya dukungan keberlanjutan dari pemerintah dan pihak lain yang terlibat,” tambahnya.

Sebagai rangkaian acara, peringatan Hari Gajah Sedunia akan dirayakan kembali melalui agenda layar tancap di Pekon Sukamarga pada Sabtu malam, 13 Agustus 2022, dan Car Free Day  di Liwa pada Minggu, 14 Agustus 2022. []

Bagikan :

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tinggalkan Komentar Anda