Politik

“Piye? Enak Jamanku, Toh?”, Budisantoso Budiman Soroti Ironi Pengangkatan Soeharto Pahlawan Nasional

“Piye? Enak Jamanku, Toh?”, Budisantoso Budiman Soroti Ironi Pengangkatan Soeharto Pahlawan Nasional

Budisantoso Budiman. | Delima Kurnia

Wartalampung.id, Bandar Lampung – Di tengah penetapan Soeharto sebagai salah satu Pahlawan Nasional tahun ini, narasi nostalgia “Piye? Enak jamanku, toh?” kembali ramai di media sosial. Namun, bagi para jurnalis yang hidup di masa Orde Baru, slogan itu justru menimbulkan ironi.

Hal tersebut disampaikan oleh jurnalis Antara, Budisantoso Budiman, dalam diskusi publik yang diselenggarakan oleh Teknokra dalam judul “Merebut Narasi Kepahlawanan: Antara Fakta, Ingatan, dan Disinformasi” yang diselenggarakan, Rabu, 13/11/205.

Budisantoso menuturkan, masa pemerintahan Soeharto merupakan periode paling gelap bagi kebebasan pers. Banyak media dipaksa tutup, sementara wartawan yang mencoba menyuarakan kebenaran kerap diancam, dibatasi, bahkan di-blacklist.

“PWI dulu adalah satu-satunya organisasi wartawan yang diakui negara. Semua media harus disahkan pemerintah, dan ketika tulisan kita dianggap berseberangan, media bisa ditutup sewaktu-waktu. Itu adalah bentuk kontrol dan pembungkaman,” ujar mantan Sekretaris Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bandar Lampung itu.

Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa kebebasan pers pada masa itu sangat terbatas.

Hanya media yang sejalan dengan kepentingan pemerintah yang dapat bertahan, sementara kritik atau suara rakyat kerap disensor sebelum terbit.

Perwakilan dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Bandar Lampung Prabowo Pamungkas dalam diskusi itu menambahkan, masih banyak masyarakat yang menganggap Soeharto sebagai sosok pemimpin yang baik karena keterbatasan informasi di masa lalu.

“Banyak orang tidak tahu sisi kelam masa itu karena akses informasi dibatasi. Sehingga yang tersisa dalam ingatan publik hanyalah stabilitas dan citra kesejahteraan semu,” tambah Prabowo.

Diskusi ini juga menekankan pentingnya peran jurnalis muda dalam menulis kembali sejarah dalam membantu masyarakat mengingat kembali masa kelam kebebasan pers.

Melalui tulisan dan pemberitaan yang berimbang, jurnalis muda diharapkan mampu menjadi penyalur kebenaran sekaligus penjaga ingatan kolektif bangsa. [Delima Kurnia]

Bagikan :

Tinggalkan Komentar Anda