Rafista Deviyanti
Oleh Rafista Deviyanti, Dosen Pendidikan Bahasa Inggris FKIP Unila
Tipe orang tua yang seperti apakah Anda?
Orang tua A: “Anakku umur 4 tahun sudah les Inggris 3x seminggu, plus online class, tapi kok malah takut kalau diajak bicara Inggris?”
Atau orang tua B: “Anak saya kelas 3 SD belum pernah les, tapi lancar nyanyi lagu Inggris dari YouTube. Apa saya kurang perhatian ya?”
Sebagai dosen bahasa Inggris yang juga pernah mengajar bahasa Inggris untuk anak-anak selama beberapa tahun, saya sering menemui kedua tipe orang tua ini. Keduanya sama-sama peduli, hanya caranya berbeda.
Pelajaran dari Keponakan Saya
Saya tidak punya anak sendiri, tapi saya punya keponakan yang sejak kecil saya ajak belajar bahasa Inggris. Yang saya lakukan sederhana: saat bermain, saya sisipkan kosakata bahasa Inggris.
Saat nonton kartun, saya pilihkan yang berbahasa Inggris. Saya sering membacakan cerita pendek berbahasa Inggris.
Kemudian secara alami, dia sering bertanya “Tante, ini bahasa Inggrisnya apa?”, saya selalu jawab dengan antusias, bukan balik tanya “Coba tebak dulu!”
Hasilnya? Dia tidak merasa sedang “belajar”. Bahasa Inggris jadi bagian alami dari kesehariannya.
Yang Saya Saksikan di Kelas
Anak-anak yang dibebani ekspektasi tinggi, yang harus nilai sempurna, harus juara lomba, justru sering merasa cemas. Mereka pandai mengerjakan soal tes, tapi takut berbicara. Takut salah. Takut mengecewakan.
Sebaliknya, anak-anak yang diizinkan belajar dengan gembira, yang boleh melakukan kesalahan, dan boleh mencoba, mereka jadi lebih berani berkomunikasi. Grammar-nya mungkin belum sempurna, tapi mereka percaya diri.
Apa Kata Penelitian?
Pengamatan saya ini didukung oleh penelitian Nikolov (1999) yang mengikuti tiga kelompok anak dari umur 6 sampai 14 tahun selama periode 1977-1995. Yang unik, dia bukan cuma peneliti, tapi juga guru mereka.
Nikolov bertanya setiap tahun kepada anak-anak: “Kenapa kamu belajar bahasa Inggris?”
Anak 6-8 tahun memberikan alasan yang lucu dan jujur: “Karena seru!” “Gurunya baik dan ramah” “Gurunya pendek” “Kita cuma main-main” “Gampang”
Di sini terlihat bahwa anak-anak kecil fokus pada hal-hal konkret, bahkan sampai detail fisik guru mereka! Mereka belum berpikir tentang masa depan. Yang penting bagi mereka adalah pengalaman here and now (di sini dan sekarang).
Anak 8-11 tahun mulai berubah: “Kelasnya nggak boring” “Gurunya nggak marah-marah” “Biar bisa ngomong” (mulai muncul alasan praktis, tapi masih samar)
Anak 11-14 tahun lebih pragmatis: “Biar aku bisa” “Penting kan bisa bahasa asing?” “Nanti berguna” “Kalau traveling bisa ngomong”
Yang menarik: meski anak remaja sudah paham bahasa Inggris berguna, tapi mereka tetap butuh kelas yang menyenangkan. Bahkan di usia 11-14 tahun, banyak anak masih bilang mereka belajar karena “kelasnya seru” atau “nggak perlu takut di kelas”.
Hasilnya setelah 8 tahun? Lebih dari setengah anak-anak dalam penelitian Nikolov lulus ujian bahasa Inggris tingkat menengah di umur 16 tahun. Banyak yang terus belajar bahasa lain.
Bahkan 10 tahun kemudian, mereka masih ingat dengan senang masa belajar bahasa Inggris dulu dan masih terus belajar bahasa asing.
Jadi, Apa yang Seharusnya Dilakukan Orang Tua?
- Perhatikan Sinyal Anak
Kalau anak excited, itu bagus. Kalau anak mulai menghindar atau tertekan, itu alarm.
- Fokus pada Proses, Bukan Hasil Instan
Belajar bahasa butuh waktu. Anak 4 tahun nggak perlu bisa ngobrol lengkap. Ada waktunya untuk setiap tahap.
- Buat Bahasa Inggris Jadi Menyenangkan
Nonton film kesukaan dalam bahasa Inggris, nyanyi lagu sederhana, atau main game. Saat belajar terasa kayak main, anak akan terus pengin belajar.
- Tidak Harus Sempurna
Anda tidak perlu jadi guru. Cukup jadi pemandu sorak (cheerleader). Apresiasi usaha anak. Tunjukkan antusiasme saat anak belajar hal baru.
Pertanyaan yang perlu Anda tanyakan
Bukan: “Apakah anak saya sudah cukup baik?”
Tapi: “Apakah anak saya masih enjoy belajar bahasa Inggris?”
Karena anak yang senang belajar akan terus belajar sepanjang hidup. Anak yang trauma akan berhenti begitu tidak ada yang mengawasi lagi.
Jadi, Anda ingin jadi orang tua yang seperti apa? []

Tinggalkan Komentar Anda